JODOH ONLINE

"Aku lagi nemenin keponakan aku dulu yaa,  nanti aku tlp lagi"
Ucap Rian kepada seseorang disaluran telepon nya. Vanya yang kembali setelah membeli minuman, berdiri beberapa langkah dibelakang Rian tersentak mendengar ucapan Rian tersebut. Seketika Rian membalikan badannya, betapa kagetnya dia melihat Vanya sudah kembali, dan berdiri tepat dibelakangnya.

"Vanya, kamu daritadi disini? " tanya Rian dengan nada yang gugup.

"Enggak kok,  baru aja, kamu abis terima telepon dari siapa barusan?"  Vanya bertingkah seolah tak mendengar apapun.

"Oh,  ia gak tau tadi salah sambung" Jawab Rian meyakinkan Vanya.

Vanya hanya tersenyum tipis sambil menganggukan kepalanya.

"Yaudah,  makan yuk. Aku laper banget nih" Ajak Rian sambil merangkul Vanya.
Selama makan Vanya tak banyak komentar,  berharap Rian menceritakan apa yang terjadi sebenarnya, namun sampai setelah makan dan mengantarkan Vanya pulang,  Rian tidak menceritakan apapun.

Disudut kamar kecil dengan dinding berwarna putih, Vanya memikirikan apa yang didengarnya di mall.
"Aku lagi nemenin keponakan aku dulu yaa,  nanti aku tlp lagi"
"Keponakan?"
"Siapa yang Rian anggap keponakannya?"
"Kita kan tadi lagi jalan berdua"
"Apa maksud nya Gue?"
"Masa gue dianggap keponakannya sih"
"Kita kan pacaran udah 4 tahun, masa ia dia bilang gue keponakannya"
"Apa jangan-jangan Rian selingkuh yah?"

Pertanyaan-pertanyaan itu terbesit didalam pikiran Vanya, yang saat itu sedang memandangi foto-foto mereka .

Belakangan ini, sikap Rian ke Vanya memanglah berbeda tidak seperti biasanya. Rian yang mempunyai sifat cuek bahkan belakangan ini lebih cuek dari biasanya ke Vanya. Beberapa kali Vanya meminta kejelasan hubungan mereka yang sudah berjalan 4 tahun tersebut untuk menuju ke jenjang pernikahan, namun Rian tidak pernah menganggap serius.

-----
Saat itu disore senja, berbisik ombak yang menderu-deru dipantai dengan pasir putih yang terhampar luas.
Vanya menapakkan kaki nya selangkah demi selangkah, disampingnya Rian menggenggam tangan Vanya, sambil mengayun-ayunkannya.

"Yan, kamu gak capek yah kayak gini terus?"
Tanya Vanya sambil menghentikan langkahnya, dan menghadap kearah Rian dengan tatapan penuh harapan.

"Maksud kamu kayak gini, gimana?" Rian bertanya kembali, sambil memalingkan wajahnya kearah laut lepas. Vanya yang seketika itu berdiri menatap Rian pun ikut memalingkan wajah dan menghadap laut yang lepas.

"Ia, kaya gini"
"Kita udah sama-sama dengan status pacaran itu selama 4 tahun, tapi sampe sekarang kamu gak kasih aku kepastian apa-apa". Tanya Vanya sambil memandang jauuh kedepan.

"Jadi,  maksud nya kamu udah capek jalan bareng aku?" Tanya Rian yang malah membalikan pertanyaan yang membuat Vanya marah .

"Kok jadi aku yang capek, aku gak ngebahas soal siapa yang capek siapa yang kuat Yan"
"Aku bahas soal Kita, soal Aku , soal Kamu"
"Bukan soal aku capek atau enggak jalanin ini bareng kamu". Vanya menjawab dengan nada marah, sambil menunjuk kearah rian dan kearah dirinya sendiri .

"Ya terus sekarang kamu maunya aku kayak gimana?" Rian menjawab balik pertanyaan Vanya dengan nada yang tinggi juga.

"Kok kamu nanya aku, kamu harus gimana?"
"Ya kamu kan laki-laki, kamu ambil keputusan soal hubungan kita"
"Orang tua aku, keluarga aku, semua udah sibuk nanya, kapan kita nikah?"
"Terus aku harus jawab apa ke mereka, kalo aku sendiri aja gak tau aku lagi ngejalanin hubungan yang serius atau cuma omong kosong aja selama ini". Dengan nada marah Vanya mengeluarkan isi hati yang selama ini ia pendam, selama 4 tahun ia menunggu Rian untuk memberikan kepastian, namun tak pernah ia terima kejelasannya .

"Ya itu dia kamu, terlalu pusing ngedengerin sama pertanyaan-pertanyaan orang kapan nikahlah , apalah. Jadi kamu kayak gini sekarang, kalo udah capek jalan bareng aku ya bilang, jangan mojokin aku kayak gini" Rian kembali membela dirinya, dan kembali tidak memberikan kepastian apapun, hanya membalikan pertanyaa-pertanyaan yang diberikan Vanya kepadanya.

Ketika sedang bertengkar, HP Rian berdering sebuah nama perempuan muncul dilayar HP nya.
Rian yang saat itu sedang membalikan pertanyaan Vanya, seketika terdiam dan mematikan HP nya.
Namun belum sempat Rian mematikan HP nya, Vanya berhasil merebut HP Rian dari tangannya.

"Vanya, kamu apa-apaan sih, itu HP aku dan aku punya privasi atas itu, balikin HP aku" Rian membentak Vanya.

"DIEM" Vanya kembali membentak Rian, sambil menunjuk kearah wajah Rian.

Betapa terkejutnya Vanya, ketika melihat panggilan masuk dan tak terjawab itu dari sebuah nama perempuan "INDIRA", tak hanya sampai melihat panggilan nya, Vanya langsung membuka watsapp Rian, dan ternyata ada 1 chatt yang tidak Rian hapus dengan Nama "Indira" 

"Ia sayang, aku gak tidur malem-malem kok, kamu tidur duluan yah cantik".
"Mimpi indah Beib". Vanya terkjut membaca chattingan antara Rian dengan Indira.

"Beib?"
"Kamu panggil perempuan ini dengan sebutan Beib?"
"4 Tahun ya kita pacaran Yan, bahkan kamu gak pernah manggil aku dengan kata-kata sayang"
"Dan sekarang kamu panggil perempuan ini BEIB?" Ucap Vanya sambil menunjukkan Chat ke arah Rian.

"Van, Kamu dengerin aku dulu" Ucap Ryan

"Dengerin apa? Apalagi yang harus aku denger dari kamu?"
"Dia? dia kan alasan kenapa kamu gak pernah ngasih kepastian ke Aku?"
"Perempuan ini kan Yan ?"
"Kamu tega tau gak Yan, Kamu Jahat Yan" Ucap Vanya sambil menahan air mata dan mengembalikan HP Ryan ketangannya Ryan.

"Kamu salah faham Vanya, Indira itu bukan siapa-siapa nya aku" Ucap Rya meyakinkan Vanya.

"Waktu di mall, perempuan itu juga kan yang tlp kamu?"
"Tapi kamu bilang Apa?"
"Lagi temenin keponakan kamu, Siapa? Aku?"
"Aku baru tau, hubungan yang kita jalanin selama 4 tahun, cuma sekedar hubungan OM dan Keponakan yang beda DARAH menurut kamu". Ucap Vanya sambil tertawa miris dan menangis.

"4 Tahun Yan, selama itu aku nunggu Kamu untuk kasih aku kepastian"
"Tapi apa? Kamu gak pernah kasih aku kepastian."
"Mungkin Tuhan sayang sama aku, hari ini diujung penantian Aku nunggu KAMU, Tuhan nunjukin ke Aku SIAPA KAMU".
"Dan Tuhan nunjukin Kepastian yang aku tunggu, ternyata bukan Kepastian yang aku bayangin selama ini."
"Tapi Kepastian, kalau mulai saat ini AKU, KAMU kita SELESAI !!!" Ucap Vanya dengan penuh kekecewaan, dan kepedihan sambil melangkahkan kakinya meninggalkan Rian.

-----
"Vanyaaaa" panggil Dita teman satu kantornya sambil menghampiri kearah meja tempat bekerja Vanya.
"Nih, buat lo" Ucap Dita sambil memberikan undangan pernikahan ke Vanya.

"Lah, udah ngasih undangan aja lo".
"Kapan Pacarannya?"
"Bukannya lo Jomblo ya dit, kok tiba-tiba udah ngasih undangan?" Ucap Vanya ke Dita dengan penuh keheranan. Karena yang Vanya tau, Dita itu jomblo belum punya pacar apalagi calon pendamping hidup, nah hari ini tiba-tiba dia ngasih Vanya Undangan Pernikahan.

"Ia sih, beberapa bulan yang lalu emang Jomblo"
"tapi udah 6 bulan gue deket sama cowok, tapi statusnya emang gak pacaran cuma pendekatan aja"
"Gue uda dikenalin keluarga dia, trs dia juga udah gue kenalin ke keluarga gue"
"Terus 2 Bulan lalu dia ngelamar gue, ya karena selama gue pendekatan gue ngerasa cocok, yaudah gue terima aja lamarannya"
"Lo dateng yaa sama Rian" Jawab Dita dengan penuh rasa senang, tapi gak tau apa-apa kalo ternyata Vanya dan Rian sudah Putus .

"Gue Putus Dit" Jawab Vanya sambil tersenyum memaksa.

"Lahhh, kok bisa?"
"Kapan putusnya?"
"Kok gue gak tau sih?" Tanya Dita dengan nada heran.

"Udah dari minggu lalu Dit"
"Rian selingkuh" Jawab Vanya sambil menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya.

"HAH, serius lo" Ucap Dita dengan penuh kejutan.

Vanya hanya menaikkan kedua alisnya, memberikan isyarat bahwa apa yang Ia katakan tadi adalah benar kenyataannya.

"Yaudah-yaudah, yang sabar yah Van, gue yakin lo bakal dapetin laki-laki yang lebih baik dariapada si Rian"
Ucap Dita sambil mengelus punggung Vanya, untuk memberikan kekuatan untuknya.

"Amiiin, thanks ya dit" Jawab Vanya tersenyum lega .

"Kalo gitu, lo download aplikasi perjodohan aja Van" Ucap Dita semangat .

"Apaan lagi coba, enggak ah"
"Kaya gue gak bisa nyari sendiri aja sih" Jawab Vanya sambil tertawa.

"Gue serius Van, lo fikir gue yang tadinya jomblo akut, terus tiba-tiba sekarang gue mau kewong"
"Menurut lo, gue dapet laki darimana?" Dita mencoba memberikan penjelasan ke Vanya agar dapat dipercaya.

"Nih ya gue kasih tau, gue pake aplikasi perjodohan ini"
"Ini beda kok, sama aplikasi yang lain, yang orang-orangnya gak jelas"
"Mereka yang pake aplikasi ini, kebanyakan yang udah capek nyari sendiri" Ucap Dita sambil memperlihatkan aplikasi yang digunakannya untuk mencari jodoh.

Vanya tertarik dengan ide yang diberikan temannya itu, dan setelah itu Vanya langsung mendownload aplikasi tersebut, dan menggunakannya. Berbagai macam laki-laki ada di aplikasi tersebut, tinggal Vanya memilih mana yang sekiranya cocok dengan kriterianya. Bagusnya aplikasi tersebut tidak diharuskan menampilakn nomor HP, jadi pengguna masih diberikan privasi dalam hal ini.
Jika seketika pengguna ingin menghubungi lawan bicaranya, maka pengguna bisa menggunakan aplikasi chat yang ada di aplikasi tersebut, jadi tanpa harus langsung menghubungi yang bersangkutan, bisa dibilang aplikasi tersebut cukup aman.

------
Secangkir teh hangat memulai hari sabtu pagi Vanya dengan harapan baru.
Kenangan soal Rian, terkadang masih jelas terlihat. Ditambah dengan foto-foto mereka yang masih terpajang rapih dikamar Vanya. Pagi itu Vanya berniat membereskan semua foto-foto dirinya dengan Rian dan memasukkannya kedalam sebuah kardus yang sudah ia siapkan untuk dilenyapkan.
Sambil membereskan satu-persatu foto mereka, Vanya hanya bisa menarik nafas panjang dan menyayangkan semuanya berakhir sia-sia.
Tiba-tiba HP vanya berbunyi, nada chating masuk ke HP nya, Vanya langsung meraih HP nya untuk mengecek siapa yang mengirimkan Chat ke dirinya. Ternyata chat tersebut dari aplikasi perjodohan yang Vanya download sebelumnya.

*Chat from Andra
"Hay Vanya" Sapa Andra dari aplikasi perjodohan itu.

"Hay Andra" Vanya membalas Chat tersebut.

seperti biasa pembicaraan chat berawal dari pertanyaan-pertanyaan umum, seperti umur, tinggi badan, berat badan, dan sebagainya. Chat dengan Andra terbilang singkat, hanya sekedar pertanyaan-pertanyaan umum yang tidak bisa dilanjutkan dengan perbincangan hangat.

*Chat from Bara
"Halo Vanya" Sapa Bara dari aplikasi perjodohan itu.

"Halo juga Bara" Vanya membalas chat Bara.
Dan ternyata Bara berbeda dengan Andra, Bara sedikit lebih asik diajak ngobrol lewat chat, dan setiap chat yang masuk selalu Vanya tanggapi dengan harapan bisa menghilangkan sedikit jenuh di hari sabtu pagi yang begitu tidak sempurna menurut nya.

Berkat Bara, Vanya mulai melupakan keresahan dalam hatinya, dan mencoba mengikuti ide nya Dita.
Vanya sudah mulai mengakrabkan diri dengan Bara, percakapan mereka pun sudah seperti layaknya orang yang saling mengenal sejak lama, dan saat sedang asiknya chat dengan Bara tiba-tiba ada chat baru masuk lagi.

*Chat from Arga
"Hai Vanya, sedang sibuk kah?" Sapa Arga dari aplikasi perjodohan tersebut.

Vanya yang mengira chat tersebut dari Bara, dengan PD ia menanggapi nya dengan membalas chat tersebut dengan nada bercanda.

"Ia Bara, gak sibuk kok"
"Kan daritadi juga lagi chating terus sama kamu hehe" Jawab Vanya dengan kepolosan dia, yang ternyata salah menanggapi chat masuk tersebut.

"Bara?" Arga membalas chat Vanya

Saat Vanya sadar bahwa chat yang ia kirim salah tujuan, dirinya langsung chat ke Arga kembali untuk minta maaf .

"Upsss, maaf maaf tadi saya fikir ini Bara"
"Saya salah bales chat ternyata"
"Maaf yah Arga". Vanya membalas chat Arga dengan cepat.

Namun permintaan maaf Vanya ke Arga sepertinya tidak ditanggapi saat itu, karena Arga sama sekali tidak membalas permintaan maaf Vanya, dan tidak melanjutkan chating lagi.

Vanya masih terus terfokus dengan Bara, begitupun Bara yang masih terus terfokus dengan Vanya.
Bagaimana tidak, setiap chat yang baru dikirim, sudah langsung dibalas, begitu seterusnya, hingga tidak sadar mereka sudah chat dari pagi hingga malam hari. Banyak hal yang mereka perbincangkan dari hal yang menyangkut soal hobi, Hati hingga hal-hal konyol yang sesekali membuat gelak tawa.

Jam dinding menunjukan pukul 23.00 WIB, chat Vanya dan Bara tiba-tiba terhenti karena Bara yang tidak membalas chat Vanya.

"Mungkin saja Bara sudah tidur" Vanya berkata dalam hatinya .

Tiba-tiba nada chat HP Vanya berbunyi kembali, kali ini Vanya dengan teliti membaca pengirim chat tersebut agar tidak salah lagi seperti diawal.

*Chat from Arga
"Boleh minta nomor HP nya gak?"
"Soalnya lama kalo ngetik"

Vanya yang membaca chat tersebut, mendadak bingung tapi tanpa fikir panjang Vanya langsung mengirimkan nomor HP nya via chating . Dan gak disangka Arga langsung menelpon Vanya .

"Halo dengan Vanya?" Arga mencoba meyakinkan bahwa nomor hp yang ia hubungi memang nomor hp milik Vanya.

"Ia ini dengan Vanya, maaf ini dengan siapa yah?" Vanya menjawab telepon tersebut.

"Ini Arga, yang tadi minta nomor nya Vanya" Arga langsung memperkenalkan dirinya.

"Oh Arga, ia ia, ada apa Arga ?" Vanya menjawab telepon Arga dengan nada bingung.

"Enggak apa-apa, besok hari minggu bisa ketemuan gak yah ?" Tanya Arga yang langsung mengajak Vanya untuk bertemu.

"Hah? Besok? Maksudnya ketemuan gitu ?" Jawab Vanya, dengan nada makin bingung .

"Ia besok, ketemuan, bisa gak?" Arga kembali bertanya

"Ia bisa, tapi aku yang nentuin jam dan tempatnya yah Ga". Jawab Vanya spontan, sambil merengutkan keningnya.

"Oke deh gak masalah kok, nanti kamu watsappin aja jam berapa ketemuannya dan alamatnya kenomor ini yah" Tegas Arga

"Emang nya gak kecepetan yah Ga, kalo ketemuannya besok ?"
"Kan kita belum saling kenal, Chat aja enggak pernah kan?" Vanya mencoba meyakinkan dirinya kalo jawaban menerima permintaan Arga untuk bertemu tidak salah .

"Enggak kok, lagian kalo di chat agak ribet juga"
"Mending langsung ketemu aja, jadi banyak bahan yang bisa ditanya langsung kan lebih baik" Arga memberikan Jawaban yang membuat Vanya yakin untuk bertemu.

"Oke deh kalo gitu nanti Aku Watsappin alamatnya yah" Jawab Vanya

"Oke deh, sampai ketemu besok yaa"
"Bye"  Ucap Arga

"Bye" Vanya langsung memutuskan panggilannya dengan Arga .

"Arga, besok kita ketemuan jam 11 siang, di restoran suka Makan Mall Atrium Jakarta"
"Sampai ketemu disana _Vanya_" Vanya langsung mengirimkan watsapp ke Arga jam dan tempat untuk bertemu.

----
Vanya terbangun dari tidurnya, betapa kagetnya Vanya ketika melihat jam dinding dikamarnya menunjukkan pukul 09.00 WIB. Vanya langsung bergegas bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi, 1 jam lebih ia habiskan waktu hanya untuk mandi.

Jam menunjukkan pukul 11.00 WIB, Vanya masih ribet memilah milih baju yang akan dia kenakan untuk bertemu dengan Arga. Padahal sesuai perjanjian mereka bertemu pukul 11.00 WIB.
Semua baju yang ia coba sepertinya tidak ada yang cocok ia kenakan. Ini adalah hari pertama nya Vanya melakukan kopi darat dengan orang lain yang benar-benar baru ia kenal lewat aplikasi hp.
Setelah menemukan baju yang pas untuk dirinya kenakan, Vanya langsung bergegas meninggalkan rumah dan menuju salon kecantikan, karena dia tidak ingin gagal dalam pertemuan pertamanya.

HP Vanya terus berdering, Panggilan masuk dari Arga teruss menghantui Vanya selama perjalan meuju tempat pertemuan. Sms demi Sms, Chat demi Chat semua masuk tanpa ada yang Vanya baca.

Vanya tiba ditempat tersebut pukul 14.00 WIB, mencari tau apakah Arga masih menunggunya.
Vanya mencoba menghubungi Arga, dan Arga langsung sigap mengangkat teleppon dari Vanya .

"Udah dimana?"
"Kenapa lama banget sih?" Tanya Arga dengan nada yang sudah mulai jengkel dengan Vanya.

"Ia maaf, ini udah sampe kok"
"Kamu dimana nya yah, aku pake baju putih dan celana jeans dekat pintu restoran nih" Jawab Vanya sambil mencari-cari dimana Arga duduk.

Arga melambaikan Tangannya kearah Vanya untuk memberikan pertanda, diaman dirinya duduk.
Tanpa basa-basi Vanya langsung menghampiri Arga saat itu.

"Hay ga, Maaf banget ya telat" Ucap Vanya ke Arga dengan nada rendah penuh penyesalahn agar Arga tidak marah kepadanya.

"Kemana aja emang, kok bisa ngaret gini ?"
"3 Jam loh aku nungguin kamu disini" Ucap Arga dengan nada yang BT.

"Ia, soalnya kan aku baru pertama kali nih ketemuan kopdar kayak gini"
"Jadi ya aku bingung lah, harus gimana"
"Jadi tadi ya aku kesalon dulu buat ketemu kamu" Ucap Vanya, lagi-lagi meyakinkan Arga agar dirinya tidak marah.

Pertemuan hari itu dapat dibilang menyenangkan, walaupun awalnya menegangkan dan berlangsung dengan singkat tetapi Vanya nyaman berbicara dengan Arga.

------
Dua bulan berlalu hubungan Vanya dan Arga semakin membaik.
Arga yang  awalnya tidak terlalu banyak bicara, sampai lupa waktu jika sudah berbicara dengan Vanya.
Begitupun sebaliknya, Vanya seperti menemukan sebagian hati yang pernah hilang. Seperti sudah direncanakan Tuhan. Bara pun sudah tidak pernah menghubungi Vanya lewat aplikasi itu lagi, sudah hilang dengan sendirinya digantikan oleh Arga.

Hari itu tepat adanya acara salah satu keluarga Arga yang menikah, Arga mengajak Vanya untuk menghadiri acara tersebut untuk mendampinginya. Arga mulai mengenalkan Vanya ke setiap anggota keluarganya kalau Vanya adalah wanita yang sedang Arga jadikan teman wanita terdekatnya.

Jauh sekali, jika dibandingkan dengan Rian, yang bahkan tidak pernah ada sisi seriusnya.
Walaupun Vanya sudah dipertemukan dengan Ibu Rian, tapi tetap saja masih jauh dengan yang Vanya rasakan saat Arga memperkenalkan dirinya dengan masing-masing keluarganya dengan penuh keyakinan. Sebagai perempuan Vanya merasa tersanjung, dan dihargai.

Ketika mereka tengah asik memperhatikan pasangan pengantin yang berbahagia sat itu. Tiba-tiba Arga memberikan pertanyaan yang sontak membuat Vanya kaget.

"Vanya kamu mau gak jadi istri aku?" Tanya Arga yang saat itu sedang memperhatikan pengantin langsung mengalihkan pandangannya menatap Vanya.

"Ahh ? Apa Ga ?"
"Tadi kamu tanya apa?" Vanya kaget mendengar pertanyaan Arga tersebut .

"Ia,  kamu mau gak jadi istri aku?"
"Aku udah gak mau buang-buang waktu untuk pendekatan,  penjajakan,  pacaran dan sejenisnya"
"Aku mau langsung kita serius ngejalaninnya" Jawab Arga dengan penuh kepastian.

"Harus dijawab sekarang?" Vanya masih mencoba menenangkan fikirannya dari pertanyaan Arga yang tiba-tiba.

"Enggak harus sekarang,  tapi enggak harus nanti-nanti juga,  secepatnya lebih baik" Jawab Arga sambil tersenyum dan menggandeng tangan Vanya.

"Hal ini yang gue tunggu dari Rian bertahun-tahun,  tapi ternyata bukan Rian yang nunggu gue" Kata-kata sontak keluar dari dalam hati Vanya.

Vanya, melepaskan gandengan tangan Arga dan balik memegang tangan Arga.

"Aku mau ga,  Aku mau jadi istri dan masadepan kamu" Jawab Vanya dengan penuh keyakinan sambil mengangguk perlahan dan tersenyum kearah Arga.

--------
Dua bulan berlalu,  sejak Arga meminta Vanya untuk menjadi istrinya dan Vanya menerimanya.

Tepat dihari sabtu,  dengan matahari yang bersinar indah seolah ikut menyaksikan kebangkitan Vanya dari keterpurukan atas masalalunya.

Arga mendatangi rumah Vanya, dengan membawa keluarga besarnya dan secara resmi melamar Vanya,  dibimbing oleh Ayah Arga untuk menyampaikan maksud dan tujuannya saat itu.

"Assalamualaikum Wr. Wb"
"Saya adalah Ayah dari Arga,  yang mana niat saya membawa keluarga besar saya adalah atas permIntaan Arga,  untuk melamar adinda Vanya,  anak dari Bapak dan Ibu untuk menjadi istri serta masadepan anak saya yaitu Arga"
"Apakah lamaran saya untuk anak saya diterima oleh adinda Vanya? "

"Kalau saya sebagai orangtua dari Vanya,  hanya mendukung apapun keputusan dari Vanya, bagaimanapun juga Vanya yang akan menjalankan kehidupannya bersama pasangannya kelak" Ucap Ayah Vanya kepada Ayah Arga serta keluarga besar Arga.

"Bagaimana Vanya,  apakah Vanya menerima lamaran dari nak Arga, untuk menjadikanmu Istri serta masadepan hidupnya?" Tanya Ibu Vanya ke Vanya sambil memegang tangan dingin anaknya tersebut,  untuk memberikan keberanian dalam mengambil keputusan.

"Bismillah,  Vanya terima bu lamarannya Arga" Jawab Vanya sambil menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya segera.

Hari itu,  adalah hari dimana Vanya memutuskan untuk melangkah maju,  tanpa harus menengok kembali kearah belakang.  Memutuskan memulai semua hal baru,  tanpa harus mengingat kembali apa yang terjadi dimasalalu.

-------
Satu bulan sebelum moment lamaran itu tiba, Vanya menerima watsapp dari seseorang yg tak asing baginya. Sebuah masalalu yang sudah dirinya kubur jauh dilubuk hati nya, kini hadir seolah menawarkan kisah baru.
Rian mengirim pesan lewat watsapp ke Vanya saat itu.

"Hai Vanya, apa kabar? "
"Aku gak tau harus mulai darimana,  aku mengerti saat ini mungkin aku hanyalah bayang semu untuk mu,  hanya sebuah masalalu buruk yang kamu punya, tak selayaknya aku seperti ini ke kamu van, tapi sampai detik ini yang aku tau,  aku tak mampu melepaskanmu dari hidupku. Rasa itu masih ada van, aku baru sadar bahwa rasa itu begitu besar untukmu.
Indira, wanita yang seharusnya tak aku biarkan hadir diantara kita, membuat aku menjadi laki-laki bodoh yang dengan mudahnya melepaskan wanita sebaik kamu van. Tak seharusnya aku mengabaikanmu,  saat kamu hadir dengan segala kepastian serta ketulusan yang kamu punya. Andai waktu itu bisa kuputar kembali Van,  tak akan kubiarkan kamu pergi dari hidupku walaupun hanya sebentar,  tak akan aku biarkan kamu lepaskan genggaman tanganku saat itu,  dan tak aku biarkan kamu meneteskan airmata ketulusan itu.
Aku mohon,  beri aku kesempatan sekali lagi untuk menjadi pelindungmu,  untuk menjadi masadepanmu,  akan aku perbaiki segalanya yang aku pernah lakukan. Aku mohon kembali lah kepadaku.
Aku yang masih mencintaimu
-Rian-

Vanya membaca pesan itu dengan hati yang berdebar,  mata yang kembali ingin meneteskan airmata serta ingatan-ingatan yang tiba-tiba menumpuk difikirannya.

Vanya membalas pesan yang dikirim oleh Rian.

"Gue bukan malaikat,  yang punya jutaan kekuatan yang bisa gue gunain buat nahan rasa sakit"

"Kita sama kok,  cuma punya 1 hati, tapi bedanya 1/2 hati gue ud lo rusak gitu aja,  dan 1/2 hati yang lainnya masih sanggup buat mulihin 1/2 hati yang rusak itu"

"Untuk memaafkan mungkin sudah,  tapi untuk lupa sepertinya susah"

"Silahkan mencari hati yang lain untuk bisa menyempurnakan hati lo. Karena hati gue saat ini,  sudah cukup disempurnakan dengan hati yang baru" .

Begitulah jawaban Vanya,  atas pesan yang dikirim oleh Rian.

Vanya memutuskan untuk menangis,  menangis untuk terkahir kalinya mengingat masalalu itu,  dan yakin menjalankan hidup baru dengan hati yang baru.


- THE END -

Penulis :  Destiara Karini


Pesan singkat :
Bersyukur dengan apa yang kita punya,  dengan begitu kita akan mendapat apa yang kita butuh.

Mau bertahun-tahun menjadi seorang kekasih,  kalo Tuhan bilang "Enggak" kalian mau apa?



Comments

  1. That's cool... Nice story

    for the next i think you should write from the arga's story life

    I will helping you to get inspired

    ReplyDelete
  2. Woww.
    Thankyou somuch.
    Iam so excited, maybe you can send me by email about that.

    Raralichious@gmail.com
    Or
    Destiara_karini@yahoo.com

    I'll be witing :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

KRL KERETA API

My birthday