Cinta Pertama
Dengan nafas terengah-engah Didi berlari menghampiri bus yang saat itu sudah berhenti dihalte.
Semua penumpang yang ada dihalte tersebut sudah naik ke dalam Bus.
"Woii bang, tunggu"
"Tungguin Bang, woiii" teriak Didi sambil berlari dan melambaikan tangannya.
Tapi supir bus tidak menghiraukannya, ditekannya kopling dan ditariknya tuas gigi, bus itu lalu pergi meninggalkan Didi yang berlari terengah-engah.
Didi menghentikan larinya, dan membungkuk sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah.
Baju seragam sekolah nya pun basah dengan keringat yang mengucur .
"Huuhaahuuhaaahuuuhaaa", - Nafas Didi terdengar begitu kencang.
Didi melihat jam ditangannya, yang saat itu menunjukkan pukul 06.30 WIB.
Hari ini di jam pertama ada ulangan matematika, siswa yang telat tidak diperbolehkan mengikuti ulangan.
Tidak jauh dari Halte bus ada pangkalan Ojek.
"Wah ada ojek tuh" Ucap Didi sambil berjalan kearah pangkalan ojek.
"Bang Ojek bang" Ucap Didi
"Kemane dek?" Tanya salah satu tukang ojek
"SMK Harapan Bangsa bang" Ucap Didi
"10 Rebu yeee" Ucap abang ojek memberikan harga ojek
"Yailah bang, anak sekolah saya bang"
"5 Rebu deh" Jawab Didi
"Iye gue tau lo anak sekolahan"
"7 Rebu, gak pake kurang"
"Mau gue angkut, gak mau Jalan kakiiiii" Ucap abang ojek dengan wajah yang sok jual mahal.
Didi langsung melihat isi kantong nya, untuk menghitung uang jajan yang ia miliki.
"Yailah duit jajan cuma 15 Ribu"
"Kalo naik Ojek, 7 Ribu"
"Sisa 8 Ribu"
"Terus entar siang gue makan apa?"
"Terus Pulangnya Gimana?"
"Masa gue jalan kaki lagi?" Gerutu Didi sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Didi melihat jam tangannya lagi, pukul 06.40 WIB.
"Yauda deh" Jawab Didi dengan nada pasrah
"Nah gitu dong"
"Jangan kelamaan mikir"
"Ubanan lo"
"Hayo dah naek, nih pake" Ucap Tukang ojek nya sambil tertawa meledek Didi, dan memberikan helm untuk digunakan.
Jalanan jakarta setiap hari senin, emang gak pernah bisa dikondisikan.
Gak tau kenapa, setiap hari senin berasa seluruh manusia yang ada di mukabumi numplek semua di Jakarta.
Maceeeettt banget .
"Bang ngebut dong"
"Udah telat ni saya" Ucap Didi teriak ke abang ojek nya .
"Lo yang telat"
"Gue yang keder"
"Yaude pegangan, gue mau ngebut" Jawab Abang gojek nya sambil menaikan gigi dan menancapkan Gas dengan kecepatan tinggi.
Di depan sekolah bertingkat tiga abang ojek menghentikan motor nya.
"Kok berenti bang?" Tanya Didi yang heran kenapa motornya berhenti
"Lah, ude sampe kita" Jawab oabang ojek tersebut
"Sampe?"
"Mana sekolahannya bang?" Ucap Didi kebingungan
"Lah itu, depan muka lo apaan ?"
"Sekolahan bukan ?" Ucap abang ojek nya dengan penuh keyakinan
Didi langsung menarik nafas setelah membaca nama sekolahan tersebut "SMK Harapan Jaya"
"Astagfirullaaaaah"
"Bang, coba baca itu nama sekolahannya" Ucap Didi kesal, menyuruh abang ojek nya membaca nama sekolah tersebut.
"SMK Harapan Jaya" Ucap abang ojek nya .
"Naahhh"
"Tandanya apa ?" Tanya didi yang gregetan dengan abang ojeknya
"Ya tandanya udah sampe toong" Jawab Abang ojek yang sepertinya belum sadar kalo ternyata salah mengantar Didi.
"Abang, sekolah saya namanya SMK Harapan Bangsa"
"Bukan Harapan Jaya" Ucap Didi sambil menepok jidatnya .
"Astagfirullah"
"Berarti gue salah dong yak?" Ucap abang ojek yang saat itu mulai sadar kalo salah tujuan.
"Iyaaaaa" Jawab didi sambil menelan ludah dan mengelus dada nya
Sampai akhirnya Didi sampai disekolah, dan melihat jam tangan nya yang sudah menunjukkan pukul 07.15 WIB.
"Yah telat" Gerutu Didi yang sambil lari masih menggunakan helm ojek nya.
"Woiii, tong"
"Bayar dulu" Teriak abang ojeknya, membuat Didi menengok dan kembali menghampirinya .
"Oiaa" Ucap Didi pelan, Didi kembali menghampiri abang ojek nya sambil merogo uang disaku nya .
"Nih bang" Didi memberikan ongkosnya, dan kemudian langsung berlari lagi
"Woi tong"
"Helm gue itu, copot dulu" Teriak ojeknya, yang membuat Didi menengok dan kembali menghampiri nya.
Didi menarik nafas dalam-dalam dan memejamkan matanya lalu membalik badannya sambil mencopot helm nya.
"Nih bang"
"Ada lagi yang kurang ?" Jawab Didi dengan penuh emosi
Abang gojeknya hanya menggelengkan kepalanya saja .
Didi menarik nafasnya dan mengeluarkan nya sekaligus, lalu membalikkan badannya dan berlari menuju gerbang sekolahan.
"Yailah udah digembok lagi" Gerutu Didi sambil memegangi pagar sekolahan nya.
"Pembacaan undang-undang dasar 1945" Sekilah terdengar upacara sudah dimulai dan sudah sampai pembacaan UUD 1945.
Didi langsung menuju jalan pintas yang biasa ia gunakan untuk memanjat kedalam sekolahan.
Saat Didi berhasil memanjat tembok belakang sekolahannya, Didi langsung berlari menuju kelas.
Namun sayang, saat Didi berdiri sedang memastkan tidak ada guru yang melihatnya telat, dibelakangnya ada seseorang yang menepuk pundaknya.
Didi spontan membalikkan badannya.
"Astagaaa" Ucap Didi kaget melihat Ibu Nining Kepala Sekolah yang saat itu memergokinya telat.
"Didii"
"Mau kemanaa?" Ucap Ibu Nining sambil menarik cambangnya Didi dan menariknya menuju lapangan tempat upacara berlangsung.
"Auu auu auu"
"Aduuu duuh duuh Aduu bu"
"Ampun bu, ampun" Ucap Didi ke Ibu Nining dengan raut wajah yang menahan perih nya cambang rambutnya ditarik
"Masuk kedalam barisan upacara" Ucap Ibu Nining sambil menunjuk kearah barisan upacara.
Setelah beberapa menit kemudian upacara selesai.
Ibu Nining menyuruh Didi menemuinya diruangannya.
Sebelum Didi datang menemuinya, Ibu Nining meminta catatan keterlambatan siswa/i dari guru piket.
"Permisi Bu" Ucap Didi
"Masuk" Jawab Ibu Nining
Ibu Nining adalah Kepala Sekolah yang paling ketat dengan aturan dan yang paling bawel di sekolah Harapan Bangsa, dan kebetulan hari itu Ibu Nining mencoba untuk mengecek setiap ruangan untuk memastikan tidak ada siswa/i yang tidak mengikuti Upacara Bendera hari itu.
Didi menghampiri Ibu Nining dengan kepala ditundukan kebawah .
"Kenapa kamu telat Di?" Tanya Ibu Nining
"Maaf Bu, tadi pas naik ojek"
"Ojeknya salah anter saya bu"
"Abangnya malah anter saya ke SMK Harapan Jaya" Ucap Adi yang masih menundukkan kepalanya.
Ibu Nining melihat buku keterlambatan, di buku tersebut tertera nama DIDI yang paling banyak, Ibu Nining hanya menarik nafas melihat kelakuan siswa nya .
"Baju gak dimasukin, Dasi gak dipake, celana gantung, sepatu putih" Ucap Ibu Nining sambil menunjuk pakaian Didi yang tidak sesuai aturan.
"Pelajaran siapa kamu di jam pertama ?" Tanya Ibu Nining dengan nada jutek nya.
"Pelajaran Matematika Bu"
"Pak Suhardi" Jawab Didi yang masih menundukkan kepalanya .
"Bagus, Pak Suhardi hari ini gak masuk"
"Jaid kamu bisa saya Hukum"
"Buku telat isinya nama kamu semua"
"Emang ini sekolahan nenek moyang kamu apa?" Ucap Ibu Nining
"Pak Suhardi gak masuk bu ?" Tanya Didi kaget, dan memastikan kembali.
"Ia"
"Sekarang kamu kelapangan"
"Terus lari 15 puteran" Ucap Ibu Nining memberikan Didi hukuman
Didi membuang nafas lesu.
"Udeh bela-belain ngejar bus, naik ojek abangnya salah"
"Sampe sekolahan gerbang digembok"
"Pas manjat, malah ketangkep basah sama Bu Nining"
"Pak Suhardi nya gak masuk pulaaa"
"Ulangan juga bataall"
"Kenapa harus ada ulangan dihari senin sih yaaa Tuhaaaan" Ucap Didi dalam hatinya, yang sambil menggaruk-garukan kepala nya dan menaikkan kedua alisnya.
"Udah sana kelapangan"
"Nunggu apa lagi"
"Kurang hukumannya ?" Ucap Ibu Nining.
"Jangan Bu"
"Iaa, ini saya juga udah mau kelapangan" Ucap Didi, yang langsung bergegas meninggalkan Ibu Nining menuju ke lapangan.
Didi melakukan hukumannya, berlari hingga 15 putaran dilapangan, dan kembali ke kelasnya untuk mengikuti pelajaran yang lainnya .
Bel istirahat berbunyi, Didi menghampiri ke 4 sahabatnya yang sudah lebih dulu meninggalkan kelas menuju kantin "Ujang, Maman, Bayu dan Zidan"
"Woiii Brooooo" Ucap Didi ke para sahabatnya yang sedang duduk dikantin sekolah, dan melakukan tos seperti biasanya.
"Widihhh Didaaayy Boskuuuuuu" Ucap Ujang dengan nada meledek
"Jadi gimana, lari 15 kali muterin lapangan nyaa Di?" Tanya Bayu meledek Didi yang membuat gelak tawa diantara mereka.
"Kacau ni hari"
"Udah udak-udakan sama Bus"
"Naik Ojek, abang ojek nya malah nganter gue ke SMK Harapan Jaya"
"Harapan Jaya woii" Ucap Didi dengan penuh nada emosi menceritakan yang ia lalui pagi ini .
"Buseett"
"Harapan Jaya"
"Gak sekalian ke Harapan Indah" Ucap Maman menanggapi cerita Didi
"Harapan Indah mane tuh man?" Tanya Ujang dengan polosnya .
"Situ, bekasi boooskuu" Jawab Maman dengan nada bercanda
"Wanjiirr, Jauuhhh" Jawab Ujang .
"Eh pada mau kemana pulang sekolah entar?" Tanya Zidan kepada mereka
"Ah gak ada duit gue"
"Gara-gara naik ojek tadi"
"Ini aja, gue mau minta lo bayarin makan Dan" Jawab Didi dengan wajah yang kesal
"Yaudah sih nyantai aja"
"Kayak sama siapa aja lo" Jawab Zidan sambil melempar tisu kearah Didi
"Nogkrong dulu di warung Ucok lah"
"Sambil nunggu anak-anak SMA Pelita pulang"
"Lumayan anak-anak cewek SMA PELITA cakep-cakep bro" Jawab Maman dengan nada sok cool .
"HAHA, Butek lo ya Man dimari"
"Tongkat lagi, tongkat lagi yang diliat" Jawab Didi yang membuat gelak tawa mereka pecah.
"Yaialah"
"Emang nya lu pada, enggak?"
"Tiap hari yang diliat batangan mulu" Jawab Maman yang membuat mereka semua semakin tertawa.
"Batangan"
"Keras dooong Man?"
"HAHAHAHAHHAA" Jawab Bayu sambil tertawa ngakak .
"Ada Man yang gak Batangan"
"Tuh Bu Nining" Sambung Ujang sambil tertawa
"Enggak aah"
"Entar gue disuruh ngiterin lapangan mulu" Jawab Maman sambil meledek kearah Didi.
"Sialan lo Man" Jawab Didi sambil tertawa .
SMK Harapan bangsa adalah Sekolah Menengah Kejuruan dengan Jurusan Otomotif, Mesin , Listrik, jadi wajar aja kalo 1 sekolah 98% isinya kaum adam semua.
Begitulah mereka setiap berkumpul, selalu punya bahan untuk dijadikan candaan.
Diantara mereka berempat Maman lah yang paling cepat emosi, tempramen nya lebih tinggi daripada yang lain, sedangkan Zidan sebagai penengah jika diantara mereka ada yang bertengkar.
Didi, Bayu dan Ujang memiliki Sifat yang Cuek yang gak terlalu perduli sama orang lain. Makanya setiap mereka bercanda gak pernah mau ambil pusing soal candaan yang selalu dilontarkan masing-masing dari mereka, tetapi mereka berlima selalu kompak dan saling menolong dan menjaga satu sama lain.
-----------
Bel pulang berbunyi, wajah sumringah itu terlihat dari masing-masing siswa yang satu persatu meninggalkan kelasnya.
"Woii jadi gak nih" Tanya Zidan ke Ujang, Didi, Maman dan Bayu yang duduk dibelakangnya.
"Jadiin lahhh" Jawab Ujang Santai
"Berangkaaaaaattt" Jawab Bayu teriak sambil menunjuk kearah pintu.
"Ayo Di" Ucap Zidan sambil merangkul pundak Didi
Didi mengikuti ke empat sahabatnya tersebut, untuk nongkrong di warung Ucok.
Antara SMK Harapan Bangsa dan SMA Pelita jaraknya tidak lah jauh, dan warung Ucok adalah sebuah restoran sederhana yang biasa digunakan tempat nongkrong bagi anak-anak SMK Harapan Bangsa dan SMA Pelita yang biasa nya mau ngumpul-ngumpul sebelum pulang .
"Tuh kan Day, gue bilang apa"
"Anak-anak cewek SMA Pelita Cakep-cakep kan?" Ucap Maman menyenggol perut Didi dengan sikutnya yang saat itu duduk disebelahnya.
"Aw"
"Biasa aja sih Man"
"Gak usah nyikut perut gue juga"
"Sakit Gilaaa" Ucap Didi sambil menoyor kepalanya Maman.
Bayu yang sedang asik menyeruput minumannya tiba-tiba tersedak melihat sekumpulan cewek-cewek cantik SMA Pelita yang berjalan kearah mereka.
"Jang, jang mereka nyamperin kita?" Tanya Bayu yang tidak mengalihkan pandangannya dari sekumpulan cewek-cewek yang sedang tertawa-tawa itu.
"Si kampret"
"Biasa aja komuk lo" Ucap Ujang menoleh kearah Bayu dan melemparkan es batu kewajahnya.
"Aduh"
"Dingin anjir" Jawab Bayu kearah Ujang sambl memegang pipi nya yang terkena es batu
"Sorry, bangku nya dipake gak ?" Tanya salah satu cewek siswa SMA Pelita.
"Enggak kok, enggak"
"Pake aja" Jawab Bayu sambil tersenyum
"Gue ambil yah" Ucap cewek itu sambil tersenyum kearah Bayu .
"Iya ambil aja"
"Bawa pulang juga gapapa" Jawab Bayu sambil tersenyum dengan pandangan yang tidak berkedip memandangi cewek itu .
Ujang yang duduk disebelah Bayu menginjak kaki Bayu, untuk memberikan petanda agar tidak terlalu kelihatan kalau tujuan mereka kesana adalah untuk memperhatikan cewek-cewek dari SMA Pelita.
"Aw"
"Apaan sih Jang"
"Sakit kampret" Ucap Bayu refleks, membuat cewek yang mengambil bangku itu tertawa melihat mereka.
"Ia bawa aja bangkunya, gapapa"
"Kita cuma ber-5 juga kok" Ucap Ujang mengakhiri perbincangan Bayu dan Cewek tersebut.
Didi yang duduk disebelah Maman, diam-diam memperhatikan salah satu cewek dari sekumpulan cewek SMA Pelita itu, matanya tak bisa berpaling ke yang lain, cewek itu menguncir kuda rambut lurus nya yang panjang, wajahnya imut dengan poni depan yang menambah keimutan wajahnya, dan tawa nya yang membuat wajah cewek itu semakin terlihat begitu sempurna dimata Didi.
"Diiii"
"Hellooo DIDAAAYYY" Panggil Maman teriak dikuping Didi yang saat itu memperhatikan Didi yang sedang asik memperhatikan salah satu cewek-cewek itu.
Didi tersentak mendengar Maman memanggil namanya dengan teriak, dan ke empat temannya tertawa melihat Didi yang kaget diteriaki Maman.
"Sialan lo Man"
"Kaget gueee" Jawab Didi emosi.
"Ya lagian daritadi bengong aje"
"Ngeliatin yang mane si Di?"
"Biar gue bantuin" Ucap Maman yang langsung menoleh kearah cewek-cewek itu .
"Yang rambut nya pendek Di?" Tanya Maman
Didi menggeleng.
"Jangan yang tadi nanya bangku Di"
"Itu inceran gue" Ucap Bayu serius.
Didi menggeleng lagi.
"Yang pake kacamata Di ?" Tanya Maman
"Jangan dong Di"
"Itu ude gue perhatiin dari tadi"
"Manis juga Hahahaha" Ucap Ujang sambil tertawa
Didi masih menggelengkan kepalanya .
"Kalo bukan yang 3 itu, berarti yang disebelah cewek yang tadi minjem bangku"
"Yang rambut panjang yang dikuncir kuda"
"Fix yang itu"
"Ude gak ada lagi soalnya"
"Lo kalo masih ngegeleng juga, gue mandiin lo" Ucap Maman dengan nada bercanda nya .
Didi hanya tersenyum, memberikan isyarat bahwa apa yang dikatakan Maman memang benar.
"Boleh juga Day, selera lo" Ucap Maman sambil mengangguk anggukan kepalanya .
"Cabut yuk ahh, udah sore" Ucap Zidan sambil melihat jam tangannya.
"Yuk" Jawab Ujang mengangguk
"Ude jangan diliatin mulu"
"Iler itu elap" Canda Zidan ke Didi sambil menimpuk sedotan kearah Didi.
Zidan menuju kasir untuk membayar makanan dan minuman yang dipesan oleh teman-temannya, Bayu dan Ujang lebih dulu keluar tempat itu, sedangkan Didi dan Maman menunggu Zidan, dan setelah Zidan selesai mereka meninggalkan tempat.
Saat Didi beranjak dari tempat duduknya, cewek yang menjadi pusat perhatian Didi secara tidak sengaja melihat kearah Didi, dan tanpa sadar Didi memberikan Sebuah Senyuman ke Cewek itu yang tanpa disangka senyuman Didi dibalas dengan senyuman manis cewek itu yang membuat Didi tersenyum kecil, sambil melangkah melewati cewek itu menuju sahabat-sahabatnya diluar, Cewek itu masih memperhatikan Didi sampai keluar dari restoran tersebut.
-------
Pagi itu, gerimis kecil membasahi jalan yang dilalui Didi.
Didi berlari kecil kearah halte bus tempat biasa Didi menunggu Bus untuk berangkat sekolah.
Di halte itu Didi melihat sosok cewek cantik yang ia lihat beberapa hari yang lalu di warung ucok saat bersama teman-temannya.
Cewek itu berlari menyebrangi jalan kearah halte bus tempat Didi menunggu.
Dihalte itu yang tadinya hanya ada Didi sendiri yang menunggu Bus, sekarang ditambah cewek ini.
Jadi mereka berdua menunggu bus yang kemungkinan sama, karena sekolah mereka yang berdekatan.
"Sorry"
"Lo yang kemaren di warung ucok bukan sih?" Tanya Didi tersenyum dan mengangkat kedua alisnya kearah cewek itu.
"Kemaren?" Tanya cewek itu kembaali sambil mengingat-ingat.
"Ehmm kemarennya sih"
"Yang gue ... senyum.... sama... lo.."
"Terus lo bales senyum gue" Tanya Didi berusaha mengingatkan cewek itu, dengan raut muka yang tegang karena takut cewek itu melupakannya begitu saja.
"Oh ia ia"
"Gue inget, gue inget"
"Yang rame-rame itu ya?" Jawab Cewek itu sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Iya bener"
"Berlima" Jawab Didi tersenyum dan mengangguk.
"Gue Didi" Ucap Didi, memberanikan dirinya untuk memperkenalkan diri sambil mngulurkan tangan kanannya, berharap disambut oleh cewek itu.
"Gue Amira" Ucap Amira sambil tersenyum, yang menyambut uluran tangan Didi untuk berkenalan.
"Bus nya udah dateng" Ucap Amira dengan wajah bingung sambil tertawa kecil, berharap tangannya segera dilepaskan dari genggaman tangan Didi.
Didi yang saat itu terpaku dengan Amira, kaget mendengar ucapan Amira dan langsung melepaskan tangan Amira dari genggamannya .
"Oh Sorry" Ucap Didi yang langsung melepaskan tangan Amira.
Saat itu Bus sangat padat, Didi dan Amira tidak mendapatkan duduk. Bahkan untuk berdiri saja mereka harus berdesakan. Didi berdiri diamping Amira seolah menjadi malaikat pelindung Amira, yang menahan setiap dorongan yang ada dengan dirinya, agar Amira tidak terkena dorongan.
----
"Pagiii Brooooooooooo" Teriak Didi yang saat itu baru tiba didalam kelas, dan melihat ke 4 sahabatnya berkumpul dibangku belakang, sambil menggebrak-gebrakan mejaa membuat suasana menjadi riuhh saat itu.
"Idiiiih Didaaay Boskuuuuu" Jawab Ujang yang juga menambahkan keriuhan kelas saat itu.
"Tumben lo udah dateng, mimpi apaan semalem ?" Tanya Bayu sambil memberikan tos seperti biasanya.
"Mimpi basah doi broooo" Jawab Maman membuat gelak tawa pagi itu.
"Ahhh Sialan lo Man" Jawab Didi tertawa sambil menoyor kepala Maman
"Pokokknya Mulai besok dan seterusnya"
"Gue gak bakalan dateng telat lagi" Sambung Didi dengan wajah sumringah.
"Idii idii idiiii"
"Ngerriiiiii"
"Ente kenape Diday?" Ucap Zidan yang saat itu langsung memegang jidat temannya dengan tangan kanannnya, untuk memastikan bahwa Didi memang baik-baik saja.
"Jadi giniiii" Ucap Didi sambil melirik ke semua sahabatnya, membuat ke 4 sahabatnya itu penasaran dan terdiam menunggu kelanjutan omongan Didi,
"JASUKEEEEE"
"JANGAN SUKA KEPOOOOO" Ucap Didi sambil tertawa kencang, membuat semua sahabat yang sudah menunggu kelanjutan ceritanya kesal .
"Anak Setaaaann"
"Gue kira mau cerita apaan" Ucap Maman kesal sambil memukul wajah Didi dengan buku tulis.
"Ehhh iaa iaa iaaa"
"Serius serius, ini beneran serius" Ucap Didi kembali meyakinkan ke 4 sahabatnya untuk kembali mendengarkan ceritanya .
"Lo pada inget gak, sama salah satu cewek yang gue liatin waktu itu di warung ucok?" Tanya Didi ke sahabat-sahabatnya, membuat mereka menjadi semakin penasaran.
"Yang pake poni bukan sih?" Jawab Zidan serius.
Didi mengangguk sambil tersenyum membalas pertanyaan Zidan.
"Nahhh, tadi pagi"
"Gue ketemu sama itu cewek"
"Di halte bus tempat gue biasa nunggu" Jawab Didi seriuss .
"Teruss Di?"
"Lo ajak kenalan gak ?" Tanya Ujang penasaran.
"Yaialah, kesempatan didepan mata anjir"
"Masa gue lepasin" Jawab Didi dengan nada PD nya .
"Terus nama nya siapa ?" Tanya Maman penuh penasaran
"Namanya AMIRA" Jawab Didi sambil tersenyum .
"Tsaeeelaaaahhhhh, AMIRAAAAA" Jawab ke 4 sahabatnya kompak, memecahkan suasana kelas yang tadinya hening mendengarkan cerita Didi, menjadi riuh kembali dengan segala macam guyonan-guyonan mereka untuk meledek Didi.
Hari demi hari berlalu, sejak saat Didi bertemu dengan Amira di Halte, Didi selalu berusaha bangun lebih pagi untuk menunggu Amira di Halte, agar bisa berangkat bersama-sama. Setiap pulang sekolah pun Didi paling bersemangat jika diajak berkumpul para sahabatnya ke warung ucok .
------
Sudah beberapa hari belakangan, Didi tidak bertemu Amira di halte bus.
Dari pukul 5 Pagi, hingga pukul 06.30 pagi Didi habiskan waktu untuk menunggu Amira di halte bus, sambil melihat kearah pertama kali Didi melihat Amira disebrang halte itu, sambil sesekali menoleh ke kanan, dan kirinya. Namun sayang belakangan Amira tidak nampak dipandangannya.
"Diiiii...."
"Didiiiii" Panggil Zidan dari arah belakang Didi.
Didi menoleh kearah Zidan yang saat itu sedang mengejarnya menuju pintu gerbang sekolah, Didi berdiri menunggu Zidan datang menghampirinya .
"Diii, tadi didepan gue ketemu Amira" Ucap Zidan sambil menepuk pundak Didi dan mengatur nafasnya.
"Amira?" Tanya Didi memastikan nama yang disebut oleh sahabatnya itu.
"Iaa, Amira"
"Anak PELITA"
"Kedemenan looo" Jawab Zidan dengan penuh keyakinan.
Didi langsung melihat disekitar mereka, mencari sosok wanita yang sudah beberapa hari belakangan ini tidak ia temui di halte bus.
"Udah gak usah dicariin"
"Orang nya udah gak ada" Ucap Zidan sambil merangkul Didi dan mengajaknya masuk kedalam sekolah.
"Nih, tadi Amira cuma nitipin ini ke gue" Ucap Zidan, sambil memberikan 1 buah kertas sobekan dari buku tulis.
Didi langsung meraihnya dari tangan Zidan, dan membuka nya cepat-cepat .
"0812xxxxxxxx"
"AMIRA" Didi membaca nya dalam hati, sambil tersenyum-senyum.
Zidan yang melihat Didi tersenyum-senyum sendiri melihat kertas yang diberikan Amira, langsung merebut kertas itu kembali dan membacanya .
"Tsaelaaahhhh Nomor HP" Ucap Zidan sambil tertawa.
Didi yang saat itu melihat ulah temannya yang menyebalkan, langsung mengambil kembali kertas yang ada ditangan Zidan, dan langsung memasukannya kedalam kantong celana.
"Lo jangan seneng dulu Di" Ucap Zidan yang tiba-tiba membuat Didi menoleh kearahnya.
"Tadi, pas Amira ketemu gue didepan, dia gak sendirian Di"
"Dia dianterin sama cowok naik motor gede"
"Kalo gue liat dari jaket yang dipake tuh cowok sih, kayaknya doi anak STM 17 deh" Ucap Zidan sambil menepuk perutnya Didi .
Didi yang mendengarkan cerita Zidan, hanya terdiam sambil merengutkan jidatnya .
"Wolles Broo, kalo jodoh mah gak kemane" Ucap Zidan sambil menepuk-nepuk pundak Didi
"Tapi kalo lo nya gak kejar, ya kemane-mane itu jodoh jadinye" Canda Zidan sambil tertawa dan bergegas meninggalkan Didi .
Didi hanya terdiam melihat kelakuan temannya itu .
----
Bulan yag terang itu membuat malam menjadi lebih terang .
Didi yang saat itu baru selesai mandi dan menggosok-gosokan handuk dikepalanya mengingat seusatu.
Mata Didi langsung tertuju ke kantong celana sekolah nya, dan langsung mengambil celana sekolah tersebut dan merogoh kantong nya, Didi mendapati 1 Robekan kertas yang lecak tertulis nomor HP Amira.
Diputar-putarnya kertas itu dengan tangannya, sambil berfikir untuk menghubungi Amira atau tidak .
"SMS"
"Engak"
"SMS"
"Enggak"
"SMS aje deh" Grutu Didi sambil meraih HP nya diatas tempat tidur .
"Hai Ra" Dengan ragu Didi mengirim SMS tersebut ke Amira.
Sambil menunggu SMS balasan dari Amira, Didi mengetok-ngetokkan jarinya ke HP nya .
Sesekali Didi berjalan mondar-mandir dikamarny.
Tidak beberapa Amira langsung mnejawab SMS Didi .
"Hai"
"Siapa ya ?" Balas Amira
"Ini Gue Didi anak SMK Harapan Bangsa, Ra" Balas Didi kembali
"Eh Didi"
"Gue fikir, temen lo gak nyampein pesen yang gue kasih" Balas Amira
"Disampein Kok, makanya gue SMS lo nih hehe" Balas Didi, yang saat itu mengetik pesan sambil tersenyum-senyum sendiri .
Gak terasa, udah berapa banyak SMS yang mereka kirim dan terima.
"Maaf Pesan anda tidak terkirim" Tiba-tiba muncul notifikasi dari pesan yang Didi kirim ke Amira.
Didi langsung mengecek saldo pulsa nya yang ternyata sudah 0 Rupiah .
"Ahh sialan nih pulsa"
"Pake abis lagi"
"Gak bisa ngucapin selamat tidur dong gue"
"Gak pengertian amat"
Tak kehilangan akal Didi diam-diam menuju kekamar adik laki-lakinya, dan mengambil HP adiknya untuk mentrasnfer pulsa dari HP adiknya ke nomor Hp nya .
"Gue minta pulsa lo ya dek"
"Besok gue gantiin" Ucap Didi pelan, sambil menjalankan akal nya tersebut.
Setelah pulsa masuk, Didi langsung kembali kekamarnya lagi.
"Maaf Baru bales"
"Good night juga Amira" Didi langsung mengirim pesan tersebut ke Amira.
Dengan banyak nya SMS-SMS mereka, sepertinya Didi akan mimpi indah malam itu ditemani dengan bulan yang masih bersinar membuat malam itu menjadi lebih terang .
----
Bel pulang sekolah berbunyi .
Seperti biasa Zidan, Didi, Bayu, Ujang dan Maman memutuskan untuk berkumpul di warung ucok.
Sudah beberapa bulan ini mereka menjadi sering sekali menghabiskan waktu pulang sekolah di tempat itu.
Sesekali Didi melihat kearah pintu masuk, berharap Amira datang.
Beberapa menit kemudian, saat Didi sedang asik mendengarkan para sahabatnya bercerita, pintu masuk terbuka dan suasana menjadi lebih ramai. Ternyata Amira dan teman-temannya pun datang untuk berkumpul. Yaaapp, harapan Didi terkabulkan.
"Amira" Ucap Didi dalam hati dengan wajah yang tersenyum lebar.
Tapi senyuman itu tidak bertahan lama, sesaat itu muncul 4 cowok dari sekolah lain menghampiri Amira dan para sahabatnya. Salah satu cowok dengan tubuh tinggi, dengan paras yang tampan bernama Raga, mendekati Amira yang saat itu sedang duduk dan mendengarkan sahabatnya bercerita.
"Ada yang mau gue omongin sama lo Ra" Ucap Raga sambil melihat kearah Amira dan para sahabatnya, membuat para sahabat Amira yang sedang asik bercerita tiba-tba terhenti dan menatap kearah Raga.
Amira pun langsung menoleh kearah Raga.
"Kita ngomong diluar" Ucap Raga sambil mengarahkan wajahnya ke pintu keluar.
"Gue gak mau" Jawab Amira ke Raga dengan tatapan tajam dan nada yang tegas.
"Lo mau, gue kasar didepan sahabat-sahabat lo yang gak penting ini?" Tanya Raga yang emosi nya sudah mulai memuncak .
"Apa lo bilang barusan ? Sahabat gue gak penting?"
"Jaga ucapan lo Ga"
"ELO yang gak penting disini, bukan mereka !" Ucap Amira yang langsung berdiri dari kursinya dan menunjuk wajah Raga dengan penuh rasa marah.
"Berani lo sama gue sekarang Hah ?" Ucap Raga yang saat itu langsung menampar wajah Amira menahan sakit dan tangis.
"Jawab !!!" Bentak Raga sambil berteriak didepan wajah Amira, yang membuat Amira tersentak diam.
Didi yang sebelumnya hanya memperhatikan mereka dari jauh, sudah tidak tahan melihat kelakuan Raga yang terus mengganggu Amira.
"Dii, itu bukannya si Amira?" Tanya Zidan membuat semua sahabatnya menoleh kearah Amira.
"Lah ia Di, itu si Amira" Ucap Ujang kaget
Didi tidak menggubris pertanyaan temannya, dan langsung berlari kearah Raga.
"Lah lah lah Di ... Di ... Woii Dii " Panggil Maman kaget melihat temannya langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri Raga.
"Bangsaaat" Ucap Didi yang saat itu sudah berada dibelakang Raga dan langsung menarik seragam sekolah Raga dan memukuli wajah Raga dengan sangat keras, sehingga membuat hidung Raga mengeluarkan darah.
Keempat sahabat Didi yang saat itu menyaksikan kejadian itu langsung beranjak menghampiri Didi, agar tidak dikeroyok oleh Raga dan teman-temannya .
"Jangan pernah lo kasar sama Amira lagi !!" Ucap Didi sambil menunjuk kearah Raga yang saat itu sedang mengelap darah yang keluar dari hidungnya, dan menarik Amira keluar bersamanya.
Raga mengejar Didi yang saat itu memegang tangan Amira erat-erat, lalu menendang punggung Didi sehingga Didi terjatuh dan melepaskan tangan Amira.
Keempat sahabat Didi pun menahan temen-teman Raga, untuk tidak memberi bantuan kepada Raga untuk memukuli Didi.
"Apa-apaan sih lo Ga" Ucap Amira dengan nada tinggi, dan menghampiri Didi untuk membantunya bangun.
Lagi dan lagi Raga menghampiri Didi dan menendangnya kembali, kali ini tendangan itu tepat diperut Didi, hingga Didi terjatuh lagi.
"Cukup ya Ga"
"Gue udah muak sama semua tingkah laku lo" Ucap Amira sambil mendorong tubuh Raga.
"Kita udah selesai"
"lo sama gue udah gak ada urusan apapun lagi" Ucap Amira dengan penuh kemarahan.
"Sejak kapan kita selesai Ra ?" Tanya Raga dengan nada tinggi
"Sejak ada Kinan" Jawab Amira dengan nada lantang.
"Kinan?" Tanya Raga dengan nada lemah.
"Ia Kinan, kenapa ?"
"Lo kaget gue tau soal lo dan Kinan?" Ucap Amira dengan tegas.
"Selama ini gue buta soal lo Ga"
"Selama ini gue cuma bisa diem lo perlakuin seenaknya"
"Lo kasar, Lo Egois, Gue terima Lo Ga"
"Tanpa nuntut lo untuk berubah, karena gue fikir gue cinta sama lo"
"Tapi apa?"
"Sedikit pun Lo gak pernah tau kan apa yang gue rasain selama ini?
"Pernah lo tanya, gimana perasaan gue saat lo pukul gue?"
"Pernah lo tanya, gimana perasaan gue saat lo mau nya dingertiin, tanpa perduli perasaan gue?"
"Sampe suatu waktu gue sadar, kalo yang gue jalanin ini ternyata SALAH!" Ucap Amira dengan airmata kemarahannya yang terus mengalir.
Dengan penuh rasa kesal Raga dan teman-temannya langsung meninggalkan mereka.
Amira hanya tersenyum-senyum sendiri, mendengar jawaban yang dibisikan oleh Didi.
"Yaudah, Gue masuk dulu yaah" Ucap Amira berpamitan dengan Didi sambil tersenyum
Didi mengangguk sambil tersenyum manis kearah Amira, membuat Amira semakin salah tingkah.
"Lo hati-hati baliknya"
"Daaaaa" Ucap Amira sambil tersenyum malu meningalkan Didi, dan membuka pagar rumahnya.
Didi berdiri depan rumah Amira, memastikan Amira sudah masuk kedalam rumah, setelah itu Didi bergegas untuk pulang kerumahnya.
-------
Setiap hari Didi dan Amira semakin dekat., begitupun dengan masing-masing sahabat mereka.
Contohnya saja Bayu dengan Dea yang ternyata sudah menjalin hubungan lebih dari teman.
Ujang yang tidak bisa mendapatkan hati Ira karena ternyata Ira sudah mempunyai kekasih hatinya sendiri.
Sedangkan Maman masih menikmati kesendiriannya.
Tapi meski begitu, mereka semakin sering menghabiskan waktu bersama-sama meskipun hanya sekedar ngumpul di warung Ucok, ataupun pergi kesuatu tempat bersama-sama, dan sesekali Ira membawa kekasihnya untuk ikut bersama mereka. Ujang pun sudah mulai move on dari cintanya yang bertepuk sebelah tangan itu.
Drrtttt .... drrrttttt..... HP Amira bergetar.
Amira yang masih asik tertidur memeluk guling yang ditutupi oleh selimut, meraih HP nya yang diletakkan didekat tempat tidurnya.
"Halllooo" Ucap Amira mengangkat tlp nya.
"Ra, Gue ud didepan rumah ya" Ucap Didi dari sambungan tlp nya.
Suara itu langsung membuat Amira membuka matanya, dan memeriksa panggilan tersebut dari siapa, dilihat layar HP nya "Didi" nama itu membuat Amira semakin kaget dan kebingungan, dan langsung menuju jendela kamarnya untuk memastikan kalau Didi memang sudah berada didepan rumahnya.
"Astaga" Gerutu Amira pelan sambil menutup matanya, karena lupa kalo sabtu pagi ini Didi mengajaknya ke Taman Hiburan.
"Halloo Ra" Ucap Didi memastikan kalau Amira masih menerima panggilan tlp nya.
"Ia.. Iaa Di" Jawab Amira yang langsung mematikan Hp nya dan bergegas untuk mandi.
Suara Didi dan kata-kata yang direkamnya, membuat Amira tersenyum dan terdiam yang tanpa sadar menitihkan airmata nya kembali. Dari jendela pesawat Amira memandang langit biru cerah dengan penuh rasa syukur dan beruntung memiliki seseorang seperti Didi. Semangat Amira semakin besar untuk dapat meraih impiannya dan segera kembali menjadi mimpi yang nyata untuk kekasih hati nya.
Semua penumpang yang ada dihalte tersebut sudah naik ke dalam Bus.
"Woii bang, tunggu"
"Tungguin Bang, woiii" teriak Didi sambil berlari dan melambaikan tangannya.
Tapi supir bus tidak menghiraukannya, ditekannya kopling dan ditariknya tuas gigi, bus itu lalu pergi meninggalkan Didi yang berlari terengah-engah.
Didi menghentikan larinya, dan membungkuk sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah.
Baju seragam sekolah nya pun basah dengan keringat yang mengucur .
"Huuhaahuuhaaahuuuhaaa", - Nafas Didi terdengar begitu kencang.
Didi melihat jam ditangannya, yang saat itu menunjukkan pukul 06.30 WIB.
Hari ini di jam pertama ada ulangan matematika, siswa yang telat tidak diperbolehkan mengikuti ulangan.
Tidak jauh dari Halte bus ada pangkalan Ojek.
"Wah ada ojek tuh" Ucap Didi sambil berjalan kearah pangkalan ojek.
"Bang Ojek bang" Ucap Didi
"Kemane dek?" Tanya salah satu tukang ojek
"SMK Harapan Bangsa bang" Ucap Didi
"10 Rebu yeee" Ucap abang ojek memberikan harga ojek
"Yailah bang, anak sekolah saya bang"
"5 Rebu deh" Jawab Didi
"Iye gue tau lo anak sekolahan"
"7 Rebu, gak pake kurang"
"Mau gue angkut, gak mau Jalan kakiiiii" Ucap abang ojek dengan wajah yang sok jual mahal.
Didi langsung melihat isi kantong nya, untuk menghitung uang jajan yang ia miliki.
"Yailah duit jajan cuma 15 Ribu"
"Kalo naik Ojek, 7 Ribu"
"Sisa 8 Ribu"
"Terus entar siang gue makan apa?"
"Terus Pulangnya Gimana?"
"Masa gue jalan kaki lagi?" Gerutu Didi sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Didi melihat jam tangannya lagi, pukul 06.40 WIB.
"Yauda deh" Jawab Didi dengan nada pasrah
"Nah gitu dong"
"Jangan kelamaan mikir"
"Ubanan lo"
"Hayo dah naek, nih pake" Ucap Tukang ojek nya sambil tertawa meledek Didi, dan memberikan helm untuk digunakan.
Jalanan jakarta setiap hari senin, emang gak pernah bisa dikondisikan.
Gak tau kenapa, setiap hari senin berasa seluruh manusia yang ada di mukabumi numplek semua di Jakarta.
Maceeeettt banget .
"Bang ngebut dong"
"Udah telat ni saya" Ucap Didi teriak ke abang ojek nya .
"Lo yang telat"
"Gue yang keder"
"Yaude pegangan, gue mau ngebut" Jawab Abang gojek nya sambil menaikan gigi dan menancapkan Gas dengan kecepatan tinggi.
Di depan sekolah bertingkat tiga abang ojek menghentikan motor nya.
"Kok berenti bang?" Tanya Didi yang heran kenapa motornya berhenti
"Lah, ude sampe kita" Jawab oabang ojek tersebut
"Sampe?"
"Mana sekolahannya bang?" Ucap Didi kebingungan
"Lah itu, depan muka lo apaan ?"
"Sekolahan bukan ?" Ucap abang ojek nya dengan penuh keyakinan
Didi langsung menarik nafas setelah membaca nama sekolahan tersebut "SMK Harapan Jaya"
"Astagfirullaaaaah"
"Bang, coba baca itu nama sekolahannya" Ucap Didi kesal, menyuruh abang ojek nya membaca nama sekolah tersebut.
"SMK Harapan Jaya" Ucap abang ojek nya .
"Naahhh"
"Tandanya apa ?" Tanya didi yang gregetan dengan abang ojeknya
"Ya tandanya udah sampe toong" Jawab Abang ojek yang sepertinya belum sadar kalo ternyata salah mengantar Didi.
"Abang, sekolah saya namanya SMK Harapan Bangsa"
"Bukan Harapan Jaya" Ucap Didi sambil menepok jidatnya .
"Astagfirullah"
"Berarti gue salah dong yak?" Ucap abang ojek yang saat itu mulai sadar kalo salah tujuan.
"Iyaaaaa" Jawab didi sambil menelan ludah dan mengelus dada nya
Sampai akhirnya Didi sampai disekolah, dan melihat jam tangan nya yang sudah menunjukkan pukul 07.15 WIB.
"Yah telat" Gerutu Didi yang sambil lari masih menggunakan helm ojek nya.
"Woiii, tong"
"Bayar dulu" Teriak abang ojeknya, membuat Didi menengok dan kembali menghampirinya .
"Oiaa" Ucap Didi pelan, Didi kembali menghampiri abang ojek nya sambil merogo uang disaku nya .
"Nih bang" Didi memberikan ongkosnya, dan kemudian langsung berlari lagi
"Woi tong"
"Helm gue itu, copot dulu" Teriak ojeknya, yang membuat Didi menengok dan kembali menghampiri nya.
Didi menarik nafas dalam-dalam dan memejamkan matanya lalu membalik badannya sambil mencopot helm nya.
"Nih bang"
"Ada lagi yang kurang ?" Jawab Didi dengan penuh emosi
Abang gojeknya hanya menggelengkan kepalanya saja .
Didi menarik nafasnya dan mengeluarkan nya sekaligus, lalu membalikkan badannya dan berlari menuju gerbang sekolahan.
"Yailah udah digembok lagi" Gerutu Didi sambil memegangi pagar sekolahan nya.
"Pembacaan undang-undang dasar 1945" Sekilah terdengar upacara sudah dimulai dan sudah sampai pembacaan UUD 1945.
Didi langsung menuju jalan pintas yang biasa ia gunakan untuk memanjat kedalam sekolahan.
Saat Didi berhasil memanjat tembok belakang sekolahannya, Didi langsung berlari menuju kelas.
Namun sayang, saat Didi berdiri sedang memastkan tidak ada guru yang melihatnya telat, dibelakangnya ada seseorang yang menepuk pundaknya.
Didi spontan membalikkan badannya.
"Astagaaa" Ucap Didi kaget melihat Ibu Nining Kepala Sekolah yang saat itu memergokinya telat.
"Didii"
"Mau kemanaa?" Ucap Ibu Nining sambil menarik cambangnya Didi dan menariknya menuju lapangan tempat upacara berlangsung.
"Auu auu auu"
"Aduuu duuh duuh Aduu bu"
"Ampun bu, ampun" Ucap Didi ke Ibu Nining dengan raut wajah yang menahan perih nya cambang rambutnya ditarik
"Masuk kedalam barisan upacara" Ucap Ibu Nining sambil menunjuk kearah barisan upacara.
Setelah beberapa menit kemudian upacara selesai.
Ibu Nining menyuruh Didi menemuinya diruangannya.
Sebelum Didi datang menemuinya, Ibu Nining meminta catatan keterlambatan siswa/i dari guru piket.
"Permisi Bu" Ucap Didi
"Masuk" Jawab Ibu Nining
Ibu Nining adalah Kepala Sekolah yang paling ketat dengan aturan dan yang paling bawel di sekolah Harapan Bangsa, dan kebetulan hari itu Ibu Nining mencoba untuk mengecek setiap ruangan untuk memastikan tidak ada siswa/i yang tidak mengikuti Upacara Bendera hari itu.
Didi menghampiri Ibu Nining dengan kepala ditundukan kebawah .
"Kenapa kamu telat Di?" Tanya Ibu Nining
"Maaf Bu, tadi pas naik ojek"
"Ojeknya salah anter saya bu"
"Abangnya malah anter saya ke SMK Harapan Jaya" Ucap Adi yang masih menundukkan kepalanya.
Ibu Nining melihat buku keterlambatan, di buku tersebut tertera nama DIDI yang paling banyak, Ibu Nining hanya menarik nafas melihat kelakuan siswa nya .
"Baju gak dimasukin, Dasi gak dipake, celana gantung, sepatu putih" Ucap Ibu Nining sambil menunjuk pakaian Didi yang tidak sesuai aturan.
"Pelajaran siapa kamu di jam pertama ?" Tanya Ibu Nining dengan nada jutek nya.
"Pelajaran Matematika Bu"
"Pak Suhardi" Jawab Didi yang masih menundukkan kepalanya .
"Bagus, Pak Suhardi hari ini gak masuk"
"Jaid kamu bisa saya Hukum"
"Buku telat isinya nama kamu semua"
"Emang ini sekolahan nenek moyang kamu apa?" Ucap Ibu Nining
"Pak Suhardi gak masuk bu ?" Tanya Didi kaget, dan memastikan kembali.
"Ia"
"Sekarang kamu kelapangan"
"Terus lari 15 puteran" Ucap Ibu Nining memberikan Didi hukuman
Didi membuang nafas lesu.
"Udeh bela-belain ngejar bus, naik ojek abangnya salah"
"Sampe sekolahan gerbang digembok"
"Pas manjat, malah ketangkep basah sama Bu Nining"
"Pak Suhardi nya gak masuk pulaaa"
"Ulangan juga bataall"
"Kenapa harus ada ulangan dihari senin sih yaaa Tuhaaaan" Ucap Didi dalam hatinya, yang sambil menggaruk-garukan kepala nya dan menaikkan kedua alisnya.
"Udah sana kelapangan"
"Nunggu apa lagi"
"Kurang hukumannya ?" Ucap Ibu Nining.
"Jangan Bu"
"Iaa, ini saya juga udah mau kelapangan" Ucap Didi, yang langsung bergegas meninggalkan Ibu Nining menuju ke lapangan.
Didi melakukan hukumannya, berlari hingga 15 putaran dilapangan, dan kembali ke kelasnya untuk mengikuti pelajaran yang lainnya .
Bel istirahat berbunyi, Didi menghampiri ke 4 sahabatnya yang sudah lebih dulu meninggalkan kelas menuju kantin "Ujang, Maman, Bayu dan Zidan"
"Woiii Brooooo" Ucap Didi ke para sahabatnya yang sedang duduk dikantin sekolah, dan melakukan tos seperti biasanya.
"Widihhh Didaaayy Boskuuuuuu" Ucap Ujang dengan nada meledek
"Jadi gimana, lari 15 kali muterin lapangan nyaa Di?" Tanya Bayu meledek Didi yang membuat gelak tawa diantara mereka.
"Kacau ni hari"
"Udah udak-udakan sama Bus"
"Naik Ojek, abang ojek nya malah nganter gue ke SMK Harapan Jaya"
"Harapan Jaya woii" Ucap Didi dengan penuh nada emosi menceritakan yang ia lalui pagi ini .
"Buseett"
"Harapan Jaya"
"Gak sekalian ke Harapan Indah" Ucap Maman menanggapi cerita Didi
"Harapan Indah mane tuh man?" Tanya Ujang dengan polosnya .
"Situ, bekasi boooskuu" Jawab Maman dengan nada bercanda
"Wanjiirr, Jauuhhh" Jawab Ujang .
"Eh pada mau kemana pulang sekolah entar?" Tanya Zidan kepada mereka
"Ah gak ada duit gue"
"Gara-gara naik ojek tadi"
"Ini aja, gue mau minta lo bayarin makan Dan" Jawab Didi dengan wajah yang kesal
"Yaudah sih nyantai aja"
"Kayak sama siapa aja lo" Jawab Zidan sambil melempar tisu kearah Didi
"Nogkrong dulu di warung Ucok lah"
"Sambil nunggu anak-anak SMA Pelita pulang"
"Lumayan anak-anak cewek SMA PELITA cakep-cakep bro" Jawab Maman dengan nada sok cool .
"HAHA, Butek lo ya Man dimari"
"Tongkat lagi, tongkat lagi yang diliat" Jawab Didi yang membuat gelak tawa mereka pecah.
"Yaialah"
"Emang nya lu pada, enggak?"
"Tiap hari yang diliat batangan mulu" Jawab Maman yang membuat mereka semua semakin tertawa.
"Batangan"
"Keras dooong Man?"
"HAHAHAHAHHAA" Jawab Bayu sambil tertawa ngakak .
"Ada Man yang gak Batangan"
"Tuh Bu Nining" Sambung Ujang sambil tertawa
"Enggak aah"
"Entar gue disuruh ngiterin lapangan mulu" Jawab Maman sambil meledek kearah Didi.
"Sialan lo Man" Jawab Didi sambil tertawa .
SMK Harapan bangsa adalah Sekolah Menengah Kejuruan dengan Jurusan Otomotif, Mesin , Listrik, jadi wajar aja kalo 1 sekolah 98% isinya kaum adam semua.
Begitulah mereka setiap berkumpul, selalu punya bahan untuk dijadikan candaan.
Diantara mereka berempat Maman lah yang paling cepat emosi, tempramen nya lebih tinggi daripada yang lain, sedangkan Zidan sebagai penengah jika diantara mereka ada yang bertengkar.
Didi, Bayu dan Ujang memiliki Sifat yang Cuek yang gak terlalu perduli sama orang lain. Makanya setiap mereka bercanda gak pernah mau ambil pusing soal candaan yang selalu dilontarkan masing-masing dari mereka, tetapi mereka berlima selalu kompak dan saling menolong dan menjaga satu sama lain.
-----------
Bel pulang berbunyi, wajah sumringah itu terlihat dari masing-masing siswa yang satu persatu meninggalkan kelasnya.
"Woii jadi gak nih" Tanya Zidan ke Ujang, Didi, Maman dan Bayu yang duduk dibelakangnya.
"Jadiin lahhh" Jawab Ujang Santai
"Berangkaaaaaattt" Jawab Bayu teriak sambil menunjuk kearah pintu.
"Ayo Di" Ucap Zidan sambil merangkul pundak Didi
Didi mengikuti ke empat sahabatnya tersebut, untuk nongkrong di warung Ucok.
Antara SMK Harapan Bangsa dan SMA Pelita jaraknya tidak lah jauh, dan warung Ucok adalah sebuah restoran sederhana yang biasa digunakan tempat nongkrong bagi anak-anak SMK Harapan Bangsa dan SMA Pelita yang biasa nya mau ngumpul-ngumpul sebelum pulang .
"Tuh kan Day, gue bilang apa"
"Anak-anak cewek SMA Pelita Cakep-cakep kan?" Ucap Maman menyenggol perut Didi dengan sikutnya yang saat itu duduk disebelahnya.
"Aw"
"Biasa aja sih Man"
"Gak usah nyikut perut gue juga"
"Sakit Gilaaa" Ucap Didi sambil menoyor kepalanya Maman.
Bayu yang sedang asik menyeruput minumannya tiba-tiba tersedak melihat sekumpulan cewek-cewek cantik SMA Pelita yang berjalan kearah mereka.
"Jang, jang mereka nyamperin kita?" Tanya Bayu yang tidak mengalihkan pandangannya dari sekumpulan cewek-cewek yang sedang tertawa-tawa itu.
"Si kampret"
"Biasa aja komuk lo" Ucap Ujang menoleh kearah Bayu dan melemparkan es batu kewajahnya.
"Aduh"
"Dingin anjir" Jawab Bayu kearah Ujang sambl memegang pipi nya yang terkena es batu
"Sorry, bangku nya dipake gak ?" Tanya salah satu cewek siswa SMA Pelita.
"Enggak kok, enggak"
"Pake aja" Jawab Bayu sambil tersenyum
"Gue ambil yah" Ucap cewek itu sambil tersenyum kearah Bayu .
"Iya ambil aja"
"Bawa pulang juga gapapa" Jawab Bayu sambil tersenyum dengan pandangan yang tidak berkedip memandangi cewek itu .
Ujang yang duduk disebelah Bayu menginjak kaki Bayu, untuk memberikan petanda agar tidak terlalu kelihatan kalau tujuan mereka kesana adalah untuk memperhatikan cewek-cewek dari SMA Pelita.
"Aw"
"Apaan sih Jang"
"Sakit kampret" Ucap Bayu refleks, membuat cewek yang mengambil bangku itu tertawa melihat mereka.
"Ia bawa aja bangkunya, gapapa"
"Kita cuma ber-5 juga kok" Ucap Ujang mengakhiri perbincangan Bayu dan Cewek tersebut.
Didi yang duduk disebelah Maman, diam-diam memperhatikan salah satu cewek dari sekumpulan cewek SMA Pelita itu, matanya tak bisa berpaling ke yang lain, cewek itu menguncir kuda rambut lurus nya yang panjang, wajahnya imut dengan poni depan yang menambah keimutan wajahnya, dan tawa nya yang membuat wajah cewek itu semakin terlihat begitu sempurna dimata Didi.
"Diiii"
"Hellooo DIDAAAYYY" Panggil Maman teriak dikuping Didi yang saat itu memperhatikan Didi yang sedang asik memperhatikan salah satu cewek-cewek itu.
Didi tersentak mendengar Maman memanggil namanya dengan teriak, dan ke empat temannya tertawa melihat Didi yang kaget diteriaki Maman.
"Sialan lo Man"
"Kaget gueee" Jawab Didi emosi.
"Ya lagian daritadi bengong aje"
"Ngeliatin yang mane si Di?"
"Biar gue bantuin" Ucap Maman yang langsung menoleh kearah cewek-cewek itu .
"Yang rambut nya pendek Di?" Tanya Maman
Didi menggeleng.
"Jangan yang tadi nanya bangku Di"
"Itu inceran gue" Ucap Bayu serius.
Didi menggeleng lagi.
"Yang pake kacamata Di ?" Tanya Maman
"Jangan dong Di"
"Itu ude gue perhatiin dari tadi"
"Manis juga Hahahaha" Ucap Ujang sambil tertawa
Didi masih menggelengkan kepalanya .
"Kalo bukan yang 3 itu, berarti yang disebelah cewek yang tadi minjem bangku"
"Yang rambut panjang yang dikuncir kuda"
"Fix yang itu"
"Ude gak ada lagi soalnya"
"Lo kalo masih ngegeleng juga, gue mandiin lo" Ucap Maman dengan nada bercanda nya .
Didi hanya tersenyum, memberikan isyarat bahwa apa yang dikatakan Maman memang benar.
"Boleh juga Day, selera lo" Ucap Maman sambil mengangguk anggukan kepalanya .
"Cabut yuk ahh, udah sore" Ucap Zidan sambil melihat jam tangannya.
"Yuk" Jawab Ujang mengangguk
"Ude jangan diliatin mulu"
"Iler itu elap" Canda Zidan ke Didi sambil menimpuk sedotan kearah Didi.
Zidan menuju kasir untuk membayar makanan dan minuman yang dipesan oleh teman-temannya, Bayu dan Ujang lebih dulu keluar tempat itu, sedangkan Didi dan Maman menunggu Zidan, dan setelah Zidan selesai mereka meninggalkan tempat.
Saat Didi beranjak dari tempat duduknya, cewek yang menjadi pusat perhatian Didi secara tidak sengaja melihat kearah Didi, dan tanpa sadar Didi memberikan Sebuah Senyuman ke Cewek itu yang tanpa disangka senyuman Didi dibalas dengan senyuman manis cewek itu yang membuat Didi tersenyum kecil, sambil melangkah melewati cewek itu menuju sahabat-sahabatnya diluar, Cewek itu masih memperhatikan Didi sampai keluar dari restoran tersebut.
-------
Pagi itu, gerimis kecil membasahi jalan yang dilalui Didi.
Didi berlari kecil kearah halte bus tempat biasa Didi menunggu Bus untuk berangkat sekolah.
Di halte itu Didi melihat sosok cewek cantik yang ia lihat beberapa hari yang lalu di warung ucok saat bersama teman-temannya.
Cewek itu berlari menyebrangi jalan kearah halte bus tempat Didi menunggu.
Dihalte itu yang tadinya hanya ada Didi sendiri yang menunggu Bus, sekarang ditambah cewek ini.
Jadi mereka berdua menunggu bus yang kemungkinan sama, karena sekolah mereka yang berdekatan.
"Sorry"
"Lo yang kemaren di warung ucok bukan sih?" Tanya Didi tersenyum dan mengangkat kedua alisnya kearah cewek itu.
"Kemaren?" Tanya cewek itu kembaali sambil mengingat-ingat.
"Ehmm kemarennya sih"
"Yang gue ... senyum.... sama... lo.."
"Terus lo bales senyum gue" Tanya Didi berusaha mengingatkan cewek itu, dengan raut muka yang tegang karena takut cewek itu melupakannya begitu saja.
"Oh ia ia"
"Gue inget, gue inget"
"Yang rame-rame itu ya?" Jawab Cewek itu sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Iya bener"
"Berlima" Jawab Didi tersenyum dan mengangguk.
"Gue Didi" Ucap Didi, memberanikan dirinya untuk memperkenalkan diri sambil mngulurkan tangan kanannya, berharap disambut oleh cewek itu.
"Gue Amira" Ucap Amira sambil tersenyum, yang menyambut uluran tangan Didi untuk berkenalan.
"Bus nya udah dateng" Ucap Amira dengan wajah bingung sambil tertawa kecil, berharap tangannya segera dilepaskan dari genggaman tangan Didi.
Didi yang saat itu terpaku dengan Amira, kaget mendengar ucapan Amira dan langsung melepaskan tangan Amira dari genggamannya .
"Oh Sorry" Ucap Didi yang langsung melepaskan tangan Amira.
Saat itu Bus sangat padat, Didi dan Amira tidak mendapatkan duduk. Bahkan untuk berdiri saja mereka harus berdesakan. Didi berdiri diamping Amira seolah menjadi malaikat pelindung Amira, yang menahan setiap dorongan yang ada dengan dirinya, agar Amira tidak terkena dorongan.
----
"Pagiii Brooooooooooo" Teriak Didi yang saat itu baru tiba didalam kelas, dan melihat ke 4 sahabatnya berkumpul dibangku belakang, sambil menggebrak-gebrakan mejaa membuat suasana menjadi riuhh saat itu.
"Idiiiih Didaaay Boskuuuuu" Jawab Ujang yang juga menambahkan keriuhan kelas saat itu.
"Tumben lo udah dateng, mimpi apaan semalem ?" Tanya Bayu sambil memberikan tos seperti biasanya.
"Mimpi basah doi broooo" Jawab Maman membuat gelak tawa pagi itu.
"Ahhh Sialan lo Man" Jawab Didi tertawa sambil menoyor kepala Maman
"Pokokknya Mulai besok dan seterusnya"
"Gue gak bakalan dateng telat lagi" Sambung Didi dengan wajah sumringah.
"Idii idii idiiii"
"Ngerriiiiii"
"Ente kenape Diday?" Ucap Zidan yang saat itu langsung memegang jidat temannya dengan tangan kanannnya, untuk memastikan bahwa Didi memang baik-baik saja.
"Jadi giniiii" Ucap Didi sambil melirik ke semua sahabatnya, membuat ke 4 sahabatnya itu penasaran dan terdiam menunggu kelanjutan omongan Didi,
"JASUKEEEEE"
"JANGAN SUKA KEPOOOOO" Ucap Didi sambil tertawa kencang, membuat semua sahabat yang sudah menunggu kelanjutan ceritanya kesal .
"Anak Setaaaann"
"Gue kira mau cerita apaan" Ucap Maman kesal sambil memukul wajah Didi dengan buku tulis.
"Ehhh iaa iaa iaaa"
"Serius serius, ini beneran serius" Ucap Didi kembali meyakinkan ke 4 sahabatnya untuk kembali mendengarkan ceritanya .
"Lo pada inget gak, sama salah satu cewek yang gue liatin waktu itu di warung ucok?" Tanya Didi ke sahabat-sahabatnya, membuat mereka menjadi semakin penasaran.
"Yang pake poni bukan sih?" Jawab Zidan serius.
Didi mengangguk sambil tersenyum membalas pertanyaan Zidan.
"Nahhh, tadi pagi"
"Gue ketemu sama itu cewek"
"Di halte bus tempat gue biasa nunggu" Jawab Didi seriuss .
"Teruss Di?"
"Lo ajak kenalan gak ?" Tanya Ujang penasaran.
"Yaialah, kesempatan didepan mata anjir"
"Masa gue lepasin" Jawab Didi dengan nada PD nya .
"Terus nama nya siapa ?" Tanya Maman penuh penasaran
"Namanya AMIRA" Jawab Didi sambil tersenyum .
"Tsaeeelaaaahhhhh, AMIRAAAAA" Jawab ke 4 sahabatnya kompak, memecahkan suasana kelas yang tadinya hening mendengarkan cerita Didi, menjadi riuh kembali dengan segala macam guyonan-guyonan mereka untuk meledek Didi.
Hari demi hari berlalu, sejak saat Didi bertemu dengan Amira di Halte, Didi selalu berusaha bangun lebih pagi untuk menunggu Amira di Halte, agar bisa berangkat bersama-sama. Setiap pulang sekolah pun Didi paling bersemangat jika diajak berkumpul para sahabatnya ke warung ucok .
------
Sudah beberapa hari belakangan, Didi tidak bertemu Amira di halte bus.
Dari pukul 5 Pagi, hingga pukul 06.30 pagi Didi habiskan waktu untuk menunggu Amira di halte bus, sambil melihat kearah pertama kali Didi melihat Amira disebrang halte itu, sambil sesekali menoleh ke kanan, dan kirinya. Namun sayang belakangan Amira tidak nampak dipandangannya.
"Diiiii...."
"Didiiiii" Panggil Zidan dari arah belakang Didi.
Didi menoleh kearah Zidan yang saat itu sedang mengejarnya menuju pintu gerbang sekolah, Didi berdiri menunggu Zidan datang menghampirinya .
"Diii, tadi didepan gue ketemu Amira" Ucap Zidan sambil menepuk pundak Didi dan mengatur nafasnya.
"Amira?" Tanya Didi memastikan nama yang disebut oleh sahabatnya itu.
"Iaa, Amira"
"Anak PELITA"
"Kedemenan looo" Jawab Zidan dengan penuh keyakinan.
Didi langsung melihat disekitar mereka, mencari sosok wanita yang sudah beberapa hari belakangan ini tidak ia temui di halte bus.
"Udah gak usah dicariin"
"Orang nya udah gak ada" Ucap Zidan sambil merangkul Didi dan mengajaknya masuk kedalam sekolah.
"Nih, tadi Amira cuma nitipin ini ke gue" Ucap Zidan, sambil memberikan 1 buah kertas sobekan dari buku tulis.
Didi langsung meraihnya dari tangan Zidan, dan membuka nya cepat-cepat .
"0812xxxxxxxx"
"AMIRA" Didi membaca nya dalam hati, sambil tersenyum-senyum.
Zidan yang melihat Didi tersenyum-senyum sendiri melihat kertas yang diberikan Amira, langsung merebut kertas itu kembali dan membacanya .
"Tsaelaaahhhh Nomor HP" Ucap Zidan sambil tertawa.
Didi yang saat itu melihat ulah temannya yang menyebalkan, langsung mengambil kembali kertas yang ada ditangan Zidan, dan langsung memasukannya kedalam kantong celana.
"Lo jangan seneng dulu Di" Ucap Zidan yang tiba-tiba membuat Didi menoleh kearahnya.
"Tadi, pas Amira ketemu gue didepan, dia gak sendirian Di"
"Dia dianterin sama cowok naik motor gede"
"Kalo gue liat dari jaket yang dipake tuh cowok sih, kayaknya doi anak STM 17 deh" Ucap Zidan sambil menepuk perutnya Didi .
Didi yang mendengarkan cerita Zidan, hanya terdiam sambil merengutkan jidatnya .
"Wolles Broo, kalo jodoh mah gak kemane" Ucap Zidan sambil menepuk-nepuk pundak Didi
"Tapi kalo lo nya gak kejar, ya kemane-mane itu jodoh jadinye" Canda Zidan sambil tertawa dan bergegas meninggalkan Didi .
Didi hanya terdiam melihat kelakuan temannya itu .
----
Bulan yag terang itu membuat malam menjadi lebih terang .
Didi yang saat itu baru selesai mandi dan menggosok-gosokan handuk dikepalanya mengingat seusatu.
Mata Didi langsung tertuju ke kantong celana sekolah nya, dan langsung mengambil celana sekolah tersebut dan merogoh kantong nya, Didi mendapati 1 Robekan kertas yang lecak tertulis nomor HP Amira.
Diputar-putarnya kertas itu dengan tangannya, sambil berfikir untuk menghubungi Amira atau tidak .
"SMS"
"Engak"
"SMS"
"Enggak"
"SMS aje deh" Grutu Didi sambil meraih HP nya diatas tempat tidur .
"Hai Ra" Dengan ragu Didi mengirim SMS tersebut ke Amira.
Sambil menunggu SMS balasan dari Amira, Didi mengetok-ngetokkan jarinya ke HP nya .
Sesekali Didi berjalan mondar-mandir dikamarny.
Tidak beberapa Amira langsung mnejawab SMS Didi .
"Hai"
"Siapa ya ?" Balas Amira
"Ini Gue Didi anak SMK Harapan Bangsa, Ra" Balas Didi kembali
"Eh Didi"
"Gue fikir, temen lo gak nyampein pesen yang gue kasih" Balas Amira
"Disampein Kok, makanya gue SMS lo nih hehe" Balas Didi, yang saat itu mengetik pesan sambil tersenyum-senyum sendiri .
Gak terasa, udah berapa banyak SMS yang mereka kirim dan terima.
"Maaf Pesan anda tidak terkirim" Tiba-tiba muncul notifikasi dari pesan yang Didi kirim ke Amira.
Didi langsung mengecek saldo pulsa nya yang ternyata sudah 0 Rupiah .
"Ahh sialan nih pulsa"
"Pake abis lagi"
"Gak bisa ngucapin selamat tidur dong gue"
"Gak pengertian amat"
Tak kehilangan akal Didi diam-diam menuju kekamar adik laki-lakinya, dan mengambil HP adiknya untuk mentrasnfer pulsa dari HP adiknya ke nomor Hp nya .
"Gue minta pulsa lo ya dek"
"Besok gue gantiin" Ucap Didi pelan, sambil menjalankan akal nya tersebut.
Setelah pulsa masuk, Didi langsung kembali kekamarnya lagi.
"Maaf Baru bales"
"Good night juga Amira" Didi langsung mengirim pesan tersebut ke Amira.
Dengan banyak nya SMS-SMS mereka, sepertinya Didi akan mimpi indah malam itu ditemani dengan bulan yang masih bersinar membuat malam itu menjadi lebih terang .
----
Bel pulang sekolah berbunyi .
Seperti biasa Zidan, Didi, Bayu, Ujang dan Maman memutuskan untuk berkumpul di warung ucok.
Sudah beberapa bulan ini mereka menjadi sering sekali menghabiskan waktu pulang sekolah di tempat itu.
Sesekali Didi melihat kearah pintu masuk, berharap Amira datang.
Beberapa menit kemudian, saat Didi sedang asik mendengarkan para sahabatnya bercerita, pintu masuk terbuka dan suasana menjadi lebih ramai. Ternyata Amira dan teman-temannya pun datang untuk berkumpul. Yaaapp, harapan Didi terkabulkan.
"Amira" Ucap Didi dalam hati dengan wajah yang tersenyum lebar.
Tapi senyuman itu tidak bertahan lama, sesaat itu muncul 4 cowok dari sekolah lain menghampiri Amira dan para sahabatnya. Salah satu cowok dengan tubuh tinggi, dengan paras yang tampan bernama Raga, mendekati Amira yang saat itu sedang duduk dan mendengarkan sahabatnya bercerita.
"Ada yang mau gue omongin sama lo Ra" Ucap Raga sambil melihat kearah Amira dan para sahabatnya, membuat para sahabat Amira yang sedang asik bercerita tiba-tba terhenti dan menatap kearah Raga.
Amira pun langsung menoleh kearah Raga.
"Kita ngomong diluar" Ucap Raga sambil mengarahkan wajahnya ke pintu keluar.
"Gue gak mau" Jawab Amira ke Raga dengan tatapan tajam dan nada yang tegas.
"Lo mau, gue kasar didepan sahabat-sahabat lo yang gak penting ini?" Tanya Raga yang emosi nya sudah mulai memuncak .
"Apa lo bilang barusan ? Sahabat gue gak penting?"
"Jaga ucapan lo Ga"
"ELO yang gak penting disini, bukan mereka !" Ucap Amira yang langsung berdiri dari kursinya dan menunjuk wajah Raga dengan penuh rasa marah.
"Berani lo sama gue sekarang Hah ?" Ucap Raga yang saat itu langsung menampar wajah Amira menahan sakit dan tangis.
"Jawab !!!" Bentak Raga sambil berteriak didepan wajah Amira, yang membuat Amira tersentak diam.
Didi yang sebelumnya hanya memperhatikan mereka dari jauh, sudah tidak tahan melihat kelakuan Raga yang terus mengganggu Amira.
"Dii, itu bukannya si Amira?" Tanya Zidan membuat semua sahabatnya menoleh kearah Amira.
"Lah ia Di, itu si Amira" Ucap Ujang kaget
Didi tidak menggubris pertanyaan temannya, dan langsung berlari kearah Raga.
"Lah lah lah Di ... Di ... Woii Dii " Panggil Maman kaget melihat temannya langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri Raga.
"Bangsaaat" Ucap Didi yang saat itu sudah berada dibelakang Raga dan langsung menarik seragam sekolah Raga dan memukuli wajah Raga dengan sangat keras, sehingga membuat hidung Raga mengeluarkan darah.
Keempat sahabat Didi yang saat itu menyaksikan kejadian itu langsung beranjak menghampiri Didi, agar tidak dikeroyok oleh Raga dan teman-temannya .
"Jangan pernah lo kasar sama Amira lagi !!" Ucap Didi sambil menunjuk kearah Raga yang saat itu sedang mengelap darah yang keluar dari hidungnya, dan menarik Amira keluar bersamanya.
Raga mengejar Didi yang saat itu memegang tangan Amira erat-erat, lalu menendang punggung Didi sehingga Didi terjatuh dan melepaskan tangan Amira.
Keempat sahabat Didi pun menahan temen-teman Raga, untuk tidak memberi bantuan kepada Raga untuk memukuli Didi.
"Apa-apaan sih lo Ga" Ucap Amira dengan nada tinggi, dan menghampiri Didi untuk membantunya bangun.
Lagi dan lagi Raga menghampiri Didi dan menendangnya kembali, kali ini tendangan itu tepat diperut Didi, hingga Didi terjatuh lagi.
"Cukup ya Ga"
"Gue udah muak sama semua tingkah laku lo" Ucap Amira sambil mendorong tubuh Raga.
"Kita udah selesai"
"lo sama gue udah gak ada urusan apapun lagi" Ucap Amira dengan penuh kemarahan.
"Sejak kapan kita selesai Ra ?" Tanya Raga dengan nada tinggi
"Sejak ada Kinan" Jawab Amira dengan nada lantang.
"Kinan?" Tanya Raga dengan nada lemah.
"Ia Kinan, kenapa ?"
"Lo kaget gue tau soal lo dan Kinan?" Ucap Amira dengan tegas.
"Selama ini gue buta soal lo Ga"
"Selama ini gue cuma bisa diem lo perlakuin seenaknya"
"Lo kasar, Lo Egois, Gue terima Lo Ga"
"Tanpa nuntut lo untuk berubah, karena gue fikir gue cinta sama lo"
"Tapi apa?"
"Sedikit pun Lo gak pernah tau kan apa yang gue rasain selama ini?
"Pernah lo tanya, gimana perasaan gue saat lo pukul gue?"
"Pernah lo tanya, gimana perasaan gue saat lo mau nya dingertiin, tanpa perduli perasaan gue?"
"Sampe suatu waktu gue sadar, kalo yang gue jalanin ini ternyata SALAH!" Ucap Amira dengan airmata kemarahannya yang terus mengalir.
"Engga Ra, lo salah faham soal Kinan Ra"
"Biar gue jelasin dulu" Ucap Raga, yang saat itu langsung memegang tangan Amira.
"Ohh salah faham" Ucap Amira sambil tertawa dan melepaskan tangannya dari genggaman tangan Raga.
"Bagian mana yang mau lo jelasin ke gue Ga?"
"Bagian Lo peluk dia? Bagian Lo cium dia?"
"Bagian mana? " HAH?"
"Jawab gue Ga !!" Tanya Amira dengan berteriak.
"Lo.. "Baru kata itu yang keluar dari mulut Raga, dan langsung dipotong oleh Amira.
"Iya, gue tau semuanya"
"Gue liat semuanya"
"jadi, jangan pernah berharap gue dengerin penjelasan apapun dari mulut lo"
"Karena sejak hari itu, Kita SELESAI!!" Ucap Amira meninggalkan Raga menuju Didi yang saat itu berdiri menahan sakit pada perut yang ditendang oleh Raga.
"Lo Gak apa-apa Di ?" Tanya Amira sambil membantu Didi berjalan.
Raga masih menghampiri Amira, dan menarik tangan Amira.
"Lo apa-apaan sih Ra" Ucap Raga sambil menarik tangan Amira.
"Udahlah Ga, gue Capek"
"Tolong Jangan pernah ganggu gue lagi" Ucap Amira yang lantas meninggalkan Raga sambil menopang Didi kearah teman2 Didi, yang saat itu menghampiri Didi.
Dengan penuh rasa kesal Raga dan teman-temannya langsung meninggalkan mereka.
"Kalian balik duluan aja"
"Gue anter Amira Balik dulu" Ucap Didi yang khawatir dengan Amira
"Gak usah Di, gue bisa balik bareng mereka kok" Jawab Amira sambil melihat kearah teman-temannya .
"Ia Ra, Didi bener"
"Mending Lo dianter Didi balik"
"Gue khawatir, kalo sampe Raga buat ulah sama Lo" Ucap Dea salah satu sahabat Amira yang menjadi incaran Bayu.
"Tapi kan Didi.." Ucap Amira yang khawatir dengan keadaan Didi
"Udah gue gak papa"
"Ayoo" Ucap Didi memotong omongan Amira, yang langsung menarik lengan Amira untuk menuju halte Bus.
Sepanjang perjalanan menuju rumah Amira, mereka hanya banyak diam, sampai tidak berasa kalau saat itu mereka sudah tiba di depan rumah Amira, karena Amira yang tiba-tiba menghentikan langkahnya, dan berdiri menghadap Didi, membuat Didi juga menghentikan langkahnya dan menatap Amira.
"Rumah Gue" Ucap Amira sambil menunjuk kearah Rumahnya yang teduh.
Didi melihat dan mengangguk tersenyum.
"Makasih yah Di "
"Udah coba buat bela gue didepan Raga tadi"
"Terus Maaf juga, lo jadi begini sekarang" Ucap Amira yang saat itu berdiri didepan Didi.
Didi hanya terdiam menatap wajah Amira, membuat Amira merasa bingung dengan tatapan Didi.
"Dii .. " Amira mencoba mengalihkan pandangan Didi dari nya dengan melambai-lambaikan tangannya dihadapan wajah Didi.
Didi memegang tangan Amira untuk menghentikan gerakan tangan Amira, yang menghalangi tatapannya.
"Pacaran yuk Ra !" Ucap Didi dengan nada serius.
"Hah" Jawab Amira bingung dengan ucapan Didi yang barusan.
"Gak mau?" Tanya Didi dengan nada serius
"Ya bukan gitu" Jawab Amira bingung.
"Berarti Mau?" Tanya Didi kembali
"Ya engga Juga" Jawab Amira yang semakin bingung
"Terus?" Tanya Didi yang membuat Amira semakin bingung.
"Lo gak pernah nembak cewek yah Di ?" Tanya Amira penasaran sambil merengutkan jidatnya
Didi hanya menggeleng mendengar pertanyaan Amira barusan.
"Jangan bilang lo gak pernah pacaran?" Tanya Amira lagi dengan rasa penasaran yang semakin besar.
"Jadinya mau pacaran sama gue apa enggak?" Didi malah balik bertanya ke Amira sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Amira.
"Enggak" Jawab Amira kaget, karena wajah Didi yang mendekati wajahnya.
"Oke" Ucap Didi menjauhkan wajahnya dari depan wajah Amira.
"Eh Mau" Jawab Amira kembali, sambil menarik lengan Didi.
"Jadi mau apa enggak?" Tanya Didi memastikan jawaban Amira.
Amira hanya mengangguk sambil tersenyum kearah Didi yang menandakan bahwa Amira menerima Didi menjadi pacarnya.
"Lo belum jawab pertanyaan gue"
"Lo enggak pernah pacaran ya?" Tanya Amira lagi dengan rasa penasarannya.
"Pernah" Jawab Didi meyakinkan dengan menaikkan kedua alisnya.
"Oia?" Tanya Amira yang tidak percaya dengan jawaban Didi.
Didi menghampiri Amira dan membisikan jawaban dari pertanyaan Amira.
"Gak usah Di, gue bisa balik bareng mereka kok" Jawab Amira sambil melihat kearah teman-temannya .
"Ia Ra, Didi bener"
"Mending Lo dianter Didi balik"
"Gue khawatir, kalo sampe Raga buat ulah sama Lo" Ucap Dea salah satu sahabat Amira yang menjadi incaran Bayu.
"Tapi kan Didi.." Ucap Amira yang khawatir dengan keadaan Didi
"Udah gue gak papa"
"Ayoo" Ucap Didi memotong omongan Amira, yang langsung menarik lengan Amira untuk menuju halte Bus.
Sepanjang perjalanan menuju rumah Amira, mereka hanya banyak diam, sampai tidak berasa kalau saat itu mereka sudah tiba di depan rumah Amira, karena Amira yang tiba-tiba menghentikan langkahnya, dan berdiri menghadap Didi, membuat Didi juga menghentikan langkahnya dan menatap Amira.
"Rumah Gue" Ucap Amira sambil menunjuk kearah Rumahnya yang teduh.
Didi melihat dan mengangguk tersenyum.
"Makasih yah Di "
"Udah coba buat bela gue didepan Raga tadi"
"Terus Maaf juga, lo jadi begini sekarang" Ucap Amira yang saat itu berdiri didepan Didi.
Didi hanya terdiam menatap wajah Amira, membuat Amira merasa bingung dengan tatapan Didi.
"Dii .. " Amira mencoba mengalihkan pandangan Didi dari nya dengan melambai-lambaikan tangannya dihadapan wajah Didi.
Didi memegang tangan Amira untuk menghentikan gerakan tangan Amira, yang menghalangi tatapannya.
"Pacaran yuk Ra !" Ucap Didi dengan nada serius.
"Hah" Jawab Amira bingung dengan ucapan Didi yang barusan.
"Gak mau?" Tanya Didi dengan nada serius
"Ya bukan gitu" Jawab Amira bingung.
"Berarti Mau?" Tanya Didi kembali
"Ya engga Juga" Jawab Amira yang semakin bingung
"Terus?" Tanya Didi yang membuat Amira semakin bingung.
"Lo gak pernah nembak cewek yah Di ?" Tanya Amira penasaran sambil merengutkan jidatnya
Didi hanya menggeleng mendengar pertanyaan Amira barusan.
"Jangan bilang lo gak pernah pacaran?" Tanya Amira lagi dengan rasa penasaran yang semakin besar.
"Jadinya mau pacaran sama gue apa enggak?" Didi malah balik bertanya ke Amira sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Amira.
"Enggak" Jawab Amira kaget, karena wajah Didi yang mendekati wajahnya.
"Oke" Ucap Didi menjauhkan wajahnya dari depan wajah Amira.
"Eh Mau" Jawab Amira kembali, sambil menarik lengan Didi.
"Jadi mau apa enggak?" Tanya Didi memastikan jawaban Amira.
Amira hanya mengangguk sambil tersenyum kearah Didi yang menandakan bahwa Amira menerima Didi menjadi pacarnya.
"Lo belum jawab pertanyaan gue"
"Lo enggak pernah pacaran ya?" Tanya Amira lagi dengan rasa penasarannya.
"Pernah" Jawab Didi meyakinkan dengan menaikkan kedua alisnya.
"Oia?" Tanya Amira yang tidak percaya dengan jawaban Didi.
Didi menghampiri Amira dan membisikan jawaban dari pertanyaan Amira.
"Nama nya Amira, dia pacar pertama gue" Bisik Didi ke Amira sambil tersenyum.
"Yaudah, Gue masuk dulu yaah" Ucap Amira berpamitan dengan Didi sambil tersenyum
Didi mengangguk sambil tersenyum manis kearah Amira, membuat Amira semakin salah tingkah.
"Lo hati-hati baliknya"
"Daaaaa" Ucap Amira sambil tersenyum malu meningalkan Didi, dan membuka pagar rumahnya.
Didi berdiri depan rumah Amira, memastikan Amira sudah masuk kedalam rumah, setelah itu Didi bergegas untuk pulang kerumahnya.
-------
Setiap hari Didi dan Amira semakin dekat., begitupun dengan masing-masing sahabat mereka.
Contohnya saja Bayu dengan Dea yang ternyata sudah menjalin hubungan lebih dari teman.
Ujang yang tidak bisa mendapatkan hati Ira karena ternyata Ira sudah mempunyai kekasih hatinya sendiri.
Sedangkan Maman masih menikmati kesendiriannya.
Tapi meski begitu, mereka semakin sering menghabiskan waktu bersama-sama meskipun hanya sekedar ngumpul di warung Ucok, ataupun pergi kesuatu tempat bersama-sama, dan sesekali Ira membawa kekasihnya untuk ikut bersama mereka. Ujang pun sudah mulai move on dari cintanya yang bertepuk sebelah tangan itu.
Drrtttt .... drrrttttt..... HP Amira bergetar.
Amira yang masih asik tertidur memeluk guling yang ditutupi oleh selimut, meraih HP nya yang diletakkan didekat tempat tidurnya.
"Halllooo" Ucap Amira mengangkat tlp nya.
"Ra, Gue ud didepan rumah ya" Ucap Didi dari sambungan tlp nya.
Suara itu langsung membuat Amira membuka matanya, dan memeriksa panggilan tersebut dari siapa, dilihat layar HP nya "Didi" nama itu membuat Amira semakin kaget dan kebingungan, dan langsung menuju jendela kamarnya untuk memastikan kalau Didi memang sudah berada didepan rumahnya.
"Astaga" Gerutu Amira pelan sambil menutup matanya, karena lupa kalo sabtu pagi ini Didi mengajaknya ke Taman Hiburan.
"Halloo Ra" Ucap Didi memastikan kalau Amira masih menerima panggilan tlp nya.
"Ia.. Iaa Di" Jawab Amira yang langsung mematikan Hp nya dan bergegas untuk mandi.
"Maaf yah Di lama" Ucap Amira saat sudah siap untuk pergi.
Didi terdiam melihat Amira, yang hari ini sangat cantik dengan rambut panjang yang biasanya dikuncir kuda, Hari ini tergerai indah dengan bandana rambut yang menambah cantik penampilannya.
"Dii.."Ucap Amira sambil menepuk-nepuk pipi Didi.
"Yaaa" Ucap Didi yang seketika sadar karena Tepukan Amira.
"Kenapa sih, kok liatinnya gitu banget ?"
"Bedak gue ketebelan ya?"
"Atau lipstik gue belepetan ya?" Ucap Amira yang langsung mencari kaca didalam tas nya.
"Lo cantik Ra" Ucap Didi yang membuat Amira berhenti mencari kaca didalam Tas nya.
"Hah?" Ucap Amira memastikan ucapan Didi.
"Pacar Gue cantik" Ucap Didi menegaskan ucapannya, membuat Amira tersenyum manis.
"Jalan sekarang?" Tanya Didi dengan tersenyum
Amira mengangguk, mengiya kan pertanyaan Didi.
Sepertinya waktu berpihak pada mereka, saat mereka tiba dihalte Bus, tidak lama kemudian Bus yang mereka tunggu pun tiba.
Hari ini mereka menikmati kebersamaan mereka, saling bergandeng tangan, dan merangkul. Amira tertawa lepas setelah masa-masa sulitnya yang disebabkan oleh Raga.
Berteriak sekencang mungkin, dan tertawa selepas mungkin. Didi yang selalu memperhatikan pacarnya itu sangat senang, karena rencananya untuk membuat Amira menjadi dirinya sendiri terpenuhi saat itu.
Berteriak sekencang mungkin, dan tertawa selepas mungkin. Didi yang selalu memperhatikan pacarnya itu sangat senang, karena rencananya untuk membuat Amira menjadi dirinya sendiri terpenuhi saat itu.
Matahari hampir tenggelam, mengikuti waktu yang terus berputar detik per detik.
Didi dan Amira duduk untuk beristirahat, menikmati indahnya senja yang akan segera berakhir hari itu.
"Muuaach" 1 kecupan mendarat di pipi Didi, membuat Didi menoleh kerarah Amira.
"Makasih ya Di , lo udah selalu buat gue seneng" Ucap Amira sambil tersenyum lebar.
"Jangan bilang makasih terus Ra" Ucap Didi yang langsung memeluk Amira
"Kenapa?" Tanya Amira
"Karena bikin lo seneng itu, kemauan Gue" Jawab Didi yang semakin erat memeluk Amira
"Tapi lo selalu bikin gue Bahagia Di" Ucap Amira setelah Didi melepaskan pelukannya.
"Bukan gue yang bikin lo Bahagia Ra"
"Tapi lo yang nentuin Bahagia Lo sendiri" Ucap Didi sambil membelai lembut rambut Amira.
"Jadi.."
"jangan bilang makasih terus" Sambung Didi yang kali ini mencubit kedua pipi Amira dengan penuh gregetan.
Amira hanya tersenyum lebar .
Senjapun menjadi saksi mereka hari itu, mengiringi setiap kata demi kata yag diucapkan oleh mereka dan mengiringi mereka menuju gelap yang penuh kehangatan.
------------
Matahari pagi itu begitu terik menyinari para siswa/i yang sedang melakukan Upacara Bendera di lapangan sekolah, ditambah sambutan kepala sekolah yang tak kunjung selesai.
"Jadi, tolong dimengerti kembali"
"Khususnya untuk yang sudah naik ke kelas 3"
"Sebentar lagi akan ada jadwal, untuk penambahan materi"
"Sudah tidak ada waktu untuk main-main lagi"
"Jadwal kalian akan padat dengan ujian-ujian percobaan sebelum ujian akhir"
"Jadi jngan Bolos-bolos terus" Ucap Ibu Nining dengan logat jawa nya yang khas.
"Mengerti?" Tanya Ibu Nining
"Mengerti Buuuuukk" Jawab para siswa/i
"Yang punya pacar, ya diputusin dulu pacarnya" Ucap Ibu Nining bercanda membuat para siswa/i menyurakinya.
"Ya nanti kalo sudah lulus ujian, teruus lulus sekolah"
"Ya dilanjut lagi, gapapa toh"
"Emangnya pada gak mau kalo pasangannya lulus juga?"
"Egois" Ucap Ibu Nining yang membuat gelak tawa para siswa/i yang mengikuti Upacara Bendera pagi itu.
"Yaudah mengerti yaa semua yaaa" Tanya Ibu Nining kembali
"Ngerti Buuuuukk" Jawab Para siswa/i serentak.
"Inget, Putusin dulu pacarnya" Ucap Ibu Nining, yang lagi-lagi membuat para siswa/i menyurakinya.
"Assalamualaikum Wr.wb" Ibu Nining menutup sambutannya, dan dijawab oleh semua peserta Upacara.
Didi dan Amira saat ini memang sudah berada dikelas 3 Sekolah Menengah Akhir, dimana ini adalah titik paling menegangkan untuk para siswa/i yang ingin segera lulus dari sekolah. Awal dari sebuah mimpi yang ingin diwujudkan, dan sebuah langkah besar yang harus diambil agar meraih prestasi yang baik.
----
Bel istirahat berbunyi, Didi dan ke-4 sahabatnya meninggalkan kelas menuju kantin sekolah.
" Eh, lo semua pada kepikiran sama omongannya Ibu Nining tadi gak sih?" Tanya Maman
"Omongan yang mana Man ?"
"Yang dia nyuruh putusin pacar?" Ucap Zidan membaliki pertanyaan Maman.
"Halaaah"
"Pake dipikirin"
"Pacar aja lo gak punya Maann, maaan"
"siapa yang mau lo putusin?" Jawab Ujang sambil tertawa.
"Si bangkee"
"Bukan omongan yang itu"
"Yang Ibu Nining bilang kita udah kelas 3 sekarang" Ucap Maman
"Iya, gak berasa yah"
"Temenan sama lu orang, ud 3 tahun aja"
"Bentar lagi pada sibuk sama hidupnya masing-masing deh" Ucap Zidan menanggapi ucapannya Maman
"Bener juga kata lu Dan" Ucap Bayu sambil menyantap makanan yang dipesannya.
"Eh, kalian kalo lulus pada mau lanjut kemana?" Tanya Zidan
"Gue mau langsung cari kerjaan ajalah" Jawab Ujang santai
"Lo Bay?" Tanya Zidan
"Bokap gue, pingin gue kuliah di Malang"
"Katanya sih ada kampus yang bagus buat jurusan Teknik" Jawab Bayu
"Lo Man?" Tanya Zidan
"Gue sama kayak Ujang"
"Mau langsung nyari kerja ajalah"
"Biar cepet dapet duit"
"Udah capek gue sekolah mulu" Jawab Ujang
"Nahhh yoii tuhh" Ucap Ujang menanggapi jawaban Maman
"Elo gimana Di?"
"Tumben lo dari tadi diem aja" Ucap Zidan
"Paling lagi mikirin Amira" Ucap Ujang meledek Didi.
"Amira bakal kuliah di Inggris" Ucap Didi membuat Ujang yang sedang menyeruput mie tersedak.
"Serius Di?" Tanya Ujang memastikan
Didi hanya mengangguk menjawab pertanyaan Ujang.
"Terus gimana Di?" Tanya Zidan memastikan keadaan sahabatnya.
"Kalo lo jadi Gue"
"Lo bakal gimana Dan?" Didi membaliki pertanyaan Zidan
"Lo Cinta gak sama Amira?" Tanya Zidan Serius
"Cinta" Jawab Didi serius
"Lo Sayang gak sama Amira?" Tanya Zidan kembali
"Sayanglah" Jawab Didi penuh keyakinan
"Ya kalo gitu, lo harusnya tau apa yang bakal lo lakuin buat Amira" Ucap Zidan
----
Hari berlalu terasa begitu cepat, ujian-ujian di semester awal sudah terlewati.
Didi selalu melingkari setiap tanggal, dan hari-hari yang dilewatinya bersama Amira, menghitung berapa banyak hari yang sudah terlewati. Didi berusaha untuk mengerti apa yang sedang terjadi dalam hubungannya saat ini, mencoba untuk memahami antara mempertahankan ataupun melepaskan apa yang sedang dia miliki.
"Ra, aku didepan sekolah kamu" Didi mengirim pesan singkat untuk Amira.
Entah sejak kapan panggilan LO-GUE berubah menjadi AKU-KAMU diantara mereka, yang pasti itu membuat mereka semakin menyayangi setiap hari nya.
Amira yang saat itu baru selesai mengikuti kelas penambahan materi, membaca pesan singkat dari Didi. Kaget membaca pesan singkat dari Didi tersebut, Amira segera menemui Didi yang sudah menunggunya didepan sekolah.
"Haii" Amira melambaikan tagannya ke Didi, yang dia lihat sudah berdiri menunggunya tepat didepan gerbang sekolah, Amira berlari kecil menghampiri Didi.
Didi, melihat Amira berlari kecil kearahnya dengan senyuman penuh rasa sayang untuk menyambut Amira berlari kearahnya.
"Kamu pas banget Di, aku baru ajah selesai ikut kelas penambahan materi, terus niatnya emang mau langsung ngabarin kamu kalo aku udah selesai, terus mau ajak kamu ketemu juga soalnya ... " Belum selesai Amira mengatakan apa yang ingin dia katakan, Didi memotong ucapan Amira.
"Selamat hari jadi yang ke 1 Tahun Ra" Ucap Didi sambil memberikan Amira 1 bucket bunga dengan tulisan "Happy Anniversary 1st Amira", dan juga boneka panda kecil yang begitu lucu, membuat Amira tertegun melihat perlakuan kekasihnya yang sangat jauh berbeda dari Raga, mantan kekasihnya.
"Hah?" Ucap Amira yang masih tertegun melihat Didi yang saat itu memberikan 1 bucket bunga, dan juga boneka panda kecil sambil tersenyum kearah Amira.
Amira yang masih tertegun, menerima pemberian Didi dengan perlahan.
"Kamu inget Di?" Tanya Amira dengan perasaan harunya.
Didi mengangguk dan melangkah lebih dekat kearah Amira, lalu memeluk Amira.
"Gak ada yang bisa aku lupa"
"Kalo itu tentang kamu Ra" Jawab Didi memeluk Amira dan memejamkan matanya yang teringat kalau sebentar lagi akan ada jarak diantara mereka.
"Waduuhhh"
"Muuaach" 1 kecupan mendarat di pipi Didi, membuat Didi menoleh kerarah Amira.
"Makasih ya Di , lo udah selalu buat gue seneng" Ucap Amira sambil tersenyum lebar.
"Jangan bilang makasih terus Ra" Ucap Didi yang langsung memeluk Amira
"Kenapa?" Tanya Amira
"Karena bikin lo seneng itu, kemauan Gue" Jawab Didi yang semakin erat memeluk Amira
"Tapi lo selalu bikin gue Bahagia Di" Ucap Amira setelah Didi melepaskan pelukannya.
"Bukan gue yang bikin lo Bahagia Ra"
"Tapi lo yang nentuin Bahagia Lo sendiri" Ucap Didi sambil membelai lembut rambut Amira.
"Jadi.."
"jangan bilang makasih terus" Sambung Didi yang kali ini mencubit kedua pipi Amira dengan penuh gregetan.
Amira hanya tersenyum lebar .
Senjapun menjadi saksi mereka hari itu, mengiringi setiap kata demi kata yag diucapkan oleh mereka dan mengiringi mereka menuju gelap yang penuh kehangatan.
------------
Matahari pagi itu begitu terik menyinari para siswa/i yang sedang melakukan Upacara Bendera di lapangan sekolah, ditambah sambutan kepala sekolah yang tak kunjung selesai.
"Jadi, tolong dimengerti kembali"
"Khususnya untuk yang sudah naik ke kelas 3"
"Sebentar lagi akan ada jadwal, untuk penambahan materi"
"Sudah tidak ada waktu untuk main-main lagi"
"Jadwal kalian akan padat dengan ujian-ujian percobaan sebelum ujian akhir"
"Jadi jngan Bolos-bolos terus" Ucap Ibu Nining dengan logat jawa nya yang khas.
"Mengerti?" Tanya Ibu Nining
"Mengerti Buuuuukk" Jawab para siswa/i
"Yang punya pacar, ya diputusin dulu pacarnya" Ucap Ibu Nining bercanda membuat para siswa/i menyurakinya.
"Ya nanti kalo sudah lulus ujian, teruus lulus sekolah"
"Ya dilanjut lagi, gapapa toh"
"Emangnya pada gak mau kalo pasangannya lulus juga?"
"Egois" Ucap Ibu Nining yang membuat gelak tawa para siswa/i yang mengikuti Upacara Bendera pagi itu.
"Yaudah mengerti yaa semua yaaa" Tanya Ibu Nining kembali
"Ngerti Buuuuukk" Jawab Para siswa/i serentak.
"Inget, Putusin dulu pacarnya" Ucap Ibu Nining, yang lagi-lagi membuat para siswa/i menyurakinya.
"Assalamualaikum Wr.wb" Ibu Nining menutup sambutannya, dan dijawab oleh semua peserta Upacara.
Didi dan Amira saat ini memang sudah berada dikelas 3 Sekolah Menengah Akhir, dimana ini adalah titik paling menegangkan untuk para siswa/i yang ingin segera lulus dari sekolah. Awal dari sebuah mimpi yang ingin diwujudkan, dan sebuah langkah besar yang harus diambil agar meraih prestasi yang baik.
----
Bel istirahat berbunyi, Didi dan ke-4 sahabatnya meninggalkan kelas menuju kantin sekolah.
" Eh, lo semua pada kepikiran sama omongannya Ibu Nining tadi gak sih?" Tanya Maman
"Omongan yang mana Man ?"
"Yang dia nyuruh putusin pacar?" Ucap Zidan membaliki pertanyaan Maman.
"Halaaah"
"Pake dipikirin"
"Pacar aja lo gak punya Maann, maaan"
"siapa yang mau lo putusin?" Jawab Ujang sambil tertawa.
"Si bangkee"
"Bukan omongan yang itu"
"Yang Ibu Nining bilang kita udah kelas 3 sekarang" Ucap Maman
"Iya, gak berasa yah"
"Temenan sama lu orang, ud 3 tahun aja"
"Bentar lagi pada sibuk sama hidupnya masing-masing deh" Ucap Zidan menanggapi ucapannya Maman
"Bener juga kata lu Dan" Ucap Bayu sambil menyantap makanan yang dipesannya.
"Eh, kalian kalo lulus pada mau lanjut kemana?" Tanya Zidan
"Gue mau langsung cari kerjaan ajalah" Jawab Ujang santai
"Lo Bay?" Tanya Zidan
"Bokap gue, pingin gue kuliah di Malang"
"Katanya sih ada kampus yang bagus buat jurusan Teknik" Jawab Bayu
"Lo Man?" Tanya Zidan
"Gue sama kayak Ujang"
"Mau langsung nyari kerja ajalah"
"Biar cepet dapet duit"
"Udah capek gue sekolah mulu" Jawab Ujang
"Nahhh yoii tuhh" Ucap Ujang menanggapi jawaban Maman
"Elo gimana Di?"
"Tumben lo dari tadi diem aja" Ucap Zidan
"Paling lagi mikirin Amira" Ucap Ujang meledek Didi.
"Amira bakal kuliah di Inggris" Ucap Didi membuat Ujang yang sedang menyeruput mie tersedak.
"Serius Di?" Tanya Ujang memastikan
Didi hanya mengangguk menjawab pertanyaan Ujang.
"Terus gimana Di?" Tanya Zidan memastikan keadaan sahabatnya.
"Kalo lo jadi Gue"
"Lo bakal gimana Dan?" Didi membaliki pertanyaan Zidan
"Lo Cinta gak sama Amira?" Tanya Zidan Serius
"Cinta" Jawab Didi serius
"Lo Sayang gak sama Amira?" Tanya Zidan kembali
"Sayanglah" Jawab Didi penuh keyakinan
"Ya kalo gitu, lo harusnya tau apa yang bakal lo lakuin buat Amira" Ucap Zidan
----
Hari berlalu terasa begitu cepat, ujian-ujian di semester awal sudah terlewati.
Didi selalu melingkari setiap tanggal, dan hari-hari yang dilewatinya bersama Amira, menghitung berapa banyak hari yang sudah terlewati. Didi berusaha untuk mengerti apa yang sedang terjadi dalam hubungannya saat ini, mencoba untuk memahami antara mempertahankan ataupun melepaskan apa yang sedang dia miliki.
"Ra, aku didepan sekolah kamu" Didi mengirim pesan singkat untuk Amira.
Entah sejak kapan panggilan LO-GUE berubah menjadi AKU-KAMU diantara mereka, yang pasti itu membuat mereka semakin menyayangi setiap hari nya.
Amira yang saat itu baru selesai mengikuti kelas penambahan materi, membaca pesan singkat dari Didi. Kaget membaca pesan singkat dari Didi tersebut, Amira segera menemui Didi yang sudah menunggunya didepan sekolah.
"Haii" Amira melambaikan tagannya ke Didi, yang dia lihat sudah berdiri menunggunya tepat didepan gerbang sekolah, Amira berlari kecil menghampiri Didi.
Didi, melihat Amira berlari kecil kearahnya dengan senyuman penuh rasa sayang untuk menyambut Amira berlari kearahnya.
"Kamu pas banget Di, aku baru ajah selesai ikut kelas penambahan materi, terus niatnya emang mau langsung ngabarin kamu kalo aku udah selesai, terus mau ajak kamu ketemu juga soalnya ... " Belum selesai Amira mengatakan apa yang ingin dia katakan, Didi memotong ucapan Amira.
"Selamat hari jadi yang ke 1 Tahun Ra" Ucap Didi sambil memberikan Amira 1 bucket bunga dengan tulisan "Happy Anniversary 1st Amira", dan juga boneka panda kecil yang begitu lucu, membuat Amira tertegun melihat perlakuan kekasihnya yang sangat jauh berbeda dari Raga, mantan kekasihnya.
"Hah?" Ucap Amira yang masih tertegun melihat Didi yang saat itu memberikan 1 bucket bunga, dan juga boneka panda kecil sambil tersenyum kearah Amira.
Amira yang masih tertegun, menerima pemberian Didi dengan perlahan.
"Kamu inget Di?" Tanya Amira dengan perasaan harunya.
Didi mengangguk dan melangkah lebih dekat kearah Amira, lalu memeluk Amira.
"Gak ada yang bisa aku lupa"
"Kalo itu tentang kamu Ra" Jawab Didi memeluk Amira dan memejamkan matanya yang teringat kalau sebentar lagi akan ada jarak diantara mereka.
"Waduuhhh"
"Die bedua pelukan" Ucap satpam sekokah Amira dengan logat betawinya, sambil menghampiri mereka.
Amira dan Didi yang sedang berpelukan tetiba dikagetkan dengan suara priwitan dikuping mereka.
"Priiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit" priwit itu ditiup panjang dikuping mereka.
"Astagfirullah" Ucap Didi yang kaget dan langsung melepaskan pelukannya, dan memegangi kupingnya.
"Eh bocah, lu pikir ini dimana?"
"Tuh lu baca tuh SMA PELITA"
"Disekolahan ini"
"Malah peluk-pelukan" Ucap Pak Dul dengan cablaknya, memarahi Didi.
Didi gugup, menunduk sambil menggaruk-garuk rambut belakangnya, mendengarkan omelan Pak Dul
"Lah, Elu Amira" Ucap Pak Dul kaget.
"Lu ngapain peluk-pelukkan didepan sekolahan?"
"Entar kalo ada guru lain yang liat, bisa digantung lu" Ucap Pak Dul yang kali ini memarahi Amira, yang membuat Amira salah tingkah dengan senyuman yang memaksa nya.
"Ada Bu Nur, Pak Dul" Ucap Amira berbohong sambil melihat kearah belakang Pak Dul.
Amira menarik lengan Didi dan berlari meninggalkan Pak Dul yang saat itu refleks menengok kebelakang untuk memastikan ucapan Amira.
"Lah ilang, kemane tuh bocah bedua" Ucap Pak Dul sambil memperhatikan jalanan sekitar.
"Wah, dikibulin gue sama bocah" Gerutu Pak Dul yang langsung menuju ke pos jaganya.
"Hahahahaaaahaha" Setelah lumayan jauh berlari, Amira dan Didi menghentikan larinya dan tertawa bersama
"Jail kamu Ra" Ucap Didi sambil mengatur nafas
"Ya habis mau gimana lagi" Ucap Amira yang juga mengatur nafasnya setelah berlarian.
"Oia sekali lagi makasih yah Di" Ucap Amira tersenyum, sambil menunjukkan pemberian Didi
Didi mengangguk dan tersenyum kearah Amira.
"Udah sore, aku anter kamu pulang yah " Ucap Didi tersenyum.
Amira mengangguk dan tersenyum kearah Didi.
"Oia, gimana persiapan kamu untuk kuliah di Inggris Ra?" Tanya Didi
"Masih gitu-gitu aja sih Di"
"Ya soalnya kan, kita belum ujian akhir juga, jadi belum ada hasilnya" Jawab Amira
"Kalo Aku jadi kuliah disana, kamu bakal nungguin aku gak? Tanya Amira, yang tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menatap kearah Didi.
"Kalo kamu diposisi aku, kamu bakal gimana?" Tanya Didi
"Aku mungkin akan nyerah"
"Terus berenti nungguin kamu" Jawab Amira
"Kalo gitu, kenapa kamu pilih Inggris untuk lanjutin kuliah?"
"Kenapa enggak di Jakarta?
"Atau mungkin dikota yang gak perlu Passport atau Visa"
"Biar sesekali aku bisa dateng, untuk liat keadaan kamu" Tanya Didi
"Karena disana ada impian aku Di" Jawab Amira
"Kalo gitu, aku gak akan nyerah"
"Apalagi berenti buat nungguin kamu" Ucap Didi
"Kenapa?" Tanya Anira
"Karena buat kamu bahagia itu, mimpi Aku" Jawab Didi yang membuat Amira tertegun untuk kesekian kalinya.
"Eh bocah, lu pikir ini dimana?"
"Tuh lu baca tuh SMA PELITA"
"Disekolahan ini"
"Malah peluk-pelukan" Ucap Pak Dul dengan cablaknya, memarahi Didi.
Didi gugup, menunduk sambil menggaruk-garuk rambut belakangnya, mendengarkan omelan Pak Dul
"Lah, Elu Amira" Ucap Pak Dul kaget.
"Lu ngapain peluk-pelukkan didepan sekolahan?"
"Entar kalo ada guru lain yang liat, bisa digantung lu" Ucap Pak Dul yang kali ini memarahi Amira, yang membuat Amira salah tingkah dengan senyuman yang memaksa nya.
"Ada Bu Nur, Pak Dul" Ucap Amira berbohong sambil melihat kearah belakang Pak Dul.
Amira menarik lengan Didi dan berlari meninggalkan Pak Dul yang saat itu refleks menengok kebelakang untuk memastikan ucapan Amira.
"Lah ilang, kemane tuh bocah bedua" Ucap Pak Dul sambil memperhatikan jalanan sekitar.
"Wah, dikibulin gue sama bocah" Gerutu Pak Dul yang langsung menuju ke pos jaganya.
"Hahahahaaaahaha" Setelah lumayan jauh berlari, Amira dan Didi menghentikan larinya dan tertawa bersama
"Jail kamu Ra" Ucap Didi sambil mengatur nafas
"Ya habis mau gimana lagi" Ucap Amira yang juga mengatur nafasnya setelah berlarian.
"Oia sekali lagi makasih yah Di" Ucap Amira tersenyum, sambil menunjukkan pemberian Didi
Didi mengangguk dan tersenyum kearah Amira.
"Udah sore, aku anter kamu pulang yah " Ucap Didi tersenyum.
Amira mengangguk dan tersenyum kearah Didi.
"Oia, gimana persiapan kamu untuk kuliah di Inggris Ra?" Tanya Didi
"Masih gitu-gitu aja sih Di"
"Ya soalnya kan, kita belum ujian akhir juga, jadi belum ada hasilnya" Jawab Amira
"Kalo Aku jadi kuliah disana, kamu bakal nungguin aku gak? Tanya Amira, yang tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menatap kearah Didi.
"Kalo kamu diposisi aku, kamu bakal gimana?" Tanya Didi
"Aku mungkin akan nyerah"
"Terus berenti nungguin kamu" Jawab Amira
"Kalo gitu, kenapa kamu pilih Inggris untuk lanjutin kuliah?"
"Kenapa enggak di Jakarta?
"Atau mungkin dikota yang gak perlu Passport atau Visa"
"Biar sesekali aku bisa dateng, untuk liat keadaan kamu" Tanya Didi
"Karena disana ada impian aku Di" Jawab Amira
"Kalo gitu, aku gak akan nyerah"
"Apalagi berenti buat nungguin kamu" Ucap Didi
"Kenapa?" Tanya Anira
"Karena buat kamu bahagia itu, mimpi Aku" Jawab Didi yang membuat Amira tertegun untuk kesekian kalinya.
"Kalo kamu aja gak mau nyerah sama mimpi kamu"
"Aku juga gak akan nyerah sama mimpi Aku"
"Buat bahagiain kamu" Ucap Didi Sambil mengelus rambut Amira.
"Janji?" Tanya Amira mengulurkan jari kelingkingnya ke Didi.
"Janji" Jawab Didi, yang merekatkan jari kelingkingnya untuk berjanji sambil tersenyum.
-------
Ujian sekolah mulai tiba.
Dari mulai ujian percobaan, try out hingga ujian-ujian lainnya semua membanjiri jadwal para siswa/i yang saat itu menginjakkan kaki di kelas 3.
Amira dan Didi memutuskan untuk tidak bertemu selama ujian-ujian itu berlangsung.
Didi sangat memberikan dukungan dan semangat kepada Amira, agar Amira mendapatkan prestasi yang baik disekolahnya, meski begitu mereka masih berkomunikasi lewat HP untuk memberikan kabar masing-masin. Hingga hari kelulusan pun tiba, semua siswa/i menyambutnya dengan suka cita karena masa sulit telah berlalu, penantianpun akan segera berakhir. Pengumuman kelulusan tahun ini dapat diakses melalu situs internet, jadi siswa/i dapat mengeceknya dimanapun tanpa harus kesekolah.
Pagi itu Didi, Ujang, Zidan, Bayu, Maman, Amira, Dea dan Ina sudah berada di warung Ucok untuk mengakses hasil kelulusan, tinggal Gisel yang belum tiba diantara mereka.
"Gisel dimana sih Na?" Tanya Amira kepada Ina.
"Gak tau nih Ra, gue chat gak dibales-bales" Jawab Ina sambil menunjukkan chattingannya ke Gisel.
"Coba gue tlp ya" Ucap Dea yang langsung menghubungi nomor Gise
"Gak Diangkat Ra" Ucap Dea mematikan panggilannya.
"Yaudah gini aja, kita tunggu sampe Gisel dateng ya"
"Soalnya kita kan udah janjian mau akses kelulusan bareng-bareng" Ucap Didi menenangkan Amira dan sahabat-sahabatnya.
10 Menit kemudian pintu masuk terbuka.
Gisel datang dengan membawa banyak barang sambil berlari kearah sahabat-sahabatnya.
"Guuuuuyyyysssssss"
"Aduhh maaf, maaafff, maafin gisel yaaa"
"Gisel ngaret nih"
"Gara-gara nyiapin semua ini, jadi telat deh" Ucap Gisel dengan nafas terengah-engah dan wajah yang penuh keringat.
"Lo dari mana Sel?" Tanya Dea bingung melihat temannya yang satu itu.
"Gak penting De, gue dari mana"
"Yang penting gue mau duduk dulu sekarang"
"Minta ya de" Ucap Gisel yang langsung duduk dan mengambil minuman milik Dea, dan meminumnya hingga habis.
"Sel, ini semua lo yang bawa?" Tanya Amira, sambil melihat satu persatu barang yang dibawa gisel .
"Ia Ra" Ucap Gisel mengangguk setelah meneguk minumannya Dea hingga habis.
"Gue mau, kita ngerayain kelulusan kita dengan kenangan yang indah"
"Karena saat-saat kayak gini tuh, gak akan pernah bisa kelualang lagi" Ucap Gisel dengan penuh percaya diri.
"Emang lo yakin lulus Sel?" Tanya Ina dengan menagngkat kedua alisnya.
"Yaelah Na, Optimis aja dulu, kenapa sih"
"Gue yakin, kita semua pasti lulus kok" Ucap Gisel meyakinkan para sahabatnya.
"Yaudah, yaudah"
"Karena Gisel udah susah payah bawain kita alat-alat yang sebenernya sih buat acara ulangtahun"
"Tapi Gapapa, demi membahagiakan Gisel, kita pegang satu-satu alatnya"
"Nihh kalian pilih, terus ambil" Ucap Didi
"Ihhh Didiiii, perhatian banget sama gisel" Ucap gisel dengan nada bercanda
"Gatel" Ucap Ina yang loangsung mendorong tubuh Gisel.
Didi dan Amira hanya tertawa menanggapi tingkah mereka.
"Yaudah kita mulai sekarang aja yah"
"Pertama kita buka situs sekolah kalian dulu SMA Pelita"
"Setelah itu, baru buka situs sekolah gue SMK Harapan Bangsa"
"Tapii.. siapapun nama yang sudah keluar statusnya, lulus/tidak"
"Gak boleh ada yang bersuara, harus diem, sampe semua nama selesai dicek"
"Gimana, setuju?" Ucap Didi memberikan arahan
"Oke Setuju" Jawab Amira dan semua sahabat-sahabatnya.
"Yaudah tulis disini nama lengkap kalian beserta nomor ujian kalian" Ucap Didi yang memberikan kertas serta pulpen ketengah-tengah meja.
Dea, Ina, Gisel, Amira, Zidan, Bayu, Ujang, dan Didi sudah bisa bernafas lega karena nama mereka sudah dinyatakan lulus, terakhir tinggal Maman. Wajah mereka berubah tegang kembali, saat situs tiba-tiba tidak dapat diakses.
"Alamak, tegang kali muka kalian" Ucap Ucok yang saat itu sedang lewat dan tidak sengaja melihat kearah mereka dan menghampiri nya.
"Gak lulus kalian?" Ucap Ucok yang membuat semua mata mengarah kepadanya.
"Serem kali tatapan kalian" Ucap Ucok dengan nada merendah.
"Sssstttt"
"Lagi harap-harap cemas nih bang"
"Tinggal nunggu hasilnya si Maman Bang" Ucap Bayu
"Gak lulus rupanya kau Man?" Ucap Ucok yang lagi-lagi membuat Maman, dan semua sahabatnya semakin gelisah.
"Bang, bisa diem gak?" Ucap Ujang yang mulai kesal dengan Bang Ucok, yang membuat bang ucok semakin penasaran dengan hasilnya.
"Gimana Di, udah bisa diakses lagi belum?" Tanya Zidan dengan wajah yang cemas
"Udah ni, lagi loading" Jawab Didi sambil memperhatikan layar laptopnya.
"Maman Surahmman, Lulus" Didi membaca nya dalam hati, dan menyembunyikan perasaan senangnya untuk memberikan kejutan pada Maman.
"Man, kayaknya Bang Ucok bener" Ucap Didi dengan nada yang datar, membuat semua sahabat-sahabatnya penasaran, termasuk Maman.
"Gue gak lulus Di?" Tanya Maman dengan wajah yang pasrahnya.
"Alamak" Ucap Bang Ucok menatap kearah Maman
"Iya" Ucap Didi yang lagi-lagi membuat Maman tertunduk lesuh.
"TAPI BOHOOOOOONG" Didi berteriak sambil tertawa.
"Maksudnya Di?" Tanya Maman bingung
"ELO LULUS MAAAAANN"
"KITA SEMUA LULUUSSS" Ucap Didi bersorak sorai dan meniup terompet yang sudah dipegangnya.
"YEEEEEEE" Teriak Amira dan sahabat-sahabatnya yang langsung berpelukan dan melompat-lompat. yang juga ikut bergembira, atas kelulusan mereka semua.
"Gue lulus?"
"Woo, gue lulus bang ucookk" Ucap Maman berteriak dan refleks bergelayutan dibadan Bang Ucok
"Maaak, Maman lulus Maaaak" Ucap Maman berteriak lagi dengan penuh rasa bahagia, sambil meniup-niupkan terompet yang dipegangnya.
"Adu Mak, adu mak"
"Encok pinggang aku, kau buat ini Maaan Maaaan" Ucap Bang Ucok yang langsung melepaskan dirinya dari terjangan Maman.
Didi, Zidan, Bayu dan Ujang menghampiri Maman, dan memeluknya sambil berlompat-lompatan dan menriuhkan kata-kata "KIIITA LULUUUSS, KIIITA LULUUUS, HOREEE, HOREEE" sambil tertawa bahagia.
Tidak mau kalah, Amira, Dea, Ina dan Gisel, menarik para laki-laki itu keluar warung Ucok, dan membuat lingkaran besar lalu meriuhkan kata-kata "KIIITA LULUUUSS, KIIITA LULUUUS, HOREEE, HOREEE" sambil berpegang tangan dan mengayunkan kaki kanan dan kiri kedepan dan belakang dengan tawa yang bahagia.
Didi, melepaskan pegangan tangannya dan keluar dari lingkaran, memperhatikan wajah Amira yang saat itu tertawa sangat lepas dan begitu bahagia. Begitupun dengan Amira yang saat itu tidak sengaja melihat kearah Didi, yang tersenyum kearahnya, Amira bergegas menghampiri Didi.
Amira dan Didi berdiri berhadapan, saling menatap satu sama lain. Seolah ingin mengucapkan salam perpisahan yang tak sanggup mereka ucapkan saat itu, perlahan mereka melangkah untuk semakin dekat dan lebih dekat, ketika mereka sudah mendekat air mata Amira tak mampu ditahan lagi yang langsung jatuh membasahi pipi mungilnya. Didi yang saat itu menatapnya langsung menghapus airmata itu dan memeluknya.
"Aku juga gak akan nyerah sama mimpi Aku"
"Buat bahagiain kamu" Ucap Didi Sambil mengelus rambut Amira.
"Janji?" Tanya Amira mengulurkan jari kelingkingnya ke Didi.
"Janji" Jawab Didi, yang merekatkan jari kelingkingnya untuk berjanji sambil tersenyum.
-------
Ujian sekolah mulai tiba.
Dari mulai ujian percobaan, try out hingga ujian-ujian lainnya semua membanjiri jadwal para siswa/i yang saat itu menginjakkan kaki di kelas 3.
Amira dan Didi memutuskan untuk tidak bertemu selama ujian-ujian itu berlangsung.
Didi sangat memberikan dukungan dan semangat kepada Amira, agar Amira mendapatkan prestasi yang baik disekolahnya, meski begitu mereka masih berkomunikasi lewat HP untuk memberikan kabar masing-masin. Hingga hari kelulusan pun tiba, semua siswa/i menyambutnya dengan suka cita karena masa sulit telah berlalu, penantianpun akan segera berakhir. Pengumuman kelulusan tahun ini dapat diakses melalu situs internet, jadi siswa/i dapat mengeceknya dimanapun tanpa harus kesekolah.
Pagi itu Didi, Ujang, Zidan, Bayu, Maman, Amira, Dea dan Ina sudah berada di warung Ucok untuk mengakses hasil kelulusan, tinggal Gisel yang belum tiba diantara mereka.
"Gisel dimana sih Na?" Tanya Amira kepada Ina.
"Gak tau nih Ra, gue chat gak dibales-bales" Jawab Ina sambil menunjukkan chattingannya ke Gisel.
"Coba gue tlp ya" Ucap Dea yang langsung menghubungi nomor Gise
"Gak Diangkat Ra" Ucap Dea mematikan panggilannya.
"Yaudah gini aja, kita tunggu sampe Gisel dateng ya"
"Soalnya kita kan udah janjian mau akses kelulusan bareng-bareng" Ucap Didi menenangkan Amira dan sahabat-sahabatnya.
10 Menit kemudian pintu masuk terbuka.
Gisel datang dengan membawa banyak barang sambil berlari kearah sahabat-sahabatnya.
"Guuuuuyyyysssssss"
"Aduhh maaf, maaafff, maafin gisel yaaa"
"Gisel ngaret nih"
"Gara-gara nyiapin semua ini, jadi telat deh" Ucap Gisel dengan nafas terengah-engah dan wajah yang penuh keringat.
"Lo dari mana Sel?" Tanya Dea bingung melihat temannya yang satu itu.
"Gak penting De, gue dari mana"
"Yang penting gue mau duduk dulu sekarang"
"Minta ya de" Ucap Gisel yang langsung duduk dan mengambil minuman milik Dea, dan meminumnya hingga habis.
"Sel, ini semua lo yang bawa?" Tanya Amira, sambil melihat satu persatu barang yang dibawa gisel .
"Ia Ra" Ucap Gisel mengangguk setelah meneguk minumannya Dea hingga habis.
"Gue mau, kita ngerayain kelulusan kita dengan kenangan yang indah"
"Karena saat-saat kayak gini tuh, gak akan pernah bisa kelualang lagi" Ucap Gisel dengan penuh percaya diri.
"Emang lo yakin lulus Sel?" Tanya Ina dengan menagngkat kedua alisnya.
"Yaelah Na, Optimis aja dulu, kenapa sih"
"Gue yakin, kita semua pasti lulus kok" Ucap Gisel meyakinkan para sahabatnya.
"Yaudah, yaudah"
"Karena Gisel udah susah payah bawain kita alat-alat yang sebenernya sih buat acara ulangtahun"
"Tapi Gapapa, demi membahagiakan Gisel, kita pegang satu-satu alatnya"
"Nihh kalian pilih, terus ambil" Ucap Didi
"Ihhh Didiiii, perhatian banget sama gisel" Ucap gisel dengan nada bercanda
"Gatel" Ucap Ina yang loangsung mendorong tubuh Gisel.
Didi dan Amira hanya tertawa menanggapi tingkah mereka.
"Yaudah kita mulai sekarang aja yah"
"Pertama kita buka situs sekolah kalian dulu SMA Pelita"
"Setelah itu, baru buka situs sekolah gue SMK Harapan Bangsa"
"Tapii.. siapapun nama yang sudah keluar statusnya, lulus/tidak"
"Gak boleh ada yang bersuara, harus diem, sampe semua nama selesai dicek"
"Gimana, setuju?" Ucap Didi memberikan arahan
"Oke Setuju" Jawab Amira dan semua sahabat-sahabatnya.
"Yaudah tulis disini nama lengkap kalian beserta nomor ujian kalian" Ucap Didi yang memberikan kertas serta pulpen ketengah-tengah meja.
Dea, Ina, Gisel, Amira, Zidan, Bayu, Ujang, dan Didi sudah bisa bernafas lega karena nama mereka sudah dinyatakan lulus, terakhir tinggal Maman. Wajah mereka berubah tegang kembali, saat situs tiba-tiba tidak dapat diakses.
"Alamak, tegang kali muka kalian" Ucap Ucok yang saat itu sedang lewat dan tidak sengaja melihat kearah mereka dan menghampiri nya.
"Gak lulus kalian?" Ucap Ucok yang membuat semua mata mengarah kepadanya.
"Serem kali tatapan kalian" Ucap Ucok dengan nada merendah.
"Sssstttt"
"Lagi harap-harap cemas nih bang"
"Tinggal nunggu hasilnya si Maman Bang" Ucap Bayu
"Gak lulus rupanya kau Man?" Ucap Ucok yang lagi-lagi membuat Maman, dan semua sahabatnya semakin gelisah.
"Bang, bisa diem gak?" Ucap Ujang yang mulai kesal dengan Bang Ucok, yang membuat bang ucok semakin penasaran dengan hasilnya.
"Gimana Di, udah bisa diakses lagi belum?" Tanya Zidan dengan wajah yang cemas
"Udah ni, lagi loading" Jawab Didi sambil memperhatikan layar laptopnya.
"Maman Surahmman, Lulus" Didi membaca nya dalam hati, dan menyembunyikan perasaan senangnya untuk memberikan kejutan pada Maman.
"Man, kayaknya Bang Ucok bener" Ucap Didi dengan nada yang datar, membuat semua sahabat-sahabatnya penasaran, termasuk Maman.
"Gue gak lulus Di?" Tanya Maman dengan wajah yang pasrahnya.
"Alamak" Ucap Bang Ucok menatap kearah Maman
"Iya" Ucap Didi yang lagi-lagi membuat Maman tertunduk lesuh.
"TAPI BOHOOOOOONG" Didi berteriak sambil tertawa.
"Maksudnya Di?" Tanya Maman bingung
"ELO LULUS MAAAAANN"
"KITA SEMUA LULUUSSS" Ucap Didi bersorak sorai dan meniup terompet yang sudah dipegangnya.
"YEEEEEEE" Teriak Amira dan sahabat-sahabatnya yang langsung berpelukan dan melompat-lompat. yang juga ikut bergembira, atas kelulusan mereka semua.
"Gue lulus?"
"Woo, gue lulus bang ucookk" Ucap Maman berteriak dan refleks bergelayutan dibadan Bang Ucok
"Maaak, Maman lulus Maaaak" Ucap Maman berteriak lagi dengan penuh rasa bahagia, sambil meniup-niupkan terompet yang dipegangnya.
"Adu Mak, adu mak"
"Encok pinggang aku, kau buat ini Maaan Maaaan" Ucap Bang Ucok yang langsung melepaskan dirinya dari terjangan Maman.
Didi, Zidan, Bayu dan Ujang menghampiri Maman, dan memeluknya sambil berlompat-lompatan dan menriuhkan kata-kata "KIIITA LULUUUSS, KIIITA LULUUUS, HOREEE, HOREEE" sambil tertawa bahagia.
Tidak mau kalah, Amira, Dea, Ina dan Gisel, menarik para laki-laki itu keluar warung Ucok, dan membuat lingkaran besar lalu meriuhkan kata-kata "KIIITA LULUUUSS, KIIITA LULUUUS, HOREEE, HOREEE" sambil berpegang tangan dan mengayunkan kaki kanan dan kiri kedepan dan belakang dengan tawa yang bahagia.
Didi, melepaskan pegangan tangannya dan keluar dari lingkaran, memperhatikan wajah Amira yang saat itu tertawa sangat lepas dan begitu bahagia. Begitupun dengan Amira yang saat itu tidak sengaja melihat kearah Didi, yang tersenyum kearahnya, Amira bergegas menghampiri Didi.
Amira dan Didi berdiri berhadapan, saling menatap satu sama lain. Seolah ingin mengucapkan salam perpisahan yang tak sanggup mereka ucapkan saat itu, perlahan mereka melangkah untuk semakin dekat dan lebih dekat, ketika mereka sudah mendekat air mata Amira tak mampu ditahan lagi yang langsung jatuh membasahi pipi mungilnya. Didi yang saat itu menatapnya langsung menghapus airmata itu dan memeluknya.
Semua sahabat tersenyum haru melihat Amira dan Didi, dengan penuh harapan agar mereka dapat terus bersama.
"Heii heii heii"
"Main peluk aja kau Di"
"Bukan Muhrim kalian" Ucap Bang Ucok yang menepuk pundak Didi, dan juga menarik baju nya.
"Kau juga Amira"
"Jangan mau dipeluk manusia satu ini" Ucap Bang Ucok menunjuk wajah Didi.
"Mending peluk Abang saja" Ucap Bang Ucok sambil tertawa-tawa dengan sok tampan nya.
"Haha, engga deh" Jawab Amira yang langsung menraki Didi menuju sahabat-sahabatnya yang sedang mentertawakan mereka.
"Cantik-cantik Buta rupanya" Ucap Bang Ucok dengan nada rendah sambil melihat Amira dan Didi meninggalkannya.
------
Hari yang ditunggu-tunggu oleh Didi pun tiba.
Hari dimana Amira akan meninggalkannya untuk mengejar impiannya.
Hari dimana pembuktian janji Didi yang akan terus menunggu Amira, hingga Amira kembali ke Indonesia akan dimulai hari itu.
Pagi itu Bandara Internasional Soekarno Hatta terasa sangat ramai.
Mobil Zidan berhenti diparkiran Bandara.
Didi, Zidan, Bayu, Ujang dan Maman pun turut mengantarkan Didi untuk menemui Amira yang sudah menunggunya di terminal keberangkatan internasional.
Sesekali Amira melihat jam di Hp nya, waktu terus berputar dan keberangkatan Amira sudah semakin dekat.
Amira berpelukan dengan orangtua nya, serta ketiga sahabatnya untuk berpamitan mengejar mimpi nya di Inggris, dan bergegas untuk menuju ruang check in airport, dan saat beberapa langkah Amira melangkah maju tiba-tiba Didi datang.
"Raaaaaaa"
"Amiraaaaa" Panggil Didi yang sedang berlari dengan teriakan yang membuat Amira menghentikan langkah kakinya dan menoleh kearah suara itu.
"Didi" Ucap Amira dalam hatinya sambil mencari sosok yang ditunggunya sejak tadi.
"Raaaaaa" Ucap Didi menghampiri Amira dengan nafasnya yang terengah-engah.
"Maaf telat" Ucap Didi berdiri didepan Amira dengan nafas yang masih terengah-engah, Amira yang melihatnya langsung memeluk kekasihnya itu dengan Erat sambil menangis.
"Aku fikir kamu gak akan dateng" Ucap Amira sambil menangis
Didi melepaskan pelukan Amira, dan memegang tangan mungilnya.
"Mana mungkin aku gak dateng"
"Kamu jaga diri yah disana"
"Jangan telat makan, jangan lupa mandi, jangan lupa Sholat"
"Belajar yang giat disana, biar bisa cepet pulang" Ucap Didi meledek Amira sambil tersenyum
Amira hanya tersenyum sambil mengangguk dan terus meneteskan air matanya.
"Udah dong, jangan nangis terus" Ucap Didi tersenyum sambil mengusap airmata dipipi nya Amira.
"Oia, aku ada sesuatu buat kamu Ra" Ucap Didi sambil mencari wokmen yang didalamnya terdapat kaset rekaman yang sudah disiapkan untuk diberikan ke Amira didalam Tas nya.
"Ini Dia" Ucap Didi memberikan wokmen tersebut ketangan Amira
"Wokmen?" Tanya Amira bingung .
"Ia Wokmen"
"Aku juga udah siapin kaset didalemnya"
"Jadi kalo kamu kangen aku, atau ngerasa sendirian disana"
"Kamu bisa dengerin kaset itu"
"Mudah-mudahan bisa bikin kamu semangat dan tersenyum lagi" Ucap Didi masih dengan senyuman terbaiknya.
Amira hanya mengangguk dan tersenyum, Didi membelai rambutnya dengan lembut.
"Udah gih, nanti kamu ketinggalan pesawat loh" Ucap Didi mengingatkan Amira.
Amira kembali memeluk Didi dengan Erat sambil membisikkan sesuatu ditelinga Didi.
"JANGAN SELINGKUH YA" Bisik Amira yang membuat Didi tertawa kecil.
"IYA" Bisik Didi menjawab pertanyaan Amira.
Dengan senyum bahagia dan penuh impian, Amira melambaikan tangannya kesemua orang yang mengantarnya saat itu di airport, dan bergegas menuju tempat check in untuk memasuki pesawat yang akan siap lepas landas beberapa saat lagi.
Sesaat Amira duduk didalam pesawat, Amira meraih wokmen pemberian Didi dan memasangkan hedset ketelinganya, untuk mendengarkan kaset yang disiapkan oleh Didi.
"Hay Ra"
"Sekarang kamu pasti lagi rindu sama Aku"
"Sama Ra, aku juga"
"Kamu pernah tanya gini "Elo gak pernah pacaran yah Di?"
"Terus kalo kamu inget jawaban aku itu "Pernah dan kamu adalah pacar pertama aku"
"Itu bener kok Ra"
"Kamu adalah cinta pertama dalam hidup aku Ra"
"Kamu adalah cerita terhebat yang gak akan pernah aku lupa dalam hidup aku"
"Kamu adalah halaman yang sudah memenuhi setiap part dalam cerita hidup aku di 1 tahun terakhir ini"
"Aku akan selalu nunggu kamu disni, nunggu setiap part yang akan kamu penuhi sehingga menjadi halaman yang melengkapi cerita hidup aku selanjutnya"
"Aku gak akan pernah nyerah buat bikin kamu bahagia Ra, walau ratusan mil jarak itu misahin kita"
"Walaupun nantinya, kamu bakal temuin laki-laki yang mungkin lebih hebat dari aku disana"
"Tapi aku bisa pastiin, kalo gak ada laki-laki hebat yang perasaan nya sehebat aku ke kamu"
"Sebelum ketemu kamu, aku gak tau apa impian itu"
"Aku gak tau harus gimana hidup itu berjalan"
"Yang aku tau, hidup itu buat bernafas dan tertawa bareng orang-orang disekitar kita"
"Tapi saat ketemu kamu, kamu ngajarin kalo hidup itu gak cuma sekedar bernafas dan tertawa"
"Kamu ngajarin aku, kalo hidup itu lebih berarti saat kita mencintai, dan menyayangi dengan hati"
"Kamu ngajarin aku, untuk gak jadi orang biasa buat jalanin hidup"
"Kamu buat hidup aku menjadi orang yang luar biasa, orang yang mengerti apa itu mimpi"
"Dan sejak ketemu kamu, aku udah mutusin impian Aku"
"Impian aku adalah Bahagia, dan Menua bersamamu Amira"
Suara Didi dan kata-kata yang direkamnya, membuat Amira tersenyum dan terdiam yang tanpa sadar menitihkan airmata nya kembali. Dari jendela pesawat Amira memandang langit biru cerah dengan penuh rasa syukur dan beruntung memiliki seseorang seperti Didi. Semangat Amira semakin besar untuk dapat meraih impiannya dan segera kembali menjadi mimpi yang nyata untuk kekasih hati nya.
-The End-
Penulis : Destiara Karini
Comments
Post a Comment