KEKASIH BAYANGAN
"Woii Gal, nanti ketemu gue yaa Jam 8 malem di Taman Kota, ada yang mau gue omongin PENTING !"
Pesan singkat tersebut dikirim oleh Gita ke Watsapp Galih yang saat itu langsung dibaca oleh Galih.
Galih yang sedang asik main PS langsung menjawab pesan singkat Gita dengan sigap dan bercandaan sambil tersenyu-senyum sendirian.
"Ade apee emang, tumben banget lo ngajakin gue ketemuan".
"Rumah tinggal nyebrang sampe ajaa, pake ketemuan segala"
"di Taman Kota pulaaaaa, lo mau nembak Gue yeee? Hahaha"
"Pokoknyaaaa PENTING, awas lo kalo gak dateng !!" Jawab Gita dengan ancaman.
"Iyaaa bawel, awas lo ngaret !" Galih kembali membalas ancaman Gita.
Saat itu waktu menunjukan pukul 16.00 WIB, galih menghentikan permainan PS nya, dan langsung menuju barbershop terdekat untuk cukur rambut. Maklum, Gita paling gak suka dengan rambut Galih yang sudah mulai gondrong.
"Cukur rambut udah, Mandi udah, Sholat juga Udah, Udah wangi jugaaa"
"Udah ganteng laaahhh gue pokoknya" Ucap Galih didepan cermin memuji dirinya sendiri, sambil merapihkan rambut dan menilai penampilannya saat itu yang sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Gita.
Setelah semua nya selesai Galih langsung meninggalkan kamar, dan menuju keluar rumah, di ruang tamu ada Ibu Galih sedang asik menonton Tv.
"Bu, Galih keluar dulu ya" Ucap Galih sambil menghampiri Ibu nya dan mencium tangan Ibu nya.
"Wangi banget, mau kemana emang?' Jawab ibu sambil mencium wangi tubuh anak laki-lakinya.
"Mau ketemu Gita bu, ditaman kota." Jawab galih sambil berlari kearah pintu rumah.
"Hati-hati gaaall" Jawab ibu dengan sedikit berteriak kearah Galih.
Pukul 20.00 WIB, Galih sudah tiba ditaman kota dan siap menunggu kedatangan Gita.
"Gue udah di taman kota, lo dimana?"
"Inget yaaa, Jangan ngareetttt" Galih langsung mengirimkan pesan singkat lewat watsapp ke Gita.
Sesekali gali merapihkan rambut, dan pakaian yang ia kenakan.
Pukul 21.00 WIB Gita belum juga datang, watsapp Galih pun tidak dijawab oleh Gita.
Galih mencoba menghubungi Gita, namun ternyata HP Gita tidak aktif.
Waktu terus berputar, Galih coba menghubungi Gita berkali-kali namun tak ada jawaban yang bisa Galih dapatkan. Pukul 23.00 WIB Gita menghubungi Galih.
"Hallo Gita !"
"Lo dimana sih, gue nunggu lo udah berjam-jam disini tapi lo gak dateng-dateng" Ucap Galih dengan penuh rasa kesal.
"Sorry Gal, tadi pas mau ke taman kota nyokap minta gue nemenin dia kerumah temennya"
"HP gue lobet juga, ini baru aja nyalah"
"Maaf yah Galih, gue gak bisa kesana deh kayaknya"
"Lo Pulang aja yah" Ucap Gita dengan nada menyesal sambil menahan gelak tawa.
Gita memang sengaja membuat Galih keluar rumah, agar bisa membuat kejutan ulang tahun untuk Galih.
Selama Galih menunggu Gita di taman kota, Gita menyiapkan segala sesuatu nya dirumah Galih, mulai dari kue ulan tahun, terompet ulang tahun, dan alat-alat surprise lainnya .
Bahkan Gita mengundang beberapa sahabat-sahabat Galih untuk membantunya membuat kejutan untuk ulangtahun Galih. Ibu Galih pun, turut membantu dalam rencana ini .
Di taman kota Galih terlihat sangat kesal, dia menendang botol pelastik yang ada dihadapannya, mengacak-acak rambutnya yang sudah ia tata rapi sejak tadi.
Galih langsung bergegas mengambil motornya dan pulang kerumahny, ditemani dengan rintikan gerimis yang membuat hatinya semakin serba salah .
Pukul 24.00 WIB Galih tiba dirumahnya, tak ada yang berbeda dari sebelumnya sehingga Galih tidak curiga mengenai rencana Gita. Suara motor Galih terdengar sampai ke kamar Galih, yang posisi nya langsung menghadap kearah teras rumah. Tidak ada rasa curiga dalam diri Galih, hanya perasaan kesal dengan Gita karena membatalkan pertemuannya.
Galih membuka pintu kamarnya dan terlihat sangat gelap, dan seketika Galih menghidupkan lampu kamarnya
"Surpriiiiiiseeeeeeee !!!!!!"
"Happy Birthday Galih, Happy Birthday Galih, Happy Birthday Happy Birthday, Happy Birthday Galih"
Semua orang yang ada dikamar Galih termasuk Gita kompak berteriak dan menyanyikan lagu Happy Birthday untuk nya .
Galih terlihat seperti orang yang bingung, beberapa saat lalu hatinya kecewa dan kesal karena Gita yang tiba-tiba membatalkan janjinya, dan tiba-tiba orang-orang terdekat saat itu ada didalam kamarnya memberikan kejutan ulangtahun untuknya.
Dan dari arah belakang Pintu, Gita datang menghampiri Galih dengan membawa sebuah Kue Ulangtahun lengkap dengan lilin angka 20 diatas tangannya.
"Happy Birthday Galaaaaahhhh" Ucap Gita ke Galih.
*Galaaah panggilan Gita ke Galih, karena postur tubuh Galih yang kurus dan Tinggi seperti galah.
"Ini pasti semua rencana lo kan Ta?" Ucap Galih dengan senyum mengembang, yang menggambarkan betapa Bahagianya dia saat itu.
Gita hanya menaikkan kedua alisnya dengan Senyum lebarnya .
"Ditiup dulu dong lilinya"
"Jangan lupa Beroda" Ucap Gita mengingatkan Galih sebelum meniup lilinnya, dan Galih langsung meniup lilin tersebut.
"Sorry yah Gal soal yang tadi" Ucap Gita sambil tersenyum dan mengacungkan dua jari nya ke arah Galih.
Rasa kesal Galih saat itu hilang seketika, dengan apa yang sudah dilakukan Gita malam itu .
Sebuah kejutan ulangtahun sederhana, yang sudah Gita siapkan matang-matang .
Galih dan Gita memang sudah bersahabat sejak mereka kecil, rumah mereka yang berdiri tegak bersebrangan, hingga sekolahan pun di 1 atap yang sama, tapi saat kuliah keduanya berpisah.
Karena Galih mengambil jurusan Design sedangkan Gita mengambil Jurusan Broadcasting.
------
Setiap hari libur, Galih dan Gita menghabiskan waktunya bersama-sama, mulai dari main PS, Main kartu, Monopoli, sampai sekedar jalan dan makan. Persahabatan mereka sudah seperti sepasang kekasih yang saling mengasihi. Sejak SMA perasaan Galih ke Gita yang awalnya hanya sebuah Persahabatan berubah menjadi perasaan yang lebih ke Gita.
Galih selalu ada untuk Gita, kapanpun Gita butuhkan, sekalipun cuma nemenin Gita ngeliat Bintang dimalam hari.
Malam itu saat mereka asik menikmati indahnya bintang dilangit dari depan teras rumah Galih dengan beralaskan tikar, Galih membuka sebuah perbincangan.
"Ta, kenapa sih lo suka Bintang?" Tanya galih sambil menunjuk bintang-bintang yang ada diatas langit.
"Karena, bintang itu setia" Jawab Gita sambil menatap bintang-bintang itu.
"Setia?" Tanya Galih bingung.
"Ia"
"Coba deh setiap malam datang, lo liat katas langit"
"Segelap apapun langit dimalam hari, Bintang gak akan pernah ninggalin langit"
"Walaupun sedikit, bintang selalu memberikan cahayanya ditengah-tengah gelapnya langit malam"
"Bahkan setelah hujan turun dimalam hari, langit gak pernah ngerasa sendiri"
"Bintang langsung menunjukan cahaya nya yang indah"
"Seolah memberikan pertanda bahwa setelah hujan, akan selalu ada keindahan" Jawab Gita dengan penuh senyuman.
"Kalo elo Ta, pernah gak ngerasa sendiri?" Tanya Galih sambil melihat kearah wajah Gita, yang sedang asik menikmati indahnya bintang-bintang diatas langit.
"Pernah"
"Pas waktu itu ada anak laki-laki manja sakit, terus harus dirawat dirumah sakit selama 1 minggu karena penyakitnya yang katanya kecapean gitu" Jawab Gita sambil menyindir Galih, yang waktu SMA pernah dirawat dirumah sakit.
"Gue inget banget, waktu itu hidung lo mimisan terus lo pingsan didepan muka gue"
"Gue panik, gue pikir lo bakal mati". Ucap Gita dengan nada sedikit kesal mengingat kejadian lampau itu.
Galih tertawa mendengar jawaban Gita.
"Berarti waktu itu ada yang merasa kehilangan dong yah"
"Cieeeee yang kesepian" Ledek Galih sambil menyolek pipi Gita.
"Kalo tiba-tiba gue pergi gimana Ta?" Tanya Galih dengan anda yang serius
"Gak mungkin lah"
"Lo lupa?"
"Lo kan selalu bilang ke gue kalo mau kemana-mana"
"Apa-apa laporan, kesana sini laporan"
"Berasa gue nyokap lo tau gak" Jawab Gita meledek Galih sambil merengutkan hidungnya kearah galih.
"Oia Gal, gue mau cerita deh" Ucap Gita yang kemudian langsung merubah posisinya yang sebelumnya berbaring, sekarang duduk untuk bersiap menceritakan sesuatu ke Galih.
"Mau cerita apa?" Tanya Galih, yang juga langsung duduk menghadap kearah Gita yang memberikan isyarat bahwa dia sudah siap mendengarkan cerita Gita.
"Gue lagi deket gitu sama cowok Gal, namanya Dimas"
"Anak Broadcst jugaa, dia semester akhir sekarang" Ucap Gita memulai cerita nya dengan penuh semangat.
Galih yang mendengar hal tersebut sedikit kehilangan mood nya, tapi Galih gak mau kalo Gita sampai tau mengenai perasaannya, Galih takut kalo Gita tau persahabatan mereka akan menjadi jauh, dan gak bisa sedekat ini lagi dengan Gita.
"Oia?"
"Gimana anaknya ?"
"Jangan cuma nilai dari penampilannya doang"
"Nanti lo ketipu lagi" Jawab Galih menanggapi cerita Gita dengan sedikit candaan.
"Dimas baik kok Gal"
"Dia anaknya asik banget buat diajak ngobrol"
"Udah beberapa kali sih gue jalan sama dia, dan gue ngerasa nyaman banget sih" Gita berlanjut menceritakan tentang Dimas ke Galih, yang saat itu memperhatikan wajah Gita.
Panjang kali lebar Gita menceritaka soal Dimas, Galih hanya memperhatikan wajah mungil sahabatnya.
Berharap Gita berhenti membicarakan Dimas diantara mereka. Jauh dilubuk hatinya, Galih sangat cemburu tetapi ia gak bisa untuk bilang jujur ke Gita, Galih memilih berusaha buat pura-pura bahagia denger kata demi kata yang dikeluarkan Gita tentang Dimas.
----------
Hari itu senja menunjukan keindahannya,
Didepan sebuah Universitas bercat biru, Galih dan motor ninja nya sudah menunggu Gita keluar dari kampusnya. Galih tau hari ini matakuliah Gita gak terlalu padat, dan kemungkinan bisa keluar kelas lebih awal. Galih sengaja tidak memberitahu Gita, kalau hari ini dia ingin menjemputnya dan ingin mengajaknya pergi.
Dari kejauhan Rambut ikal Gita yang dikuncir kuda, mudah sekali dikenali oleh Galih.
Senyuman manis yang mengembang dari wajah mungil Gita, membuat Galih semakin mengagumi sosok sahabat nya itu. Tiba-tiba sosok laki-laki dengan postur tubuh tinggi, bersih dan mempunyai wajah yang tampan menghampiri Gita. Laki-laki itu adalah Dimas yang sedang melakukan pendekatan dengan Gita.
Entah obrolan apa yang mereka perbincangkan saat itu, hingga mereka pergi bersama. Galih yang melihat hal tersebut, langsung terdiam dan memilih untuk segera meninggalkan kampus Gita.
Senja berganti malam, Galih duduk dijendela kamarnya menghadap kearah rumah Gita, sambil mengayunkan irama petikan Gitar sebagai curahan hatinya saat itu.
Dari kejauhan lampu mobil terlihat menyorot kearah rumah Gita.
Mobil sedan berwarna putih itu berhenti tepat didepan gerbang rumah Gita. Seketika itu Gita keluar dari dalam mobil tersebut, dengan senyum yang mengembang, melambaikan tangan ke seseorang yang ada didalam mobil tersebut. Siapa lagi orang itu, tidak lain adalah Dimas.
Galih memperhatikan Gita dari jendela itu, nampaknya Gita sedang bahagia dan benar-benar merasakan kasmaran saat itu. Galih sangat mengenal bagaimana sifat sahabatnya itu jika sedang bahagia, Galih bahkan hafal gerak gerik Gita ketika sedang kasmaran. Karena beberapa kali Gita pernah juga merasakan hal seperti ini, namun beberapa kali juga Gita gagal menjalani hubungannya, dan tetap berada disisi Galih.
"Galaaaaahhhhhhhh" Gita memanggil Galih sambil melompat dengan setengah teriak dan melambaikan kedua tangannya sambil tersenyum lebar.
Galih hanya membalas dengan lambaian tangan dan senyuman kecil. Sedangkan Gita langsung meninggalkan Galih dan masuk kedalam rumahnya. Bersamaan dengan itu Gita mengirimkan galih pesan singkat lewat Watsapp, dan langsung diterima oleh Galih.
"Woii Gal, gue udah jadian nih sama Dimas :)"
Entah apa yang Galih rasakan setelah membaca watsapp dari Gita, perasaannya campur aduk antara bahagia karena sahabatnya sudah menemukan tambatan hatinya, namun disisi lain sakit dirasakan Galih, yang tidak bisa menggapai apa yang dia rasakan selama ini.
"Oia?"
"Syukurlah, gue turut seneng"
"Semoga lo bahagia sama dia" Galih membalas watsapp Gita, lalu mematikan HP nya dan langsung membaringkan badannya keatas kasur dengan mata terpejam.
------
Sudah hampir 6 bulan, Gita menjalani hubungan dengan Dimas.
Waktu kebersamaan Gita dengan Galih menjadi semakin sedikit. Tidak ada lagi gelak tawa diruang tamu rumah Galih ataupun Gita. Gita semakin sering meghabiskan wakatunya dengan Dimas, bahkan diwaktu libur biasanya Gita meluangkan waktunya untuk melihat bintang bersama galih diteras depan rumah Galih.
Tanpa sepengetahuan Gita, Galih mulai menjaga Jarak dengan Gita agar tidak begitu merasakan sakit ketika melihat Gita bersama orang lain. Dan perkuliahan Dimas semakin padat dikarenakan saat ini ia sudah menginjak semester terakhir. Dimas mulai disibukkan dengan segala sesuatu menyangkut perkuliahan, dari mulai mengikuti semester pendek, pengajuan skripsi dan lain sebagainya, Gita pun mulai diabaikan sedikit demi sedikit.
Siang itu, Galih yang sedang asik mendengarkan musik dengan volume kencang sambil bermain PS, menghentikan permainannya karena melihat ada panggilan masuk di Hp, Galih langsung meraih Hp nya dan melihat panggilan di Hp nya. "Gita" Nama itu tiba-tiba muncul dilayar HP Galih, setelah sekian lama sibuk dengan hubungan barunya.
"Hallo Ta" Galih mengangkat tlp dari Gita lewat speaker Hp nya.
"Hallo gal, lo dimana?" Tanya Gita, yang menelpon Galih dari balik jendela kamar tidurnya sambil melihat kearah rumah Galih.
"Dirumah Ta" Jawab Galih yang sedang asik bermain PS.
"Apa? Gak kedengeran Gal" Jawab Gita setengah teriak, karena tidak mendengar jelas suara Galih yang kebanting dengan suara musik.
"Dirumah Ta, Gue dirumah kenapa?" Galih menjawab tlp nya dengan berteriak dengan wajah masih fokus dengan permainan PS nya.
"Jalan yuk Gal" Gita mengajak Galih untuk pergi .
"Gak bisa Ta"
"Gue udah ada janji sama orang" Galih menolak ajakan Gita.
"Loh, mau kemana?"
"Ada janji sama siapa?" Jawab Gita penasaran.
"Ada deh"
"Udah dulu yah Ta" Jawab Galih memutuskan sambungan tlp dari Gita.
Mendengar jawaban Galih, Gita langsung mematikan Tlp nya.
"Berisik banget sih" Gerutu Gita sambil memgang kuping nya setelah menelpon Gali
"Galih janjian sama orang?"
"Sama siapa?"
"Pacarnya?"
"Galih kan gak punya pacar"
"Sok sibuk banget" Gerutu Gita sambil menarik bangku untuk ia duduki yang ada dikamarnya.
Gita merasa ada yang berbeda dari Galih saat itu. Biasanya setiap Gita ajak jalan, Galih selalu Mau dan gak pernah nolak, dan setiap Galih ada janian sama orang Galih pasti info ke Gita sama siapa Galih janjian, sampai tempat buat ketemuannya pun Galih bakal info ke Gita.
Hari itu Gita benar-benar merasakan ada sesuatu yang aneh dengan Galih, dan yang paling dirinya rasakan adalah Gita benar-benar merasa sendirian . Dimas yang sibuk dengan perkulianannya dan Galih yang seakan menjaga jarak dengan dirinya.
--------
Hari ini, Galih merasakan sakit dibagian belakang kepalanya, Galih yang saat itu sedang berada dikampus, memutuskan untuk segera pulang.Dalam perjalanan Galih mulai merasakan matanya tidak terlalu jelas untuk melihat, Galih berhenti beberapa kali untuk memastikan penglihatannya, dan mengendari motornya dengan hati-hati hingga tiba dirumah.
"Assalamualaikum" Ucap Galih, sambil membuka pintu rumahnya.
"Waalaikumsalam"Jawab Ibu Galih, yang saat itu sedang berada diruang TV.
"Loh gal kok kamu sudah pulang?" Tanya Ibynya dengan nada heran.
Pendengaran Galih saat itu juga mulai terganggu, Galih hanya mendengar samar-samar kata-kata yang diucapkan oleh Ibu nya. Galih mencoba mengerti apa yang disamapaikan oleh Ibu nya.
"Ia bu" Galih menjawab pertanyaan Ibu nya.
"Muka kamu pucat sekali Gal, kamu sakit?" Tanya Ibu Galih sambil memegang tubuh Gali yang saat itu sangat dingin dan berkeringat.
"Gal, hidung kamu berdarah"
"Kamu mimisan lagi Gal?" Tanya Ibu Galih dengan nada yang sangat Khawatir,
Galih yang saat itu menahan sakit dikepalanya, tidak mendengar sama sekali yang diucapkan oleh Ibu nya, Galih mencoba mengerti apa yang disampaikan Ibunya, namun ia gagal. Pendengarannya benar-benar tidak berfungsi saat itu.
Galih yang berdiri tegak dihadapan Ibunya, seketika tumbang dengan darah yang keluar dari mulutnya.
Galih tidak sadarkan diri, Ibunya berkali kali memanggil nama Galih saat itu.
"Galih"
"Galih"
"Galih bangun Nak, Bangun"
"Gali kenapa Nak?"
"Ayo Bangun Galih?" Ucap Ibu nya dengan rasa khawatir diiringu air mata yang mengalir deras sambil menepuk pipi Galih yang sudah berlumuran darah, dan mengoyak-oyang tubuh Galih, berharap Galih sadar. Namun Galih tidak sadarkan diri sama sekali.
Ibunya langsung menelpon ambulance dan membawanya ke Rumah Sakit tempat Galih di Operasi saat SMA.
Setibanya dirumah sakit Ibu Galih yang terus menangis berlari mengantar Galih yang terbaring tak sadarkan diri dengan darah yang berlumur dimulut dan tubuhnya diatas ranjang pasien hingga ruang ICU. Ibu Galih hanya bisa mengantar Galih sampai depan Pintu ICU, dan menunggunya diluar.
Setelah beberapa lama menunggu, seorang perawat memanggil Ibu Galih untuk menemui dokter yang menangani Galih.
Tokk.. tok.. tokk...
Suara pintu terdengar dari luar ruangan dokter.
Ibu Galih membuka pintu tersebut dan masuk untuk menemui Dokter.
"Permisi Dokter, saya Ibu dari pasien atas nama Galih" Ucap Ibu Galih dengan raut wajah sedih dan mata yang sembab.
"Oh ia, Ibu nya Galih"
"Silahkan duduk Ibu" Jwab dokter sambil mempersilahkan Ibu Galih duduk di kursi yang sudah disiapkan.
Diruangan dokter, Ibu Galih duduk berhadapan dengan dokter yang membelakangi sebuah layar yang terdapat gambar hasil CT Scan Galih.
"Jadi begini"
"Ini adalah hasil CT Scan anak Ibu" Ucap dokter sambil berdiri menunjuk kearah layar.
Ibu Galih hanya mengangguk .
"Jadi akan saya jelaskan disini"
"Saya harap, Ibu bisa sabar mendengarnya" Dokter kembali mengucapkan kata-kata yang membuat Ibu Galih kembali cemas.
"Anak Ibu terkena Kanker Otak,dan sudah memasuki stadium 4" Ucap dokter secara perlahan, dan mengejutkan Ibu Galih.
Ibu Galih yang duduk dengan perasaan cemas, Tersentak seketika mendengar vonis yang diucapkan oleh dokter tentang anaknya. Air mata itu kembali mengalir, isak tangis terdengar meski sudah menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Stadium 4?" Tanya Ibu Galih sambil menahan tangisnya.
"Ini merupakan sel Kankernya dan sel ini sudah menyebar" Ucap dokter sambil menunjukkan sel kanker yang ada di hasil CT Scan milik Galih.
Ibu Galih bangkit dari tempat duduknya menghampiri dokter yang sedang berdiri memberikan penjelasan kepada Ibu Galih.
"Tapi dulu, di rumah sakit ini Galih sudah pernah dioperasi untuk pengangkatan sel kanker"
"Dan waktu itu juga Dokter kan yang mengoperasi anak saya"
"Dokter bilang Operasi nya berhasil, dan sel kanker itu sudah hilang"
"Tapi kenapa sekarang muncul lagi dan tiba-tiba sudah memasuki stadium akhir dok?"
"Kenapa dokter?" Tanya Ibu Galih dengan tangisan yang mengiringi nada bicaranya, sambil mendorong-dorong tubuh dokter tersebut dengan penuh emosi.
Dokter melepaskan tangan Ibu Galih, berjalan menuju jendela dan berdiri disana, sambil menceritakan apa yang sebenarnya terjadi saat operasi pertama itu.
"1 Hari sebelum saya operasi Galih, beberapa tahun lalu"
"Galih menemui saya, dan bertanya mengenai apa yang sebenarnya terjadi"
"Dan saya menjelaskan apa yang sedang terjadi dalam dirinya"
"ia bertanya kepada saya, apakah Kanker Otak yang dideritanya dapat disembuhkan?"
"Awalnya saya tidak menjawab, saya takut membuatnya patah semangat"
"Tetapi Galih terus memaksa saya untuk menjawabnya"
"Saya bilang, bahwa saat ini belum ada pengobatan yang bisa menyembuhkan penyakit Kanker"
"Kemungkinan hanya bisa menghambat perkembangannya"
"Saat itu Galih terdiam, lalu mengatakan hal yang membuat saya berfikir bahwa saya bukanlah dokter yang hebat, saya tersentak dengan kata-kata Galih saat itu"
"Dia bilang, Jika belum ada pengobatan yang bisa menyembuhkan Kanker, berarti Dokter juga tidak bisa menyembuhkan Saya, dan Operasi yang dilakukan besok itu hanya menghambat perkembangan Kanker bukan membunuhnya, berarti lewat dokter, Tuhan memberikan saya kesempatan hidup lebih panjang sedikit"
"Jika memang seperti itu, saya mohon kepada dokter"
"Saat Operasi selesai, tolong sampaikan kepada Ibu Saya, bahwa Operasi saat itu Berhasil"
"Dan sudah tidak ada lagi sel kaker yang tersisa dikepala saya"
"Saya ingin Ibu saya menjalani hidupnya seperti biasanya, saya ingin selalu melihat senyuman Ibu saya tanpa ada rasa Khawatir yang berlebihan kepada saya".
"Dan beberapa minggu yang lalu, Galih menemui saya kembali"
"Dia menceritakan, semua gejala yang sedang ia rasakan belakangan ini"
"Saya sudah mengetahui, bahwa cepat atau lambat hal ini akan terjadi"
"Saya sudah katakan berulang kali, bahwa Galih harus dirawat secara Intensif"
"Tetapi Galih menolaknya, alasannya masih sama"
"Itu semua karena dia tidak ingin Ibu hawatir dengannya"
Ibu Galih menangis mendengarkan setiap hal yang diceritakan oleh dokter tersebut.
"Lalu apakah Galih, masih punya harapan untuk hidup dok?" Tanya Ibu Galih dengan nada yang sangat sendu
"Galih selalu mempunyai harapan untuk hidup"
"Galih memiliki banyak sekali kekuatan dalam hidupnya"
"Tidak banyak pasien penderita Kanker yang kuat bertahan melawan rasa sakitnya selama ini"
"Tetapi Galih berbeda"
"Dia masih memiliki keinginan untuk hidup" Jawab Dokter sambil meyakinkan Ibu Galih kalau Galih bisa bertahan.
"Berapa lama Galih bisa bertahan Dok?" Tanya Ibu Galih
"Untuk pasien penderita kanker dengan tingkat yang sudah masuk dalam tingkatan akhir"
"Kemungkinan sisa hidupnya tidak akan lebih dari 12 Bulan"
"Itu pun jika Galih benar-benar kuat berjuang melawan penyakitnya"
"Tapi saya bukan Tuhan, saya hanya bisa memberikan kemungkinan"
"Tapi selebihnya, Tuhan lah yang berhak menentukan" Jawab dokter yang saat itu juga merasakan kepedihan yang dialami oleh Ibu Galih.
"Dukungan keluarga serta orang-orang terkasihnya sangat membantu semangatnya untuk bertahan Hidup"
Ucap dokter memberikan pengertian kepada Ibu Galih, untuk tetap tegar.
Ibu Galih hanya bisa menangis dan mengagguk mendengar ucapan dokter itu.
"Galih sudah dipindahkan keruang perawatan intensif, Ibu bisa menjenguknya sekarang" Ucap dokter sambil tersenyum.
Ibu Galih mengangguk, dan meninggalkan ruangan Dokter untuk menuju ruang perawatan intensif untuk melihat Galih.
Diruang perawatan banyak sekali selang perawatan yang menempel ditubuhnya serta bunyi mesin yang membantu Galih untuk bertahan. Ibunya yang kala itu berdiri didepan kaca tempat galih dirawat hanya bisa menangis melihat kondisi Galih yang terbaring lemah. Setelah menghapus air matanya Ibu Galih masuk kedalam dan menggenggam tangan Galih. Sepertinya Galih merespon genggaman tangan Ibunya.
Ibunya tersentak merasakan respon tersebut, dan melihat sedikit demi sedikit mata Galih mulai terbuka.
"Galih, galih udah sadar Nak"
"Ini Ibu, Sayang"
"Ibu disini Nak" Ucap Ibu sambil meneteskan airmata kembali.
Oksigen yang terpasang di bagian hidung dan mulut Galih, membuat Ibu Galih sedikit kesulitan mendengar kata demi kata dari mulut Galih, tetapi masih bisa mengerti.
"Galih dimana Bu?" Tanya Galih dengan nada suara yang lemah.
" Galih dirumah sakit sekarang"
"Galih jangan banyak gerak dulu yaaah"
"Galih istirahat ajah" Jawab Ibu Galih menahan tangisnya yang ingin sekali pecah saat itu.
"Gita mana bu?" Tanya Galih kembali
"Gita belum tau kalo Galih dirawat, Ibu belum sempet kabarin Gita"
"Nanti Ibu kabarin Gita yaa"
"Ibu suruh Gita kesini, temenin Galih" Jawab Ibu Galih.
Galih menggelengkan kepalanya,
"Jangan Bu"
"Gita gak boleh tau" Ucap Galih yang dengan erat menggenggam tangan Ibu nya.
-------
Matahari hari itu bersinar begitu terik, membuat Gita malas sekali melakukan apapun.
Sudah beberapa hari Galih tidak terlihat dirumahnya, dan rumahnya pun terlihat begitu sepi.
Gita menjadi rindu dengan sahabatnya itu, dan membuat Gita mendatangi Rumah Galih.
Tokkk- tokk-- tokk--
"Assalamualaikum, Galaaahhh"
Tokkk- tokk-- tokk--
"Assalamualaikum"
"Gallll"
"Galihhh"
Gita berteriak berkali kali mengucapkan salam dan memanggil Galih, namun tidak ada jawaban dari dalam rumah.
"Kok gak ada yang nyaut"
"Tapi Motor nya Galih ada"
"Gerbang juga gak di gembok" Gerutu Gita sambil merengutkan jidatnya.
Gita langsung mengambil HP dikantong celananya, dan menghubungi nomor Galih, dan ternyata nomor HP nya pun tidak aktif.
"Ihhh, kemana sih nih anak"
"Tumben banget, susah dicarinya" Gerutu Gita dengan wajahnya yang cemberut dan beranjak meninggalkan rumah Galih menuju rumahnya.
Tak lama kemudian HP Gita berbunyi, Gita senang, berharap Tlp itu dari Galih .
Pada saat dilihat, ternyata bukan Galih melainkan Dimas.
"Halo Ta"
"Kamu lagi dirumah gak?" Tanya Dimas
"Ia Aku lagi dirumah nih, kenapa dim?" Jawab Gita dengan nada sedikit kecewa
"Aku lagi menuju rumah kamu nih Ta"
"Kamu siap-siap yah, aku mau ajak kamu pergi"
"Okee, bye" Ucap Dimas yang langsung memutuskan panggilan tlp nya.
"Tapi Dim, Halo, Dimas, Halo?"Belum sempat Gita jawab, Dimas sudah memutuskan sambungan tlp nya.
"Kok dimatiin sih, ishhh nyebelin banget" Gerutu Gita, yang langsung menuju kamar nya.
Beberapa menit kemudian, mobil dimas sudah berada tepat didepan rumah Gita.
Tinn-- tinn ---
Dimas membunyikan klakson mobilnya, memberikan isyarat ke Gita, kalau dia sudah tiba dirumah Gita.
Gita bergegas keluar rumah untuk menemuinya dan langsung masuk kedalam mobil Dimas, sambil menengok kearah rumah Galih yang masih terlihat sepi.
"Hay" Sapa Dimas dengan senyuman lebarnya.
"Hay" Gita membalas sapaan dimas, dengan senyum kecil yang dipaksakan.
"Udah siap tuan putri?" Tanya Dimas kembali.
Gita hanya mengangguk dan tersenyum .
"Okeee kita berangkat" Ucap Dimas, sambil memperhatikan jalan didepannya.
Selama jalan bersama Dimas, fikiran Gita melayang-layang jauuhhh memikirkan Galih.
Gita bertanya-tanya dalam hatinya,
"Galih kemana yah?" "Galih, kenapa yah?" "Kok Gak ada kabarnya?"
"Apa sibuk sama pacar barunya?" "Apa ia waktu itu galih janjian ketemuan sama orang, dan itu pacarnya?"
"Kok dia gak cerita sama gue?" "Kok gue kesel yah?" "Kenapa juga dia gak cerita ke gue?" "Kan gue sahabatnya" "Kalo ada apa-apa biasanya dia yang paling update ngasih info ke gue" "Apa dia marah yah sama gue?" "Tapi Kenapa marah?" "Emangnya gue punya salah apa?" "Apa karena gue pacaran sama Dimas?" "Ah gak mungkin ah" "Masa ia Galih cemburu" "ah gue mikir apa sih?" "Gak lah gak mungkin Galih cemburu sama gue" "Bertahun-tahun Gue sahabatan sama dia, Gak mungkin dia jatuh cinta sama Gue" "Pasti bukan itu alasannya" "Pasti ada alasan lain."
"Hellooooooo" Ucap dimas sambil melambaikan tangan didepan wajah Gitadan membuyarkan pikiran-pikiran Gita saat itu
"Eh ia Dim, Sorry sorry"
"Kenapa, kenapa?" Tanya Gita spontan.
"Kok kamu melamun gitu sih, lagi mikirin apa?"
"Aku perhatiin dari tadi kamu gak dengerin aku ngomong"
"Kamu lagi ada masalah?" Tanya Dimas mencoba mencaritahu apa yang difikirkan kekasihnya itu.
"Enggak kok, enggak ada apa-apa"
"Oia, tadi kamu bilang apa?" Tanya Gita sambil tersenyum, dan mencoba fokus mendengarkan omongan Dimas.
"Ia, pengajuan skripsi aku sudah disetujui, dan 2 bulan lagi aku bisa sidang bareng sama anak-anak yang lain" Ucap Dimas
"Wahh, selamat yah Dim"
"Aku yakin sidang kamu pasti berjalan dengan lancar"
"Kamu pasti lulus deh" Jawab Gita dengan nada senang.
"Nanti, pas aku sidang kamu dateng yah" Ucap dimas sambil memgang kedua tangan Gita.
Gita mengangguk dan tersenyum, memberikan tanda bahwa dirinya akan menghadiri sidang Dimas.
---------
Tiga minggu sudah Galih terbaring dirumah sakit, masa kritisnya sudah lewat, namun sel kanker itu sudah menyebar kearah telinganya, yang mengakibatkan semakin hari Galih semakin sulit untuk mendengar.
Dokter menyarankan untuk segera dilakukan Operasi untuk pengangakatan sel kanker yang sudah mulai menyebar, dan memberikan surat persetujuan Operasi ke Ibu Galih untuk ditandatangani. Ibu Galih menyetujui Operasi tersebut. Penjadwalan Operasi akan dilakukan 2 hari setelah penandatanganan persetujuan operasi.
"Bu,liat HP Galih?" Tanya Galih dengan oksigen yang sudah tidak membungkus hidungnya.
"Nih, HP nya gak Ibu Aktifin"
"Takut Gita tlp kamu"
"Nanti Ibu bingung jawabnya" Jawab Ibu Galih yang menjawab ditelinga Galih sambil memberikan HP milik Galih.
Galih hanya tersenyum ,dan menerima HP nya dari tangan Ibu nya, dan menyalahkannya.
Saat dinyalahkan, puluhan SMS serta panggilan yang tidak terjawab masuk ke HP Galih, semua bernama GITA.
"Galaaaah, jalan yu"
"Gal, Lo dimana?"
"Susah amat hubungin lo yaa"
"Lo udah punya pacar gal?"
"Kok lo gak cerita ke Gue?"
"Tadi gue kerumah Lo, gue ketok-ketok pintu rumah lo"
"gue teriaak manggil nama lo, tapi gak ada yang nyaut"
"Tapi motor lo ada, Pager juga gak digembok"
"Lo dimna sih?"
"Galaaah Gue kangen :("
"Lo marah sama gue?"
"HP Lo kenapa gak aktif mulu siiihhhhh?"
Galih tersenyum membaca setiap pesan yang masuk ke hp nya.
"Hay cerewet" Galih emngirimkan pesan singkat ke Gita, agar Gita tidak lagi hawatir dengannya.
Gita yang sedang mengikuti kelas dikampusnya, tidak menyangka jika orang yang sedang ada difikirannya belakangan ini, mengirimkan ia pesan singkat.
"Galih?" Ucap Gita pelan dengan senyman yang mengembang Indah melihat layar HP nya.
"Galaaaaaahhhhhhhhhhhhh"
"Ahhhhh gilaaa, lo kemana ajaaaaaaa?"
"Hilang gitu aja" Gita langsung membalas cepat pesan singkat dari Galih.
"Ia sorry, sorry"
"Gue lagi di luar kota sekarang, kemarin HP gue rusak"
"Ini baru bisa nyalah lagi" Galih membalas watsapp Gita, dan terpaksa berbohong agar Gita tidak semakin hawatir terhadapnya.
"Luar kota?"
"Dimana?"
"Kok tumben, ada urusan apa emang?"
"Kapan pulaaaaang?"
"Gue kangeeeeen hikss hiksss" Balas Gita, sambil cengar cengir sendirian.
"Sabar yah, gue lagi berjuang nih"
"Sedikit lagi gue pasti pulang"
"Jangan manja, selama gak ada gue, lo harus bisa mandiri"
"Jangan ngelakuin hal yang aneh-aneh"
"Makan teratur, tidur cukup, kuliah harus bener"
"Jangan Pacaran ajaa lo pikirin"
"Pokokknya, pas gue pulang nanti, lo harus Bahagia"
"Okeeeeee nona cerewet?" Jawab Galih
"Aelaah, panjang banget wasiatnya haha"
"Gak ada partner yang asik buat nemenin gue liat bintang kalo malem nih"
"Jangan lama-lamaa doong"
"Gak kangen lo sama gue?"
"Apa perlu gue susul nih, biar lo pulang?" Jawab Gita
"Hahaa, gak usah bawel"
"Nanti juga gue pulang sendiri, udah ada arahnya kok"
"Kangeeen kokk, kangeeeeeeen banget"
"Nanti pas gue pulang jangan nagis yaaaaaa"
"Biar gue nya gak ngerasa bersalah karena udah ninggalin lu tanpa kabar hahahaa" Jawab Galih
"Yailaahh, sayang banget air mata gue, buat nangisin lo Gal"
"Gue fikir lo gak ada kabarnya, karena udah punya kekasih hati"
"terus lagi sibuk sama kekasih lo, sampe gue gak dianggap lagi huhu" Jawab Gita
"Hahaaa, enggak lah"
"Emang nya elo, mentang-mentang udah punya pacar"
"Waktu main sama gue, lo korbanin hmmm" Jawab Galih
"Hahaha, namanya juga lagi kasmaran Pak"
"Makanya punya kekasih, biar ngerti kalo setiap detik itu selalu punya arti buat dilewatin bareng-bareng"
"weeeeee" Jawab Gita meledek
"Udah punya kekasih kali gue Ta weeeee"
"Duluan gue malah ketemunya, daripada Lo sama Dimas"
"Tapi gue belom cerita aja ke elo hahaha" Jawab Galih
"Ih Paraaahhh"
"Asli, kesel loh gue dengernya"
"Lo gak pernah cerita yaaaa, ke guee"
"Ihh Paraaahh, males gue sama lo" Jawab Gita, dengan raut wajah cemberut
"Hehehee"
"Nanti yaa pas gue pulang, gue kenalin sama kekasih gueee"
"Cantik Ta, Rambutnya suka dikuncir kuda juga kayak lo, yaaa 11-12 lah sama Lo" Jawab Galih
"Gak usah banyak cerita di watsapp yaaa"
"Gue gak perduli mau lo kenalin atau enggak"
"Pokokknyaaa lo cepet pulaaaaaaaaaaaang hikssss" Jawab Gita
"Ia bawel"
"Nanti, kalo bukan gue yang ngabarin, palingan nyokap yang bakal kasih kabar ke Elu pas gue pulang"
"Takutnya nanti Hp gue rusak lagi"
"Gak boleh banyak ngambek, Jeleeeeekkkkk" Jawab Galih.
"Dikit lagi, gue ulantahuuuuunnn"
"Pokokknyaaa pas gue ulangtahun lo udah harus ada dirumah"
"Kita rayain bareng-bareng" Jawab Gita
"Iaaa, mana lah gue lupa tanggal ulangtahun lo"
"Gue uda nyiapin Kado juga buat lo"
"Biar, lo bisa inget gue terusss #Tsaelaaah" Jawab Galih
"Isshhhh,Au Amat"
"Yaudah gue mau pulang, Matakuliah gue ude kelar hari ini"
"Bye Galaaaaaahh" Jawab Gita
"Hati-hati cintaaaaa :p " Jawab Galih meledek Gita
Gita hanya tersenyum membaca balasan dari Galih, dan bergegas pulang meninggalkan kampusnya.
-----------
Hari ini, jadwal Galih melakukan operasi.
Diruangan operasi yang tertutup itu, terdapat beberapa dokter yang bekerja keras untuk mengangkat sel-sel kanker yang ada di kepala Galih. Dokter dan satu Tim pun sudah siap untuk melakukan operasi hari ini.
Dokter mulai membedah kepala Galih, dan memulai melakukan operasi pengangkatan sel kanker.
Namun sangat disayangkan, ternyata sel-sel kanker tersebut sudah menyebar terlalu cepat kedaerah yang sangat berbahaya, oleh karena itu operasi tidak dilanjutkan, dikarenakan khawatir terlalu beresiko diri pasien.
Setelah selesai, Dokter keluar dari dalam ruangan dan hanya menunduk lesu.
Menjadi isyarat buruk untuk Ibu Galih yang saat itu sudah menunggu didepan ruang operasi.
"Bagaimana Dok?"
"Apakah operasinya berjalan dengan lancar?" Tanya Ibu Galih dengan penuh ketegangan.
"Kami mohon maaf"
"Kami tidak bisa melanjutkan operasi, karena ternyata sel kanker sudah terlalu luas penyebarannya"
"Jika kami lanjutkan, kami hawatir akan terjadi resiko yang fatal untuk pasien" Ucap dokter dengan wajah penuh kegagalan, dan beranjak meninggalkan Ibu Galih.
Ibu Galih hanya terdiam mendengar ucapan dokter tadi, dan terduduk lemas mendengarnya. Tak lama kemudian Galih keluar dari ruang operasi, dan langsung dipindahkan keruang rawatnya. Hari itu terasa sangat berat sekali untuk Ibu Galih, dia sudah pasrah dengan apa yang terjadi kepada Galih.
Malam itu, tubuh Gali tidak stabil, tiba-tiba Galih kejang.
Ibunya yang sedang membaca ayat-ayat alquran, mendadak kaget melihat kondisi anaknya, dan langsung memanggil Dokter, dokter pun langsung memberikan penanganan pertamanya hingga tubuh Galih bisa stabil kembali.
"Dokter, apa tidak ada jalan lain selain operasi, yang bisa menyembuhkan Galih?" Tanya Ibu Galih dengan penuh harapan.
"Ada cara lain selain operasi"
"Yaitu kemoterapi"
"Tapi, kemoterapi juga bukan sebagai penyembuh"
"Melainkan penghambat pertumbuhan sel kanker"
"Dan mempunyai efek samping yang sangat menyakitkan" Ucap Dokter kepada Ibu Galih
Ibu Galih menyetujui menggunakan kemoterapi sebagai usaha lain selain operasi untuk menghambat pertumbuhan sel kanker, dan memberikan harapan hidup lebih lama untuk Galih.
Pagi ini, Galih yang sempat mengalami kejang perlahan membuka kedua matanya, dan menggenggam tangan Ibu nya yang memegangi tangannya.
"Galih?" Ucap Ibu nya
"Bu, gimana operasinya?" Tanya Galih dengan nada lemah
"Alhamdulillah lancar Nak"
"Setelah operasi, kamu harus melakukan Kemoterapi" Jawab Ibu Galih dikuping Galih, dengan berpura-pura semuanya berjalan dengan lancar dan menahan tangisnya.
"Galih mau pulang kerumah Bu" Ucap Galih ke Ibu nya
"Ia Nak, nanti Ibu coba bilang ke Dokter supaya Galih dirawat dirumah saja" Jawab Ibu Galih.
Galih hanya mengangguk dan tersenyum kearah Ibu nya.
Ibu Galih mencoba meminta persetujuan rumah sakit, agar Galih bisa dirawat dirumah saja.
Pihak rumah sakit menyetujuinya, dan untuk proses kemoterapi bisa dilakukan dirumah yang akan dimulai saat keadaan Galih membaik.
-----------
Pagi itu, cahaya memantulkan kehangatan diruang kamar inap Galih.
Hari ini Galih diizinkan meninggalkan rumah sakit, untuk dirawat dirumah.
Tubuh Galih yang sudah sangat rapuh untuk berjalan dan juga berdiri lama, mengharuskannya menggunakan kursi roda.
Karena posisi kamar Galih diatas, Ibu Galih membantu Galih berjalan sedikit demi sedikit kelantai atas kamar Galih, dan membaringkan Galih diatas tempat tidur.
Gita yang baru kembali dari kampus, melihat kearah rumah Galih yang melihat ada mobil Ibu Galih terparkir di teras rumah Galih.
"Loh, itu bukannya mobil Ibu nya Galih?" Ucap Gita sambil menunjuk kearah rumah Galih.
Gita mengambil Hp yang ada dikantongnya, dan coba menghubungi HP Galih.
Dikamar, Hp Galih berbunyi .
Galih meraih Hp nya, terlihat nama "Gita" dilayar hp nya, namun diabaikan oleh Galih, karena Galih tidak ingin Gita mendengar suaranya yang lemah.
"Kok gak diangkat sih" Gerutu Gita cambil cemberut, dan beranjak masuk kedalam rumahnya.
Dari dalam kamar, Gita memperhatikan rumah Galih, dan memperhatikan kamar Galih.
Malam itu, hujan turun begitu deras.
Galih sudah merasakan tubuhnya semakin lemah, Ia berusaha mengambil kertas dan pulpen dari meja sebelah tempat tidurnya.
Menuliskan sebuah surat, isi hati yang telah lama ia pendam untuk Gita, dengan air mata yang berderai sambil mengingat segala kenangan-kenangan mereka bersama selama 20 Tahun ini.
-----
Hari ini, kemoterapi pertama Galih.
Dokter memasukkan obat kemoterapi kedalam suntikan yang langsung ke aliran darah dan akan dialirkan keseluruh bagian tubuh. Setelah beberapa lama pemberian obat itu Galih merasakan efeksampingnya yaitu merasakan mual dan muntah-muntah, Galih merasakan sakit diseluruh tubuhnya, yang sesekali teriak sambil menangis.
"Bu, sakit bu" Ucap Galih dengan nada lemah
Gita yang saat itu sedang berdiam diri dikamar, tersentak kaget mendengar teriakan Galih dari kamarnya.
"Galih?"
"Itu kayak suara Galih" Ucap Gita sambil melihat dari jendela kamarnya kearah rumah Galih, terlihat mobil ambulance rumah sakit terparkir di teras rumah galih, Gita langsung melihat kearah jendela kamar galih, terlihat seperti ada bayangan-bayangan disana.
Gita langsung berlari keluar rumah dan menuju rumah Galih .
Dugg-dug--dugg
Gita memukul pintu rumah Galih dengan keras sambil berteriak-teriak memanggil nama Galih.
"Gallll, Galiihhh"
"Buka Pintunya Gall"
"Gue tau lo didalem Galiihhh"
"Lo Kenapa Gal"
"Galiiiihhhhh"
Duggg-dugg--dugggg kembali Gita memukul pintu rumah Galih dengan keras.
Seseorang membuka pintu tersebut, dan ketika pintu itu terbuka Gita menerobos untuk masuk, dan langsung lari kearah kamar Galih yang saat itu tidak terkunci, Gita langsung membuka pintu dan menerobos masuk.
Saat masuk Gita melihat Dokter dan juga beberapa perawat dikamar Galih.
Dan betapa terkejutnya Gita, ketika melihat.kondisi Galih yang sudah tidak berdaya, terlentang lemah diatas tempat tidur sambil memegangi tangan Ibu nya, dan merintih kesakitan.
Gita langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Selangkah demi selangkah, Gita menghampiri tempat tidur Galih dan duduk disamping tempat tidurnya dengan air mata yang mulai membasahi pipi nya.
"Galll"
"Lo kenaapa Gal?" Tanya Gita sambil memegang tangan sahabatnya itu.
"Bu, suruh Gita pulang" Ucap Galih dengan nada lemah.
Ibu Galih perlahan melepaskan genggaman tangan Galih, dan mennghampiri Gita yang saat itu duduk disebelah tempat tidur Galih.
"Nak Gita, bisa kita bicara diluar?" Tanya Ibu Galih
Gita mengangguk dan menghapus airmatanya, mereka berdua menuju keluar kamar Galih.
"Nak Gita, Ibu minta maaf"
"Bukan Ibu mengusir Nak Gita"
"Tetapi ada baiknya, Nak Gita pulang saja"
"Jangan ganggu Galih dulu untuk sementara waktu" Ucap Ibu Galih dengan senyum terpaksa.
"Galih kenapa Bu?" Tanya Gita dengan nada sendu
"Sudah, sebaiknya Nak Gita pulang saja dulu" Ucap Ibu Galih menahan tangis.
"Gak mau bu"
"Gita gak mau pulang"
"Gita harus tau, Galih kenapa bu?" Ucap Gita penuh kebingungan.
"Kanker Otak stadium 4"
"Galih divonis dokter mengidap kanker Otak stadium 4 Gita" Jawab Ibu Galih sambil menangis dan memeluk Gita.
Gita yang saat itu berdiri dihadapan Ibu Galih, sontak Kaget dengan jawaban yang diberikan oleh Ibu Galih.
Ibu galih yang memeluknya, langsung ia lepaskan pelukannya.
"Gak bu, Gak mungkin"
"Ibu Pasti bohong kan?"
"Ibu pasti disuruh Galih buat bohong kan?"
"Galih gak sakit kan bu?"
"Galih baik-baik aja kan bu?"
"Ia kan Bu?" Ucap Gita sambil setengah tertawa dan menangis berharap semua yang dibilang Ibunya Galih adalah Bohong.
Gita kembali masuk kedalam kamar Galih sambil menangis, dan menuju kearah Galih, dan berlutut tepat disamping tempat tidur Galih.
"Lo bilang, lo keluar kota Gal"
"Lo bilang, lo ada urusan diluar kota?"
"Ini Gal?"
"Ini yang lo bilang urusan ?"
"Kenapa Galih?"
"Kenapa lo gak pernah cerita ke Gue?"
"Kenapa gue harus tau sendiri kenyataannya?" Ucap Gitaaa dihadapan Galih sambil menangis terisak.
"Ta" Galih berbicara dengan nada yang lemah sambil mengelus pelan rambut Gita.
"Maafin Gue"
"Lo Jangan nagis"
"Gue pasti sembuh kok" Ucap Galih dengan perlahan sambil tersenyum kearah Gita.
Sebenarnya alasan Galih bisa bertahan dari Kanker selama itu selain Ibunya adalah GITA, Gita lah yang membuat Galih menjadi punya banyak harapan untuk hidup, punya banyak energi untuk terus bangkit dari sakitnya.
Pada kemoterapi berikutnya Gita hadir, memberikan semangat untuk Galih. Menggenggam erat tangan Galih saat Galih merasakan kesakitan, saat Galih merintih kesakitan. Sesekali Gita berlari kekamar mandi sambil menangis, mengeluarkan tangisannya karena terlalu menyakitkan melihat apa yang Galih lalui saat ini.
Hampir setiap hari Gita datang menjenguk Galih, membawakan makanan kesukaannya.
Menghibur Galih dengan tingkah konyolnya, membuat Galih melupakan sedikit rasa sakitnya.
Rambut Galih yang mulai rontok akibat kemo, membuat kepalanya menjadi botak.
"Ta, besok ajak Dimas kesini yah" Ucap Galih ke Gita yang saat itu sedang mengusap usap jidat Galih.
"Dimas?" Tanya Gita curiga
"Ia, elo kan belum pernah ngenalin Dimas langsung ke Gue" Jawab Galih dengan suara yang lemah
Gita mengangguk sambil tersenyum menyetujui permintaan Galih.
Esoknya, Gita datang kerumah Galih membawa Dimas.
Sesuai permintaan Galih, untuk memperkenalkan Dimas langsung.
"Galaaaaahhh" Teriak Gita dengan nada gembira menghampiri Galih, sambil membawa bunga lili putih.
"Ini bunga nya gue taro sini yah Gal" Ucap Gita dengan tutur kata yang sangat jelas.
Galih tersenyum dan mengangguk .
"Oia Gal, kenalin ini Dimas"
"Dimas ini Galih sahabat terbaik yang aku punya" Ucap Gita dengan Ceria.
"Gimana keadaan lo Gal?" Tanya Dimas yang saat itu berdiri disamping Gita.
Galih tidak mendengar dengan baik pertanyaan Dimas, karena pendengarannya sudah mulai berkurang.
"Gal, Dimas tanya keadaannya Galih"
"Gimana?" Gita mencoba membantu Dimas untuk menyampaikan pertanyaannya dengan cara menuliskannya di kertas selembar.
"Baik Dim" Jawab Galih
"Ta, tolong ambilin gue air putih"
"Gue haus" Ucap Galih perlahan kearah Gita, Gita mengangguk dan langsung bergegas mengambilkan Galih Air putih didapur.
"Dim, duduk disini" Ucap Galih sambil menepuk tempat tidur sebelah kanannya.
Dimas mengikuti kemauan Galih, dan duduk tepat disebelahny.
"Dim, gue titip Gita yah sama lo"
"Jangan sakitin Gita"
"Bikin Gita Bahagia"
"Gue udah gak bisa jagain dia lagi"
"Sekarang tugas gue udah selesai buat jagain Gita"
"Tolong jangan bikin dia sedih apapun keadaanya"
"Gue percayakan Gita sepenuhnya sama lo"
"Sesekali tolong ajak Gita buat nengokin nyokap Gue"
"Mimpinya Gita, mau jadi pengantin tercantik dan hidup bahagia dengan pendampingnya"
Ucap Galih dengan nada dan nafas yang lemah secara perlahan-lahan.
"Ia gal, gue pasti bakal jagain Gita"
"Gue bakal buat Gita Bahagia" Ucap Dimas mengatakannya ditelinga Galih dengan penuh keyakinan.
Galih mengangguk mengerti dan tersenyum lega mendengar jawaban Dimas saat itu.
"Taraaa, Gita come back" Ucap Gita dengan nada ceria.
Dimas yang saat itu mulai meneteskan air mata, secepatnya langsung menghapus airmatanya itu.
Galih hanya tersenyum melihat tingkah laku Gita.
Mereka bertiga menghabiskan waktu bersama-sama saat itu, tanpa ada firasat sedikitpun kalau itu adalah hari pertama dan terakhir mereka berkumpul bersama seperti itu.
-----
Jam dinding dikamar Gita menunjukan jam 2 dini hari.
Hp Gita tak henti-hentinya berdering .
Gita neraih Hp nya dengan mata tertutup dan mengangkatnya.
"Hallo" Ucap Gita sambil dengan mata yang masih terpejam.
"Taaaaa, Galih Ta" Ucap seorang perempuan diujung saluran tlp,
Gita langsung terbangun ketika mendengar nama Galih disebut,
"Galih?" Ucap Gita kaget .
Gita langsung memastikan siapa yang menelponnya saat itu, dan ternyata itu adalah Ibu nya Galih.
"Ia Ta, Galih" Ibu nya menangis terisak isak .
"Galih, Galih kenapa Bu?" Jawab Gita ketakutan, yang saat itu masih menggunakan baju tidur langsung menuju rumah Galih.
Rumah galih tidak terkunci, mobil ambulance sudah terparkir didepan rumah Galih.
Perasan buruk pun mulai memenuhi fikiran Gita, Gita terus berlari kearah kamar Galih.
Ibu Galih sudah menangis teisak-isak disebelah Galih sambil memegangi tangan Galih yang saat itu sedang kejang. Lagi-lagi gita tak kuat melihat semua ini, gita berjalan pelan menuju Galih, dan duduk disebelah Galih.
"Gal, ini gue Gita Gal" Ucap Gita sambil menangis, Air mata gita saat itu tak dapat ia tahan lagi.
"Lo harus kuat ya Gal"
"Biar kita bisa sama-sama lagi"
"Kita liat bintang bareng lagi" Ucap Gita dengan nada terisak karena sambil menangis
"Bu"
"Maafin Galih ya kalo Galih punya salah"
"Maaf Galih belum bisa Bahagiain Ibu" Ucap Galih saat itu dengan air mata yang keluar mengalir dari matanya.
"Ia nak, ia"
"Ibu sudah maafin semua kesalahannya Galih" Ucap Ibunya sambil menangis
"Ta"
"Maafin Gue yah, kalo selama jadi sahabat lo, Gue kurang Baik"
"Jangan sedih lama-lama yah"
"Gue udah titip elo ke Dimas"
"Gue titip Ibu ke Elo yah Ta"
"Selamat Ulang Tahun ya Ta"
"Gue sayang sama lo Ta" Ucap Galih dengan nada dan nafas yang semakin melemah.
"Engga gal, Elo itu Sahabat paling Baik, yang Tuhan ciptain"
"Lo gak kurang apapun jadi sahabat gue selama ini"
"Lo harus sembul Gal"
"Jangan tinggalin Gue sendirian" Ucap Gita sambil menangis terisak isak .
"Tolong tuntun Galih Bu"
"Galih udah dijemput" Ucap Galih dengan suara yang mulai terbata bata.
"Laa ilaa haillallah" Ucap Ibu Galih sambil menangis, yang menuntun kalimat tersebut dikuping Galih dan diikuti oleh Galih.
Dan seketika lafal itu disebut, Galih langsung menutup matanya perlahan .
Gita yang duduk disebelah Galih tak henti-hentinya menangis.
"Enggak Gal"
"Galih bangun"
"Galihhhhhhhhhhhh" Gita berteriak sambil menggoyangkan badan Galih yang sudah menutup matanya.
Hari itu, adalah hari terakhir Galih melihat Gita.
Galih tersenyum bahagia, karena perjuangannya selama ini melawan sakit nya tidak sia-sia.
Galih bisa melihat Gita dan mengucapkan selamat ulang tahun untuk Gita, tepat dihari lahir Gita.
Dan sekaligus kado ulangtahun untuk Gita yang tepat menginjak usia 20 Tahun.
Dihari ulangtahunnya Gita harus Ikhlas melepas Sahabat terbaik yang dia sayang itu untuk selama-lama nya.
Usai pemakaman Galih berlangsung, Ibu Galih mengahampiri Gita yang sedang duduk memandangi batu nisan bertuliskan nama Galih, sambil menangis terisak.
"Yang Ikhlass ya Nak"
"Galih sudah tidak merasakan sakit lagi"
"Galih sudah bahagia sekarang" Ucap Ibu Galih sambil mengelus kepala Gita dan tersenyum.
"Ia Bu" Jawab Gita yang langsung memeluk Ibu Galih,dan kembali menitikan air matanya.
Ibu Galih mengelus punggungnya, untuk memberikan kekuatan kepada Gita.
Dimas yang saat itu tepat duduk dihadapan mereka, tanpa sengaja meneteskan air matanya.
"Oia, ini ada titipan untuk Gita, dari Galih, sebelum Galih pergi" Ucap Ibu Galih sambil memberikan sebuah amplop putih yang berisikan surat ungkapan hati Galih.
"Ibu pulang duluan yah Ta" Pamit Ibu Galih kepada Gita yang saat itu masih duduk disamping Batu nisannya.
Gita hanya mengangguk, yeng merasakan air matanya terus keluar membasahi pipinya.
Didepan makam Galih, Gita langsung membaca surat dari Galih.
"Dear Gita,
Banyak hal yang kita lewati bersama, sejak kecil lo udah buat hidup gue menjadi berarti.
Dulu saat Orangtua gue masih lengkap, gue merasa punya keluarga yang sempurna, karena ada elo sebagai pelengkap dihidup gue. Dan saat Tuhan panggil Bokap gue untuk pulang, Lo ada disamping gue, lo nguatin hidup gue. Gak tau harus dengan cara apa gue bersyukur sama Tuhan, karena menciptakan sosok sahabat seperti lo. Gita yang Bawel, Gita yang penuh dengan kejutan, Gita yang manja, Gita yang Ribet, Gita yang nyebelin, Gita yang selalu kasih gue arti dalam hidup.
Lo inget gak Ta, dulu pas SD kalo pulang sekolah, kita selalu balapan sepedah.
Kita balapan sepedah dari sekolah sampe rumah, gue gak pernah menang balapan sepeda sama lo, karena gue selalu ngalah, dan gara-gara itu lo marah sama gue, lo bilang lo gak mau dibilang anak cewek yang lemah, lo gak mau menang karena gue nya ngalah. Terus lo musuhin gue selama seminggu, sampe nyokap gue kerumah lu, cuma buat bikin lo baik lagi sama gue.
Waktu SMP setiap jam istirahat kita kekantin bareng, pas lagi rame-rame nya kita ngambilin bakwan nya pemilik kantin, tapi gak bayar, kita langsung lari, terus makan bakwan diem-diem didepan lapangan sekolah, sambil ketawa-ketawa. Terus pernah mau bolos gara-gara lo gak suka sama pelajaran matematika waktu itu. Pas kita lagi serius-seriusnya manjat tembok sekolah, tiba-tiba Bu Nur wakil kepala sekolah ngeliat kita lagi manjat diatas tembok sekolah, terus kita diteriakin disuruh turun dan di tunjuk- tunjuk pake pegangan pengki serokan sampah, besoknya kita disuruh lari ngiterin lapangan panas-panasan, terus disuruh hormat didepan tiang bendera.
Sejak dari situ, gue berusaha semampu gue buat belajar matematika, biar gue bisa ngajarin lo, dan elo gak perlu bolos lagi kalo ada pelajaran matematika. tapi berkat itu juga gue bisa ngabisin 1 harian bareng lo, cuma buat ngajarin lo matematika.
Pas SMA kita beda kelas, lo IPA 1 gue IPA 3.
Lo pacaran sama Bimar, cowok berengsek yang buat lo nangis-nangis ke gue, karena lo diputusin sama dia. Gak cuma Bimar, lo juga pacaran sama Dandi, sama tragisnya lo bahkan diselingkuhin terus lo cerita nangis-nangis lagi ke gue. Sejak dari situ gue berusaha menjadi yang terbaik buat lo.
Gue gak mau ada orang lain lagi yang dengan mudahnya nyakitin lo, bikin lo nangis, bikin lo sakit hati.
Tapi Tuhan berkata lain, waktu itu gue divonis kena kanker stadium lanjut, waktu SMA gue dirawat dirumah sakit, itu bukan karena kecapean. Tapi karena harus operasi pengangkatan sel kanker, kanker itu memang berhasil diangkat, tapi bukan menyembuhkan, melainkan menghambat perkembangan sel baru.
Semua cara gue lakuin buat lo Ta, Apapun yang lo mau dari gue, sebisa mungkin gue turutin.
Lo gak suka rambut gue gondrong, lo gak suka kalo gue gak ngabarin lo apapun situasinya, lo marah kalo gue gak ada waktu buat lo. Hampir setiap hari libur gue habisin bareng lo, walaupun sekedar main PS diruang tamu, nyanyi - nyanyi kayak orang gila, main monopoli yang kalah dicoret lipstik, ngeliat bintang dimalam hari sampe ketiduran, atau sekedar jalan dan makan.
Gue gak punya keberanian buat ungkapin isi hati gue, kalo gue sebenrnya SAYAAANG banget sama lo, Gue mau kita lebih dari sekedar sahabat. Tapi sepertinya sedikit pun lo gak pernah liat gue sebagai laki-laki yang lebih dari sekedar sahabat Ta, walaupun sebenernya gue yakin, lo pasti tau apa yang gue rasain tanpa gue harus bilang.
Sampai akhirnya Tuhan ngasih gue kejutan demi kejutan diujung perjalanan hidup gue.
Tuhan menghadirkan Dimas buat lo, awalnya gue cemburu, gue sakit hati tiap kali gue liat lo pergi sama Dimas.
Gue benci sama Lo Ta, kenapa lo gak pernah sadar sama perasaan gue.
Setelah Tuhan hadirkan Dimas buat lo, Tuhan kasih gue kejutan lainnya.
Kanker Otak stadium akhir yang tiba-tiba semakin ganas, kanker itu menggerogoti semua tubuh gue Ta. Dari mulai pendengaran Gue yang udah mulai gak berfungsi , Kaki gue yang semakin hari gak bisa gue gerakin, dan tubuh gue yang semakin hari, gak bisa gue angkat, tenaga gue mulai habis, makanya gue buru-buru tulis surat ini buat lo. Karena gue takut Mata gue juga akan gak berfungsi, dan tangan gue gak punya tenaga untuk menulis.
Tapi dengan adanya Dimas, gue bersyukur.
Mungkin itu cara Tuhan, untuk menggantikan gue sebagai pelindung lo.
mungkin itu cara Tuhan, untuk menggantikan gue sebagai laki-laki yang akan ngebahagiain hidup lo.
Jangan nangis Ta.
Seperti yang pernah gue bilang sebelumnya, saat gue pulang lo gak boleh nangis.
Jangan buat gue berat untuk ninggalin lo.
Lo harus jadi cewek yang kuat.
Gak boleh manja, gak boleh cengeng.
Kuliah yang bener, hidup dengan baik.
Orangtua lo pasti bangga, punyaa anak perempuan seperti lo.
Gue yakin kerja keras mereka selama ini diluar negri nyari uang buat lo, gak akan sia-sia.
Jangan pernah marah sama orangtua lo yang terlalu sibuk dengan karirnya, karena mereka seperti itu hanya untuk kebahagiaan lo, untuk mencukupi kehidupan lo, lo harus banyak bersyukur karena orangrtua lo .
Jangan tinggalin Sholat yah ta, kirim doa buat gue terus ya Ta.
Kalo lo kangen sama gue, lo keluar rumah terus lihat bintang diteras seperti yang biasa kita berdua Lakuin, Bintang yang paling terang itu adalaga Gue.
Gue akan menjadi bintang mulai sekarang, karena bintang gak akan ngebiarin langitnya sendirian.
Inget terus sama gue, walaupun kita udah gak akan ketemu lagi.
Titip Nyokap Gue ya Ta, Setelah Bokap meninggal, sekarang Gue yang harus nyusul Bokap duluan.
Terimakasih untuk 20 tahun ini, atas suka duka, manis dan getirnya kenyataan hidup yang kita lewatin sama-sama.
Terimakasih untuk 20 tahun ini, lo udah buat gue bersyukur atas apa yang Tuhan kasih dalam hidup gue.
Terimakasih untuk 20 tahun ini, lo udah menjadi sahabat buat gue.
dan Terimakasih sudah pernah menjadi Kekasih untuk Gue, walaupun hanya sebatas kekasih bayangan. Terimakasih untuk semuanya Ta.
Dan Selamat ulang tahun "Hanindya Gita Wiryasti" semoga Tuhan selalu melimpahkan kebahagiaan untuk mu. Mewujudkan Mimpimu untuk menjadi pengantin tercantik yang bersanding dengan seorang pangeran tampan yang mencintaimu. Tersenyumlah, Sambut hari baru mu bersama kehidupanmu yang baru.
Aku yang selalu dan akan selalu menyayangi dan mencintai Mu
- GALIH-
Tanpa sadar air mata Gita sudah membasahi pipinya,
Dimas yang saat itu melihat Gita menangis, langsung menghampiri dan memeluknya.
Pengorbanan bukan hanya sebuah Kata-kata
Tetapi perbuatan yang selalu kita lakukan,
tanpa harus diketahui atau dimengerti oleh orang lain.
Syukuri apapun yang ada disekitar kita,
Pesan singkat tersebut dikirim oleh Gita ke Watsapp Galih yang saat itu langsung dibaca oleh Galih.
Galih yang sedang asik main PS langsung menjawab pesan singkat Gita dengan sigap dan bercandaan sambil tersenyu-senyum sendirian.
"Ade apee emang, tumben banget lo ngajakin gue ketemuan".
"Rumah tinggal nyebrang sampe ajaa, pake ketemuan segala"
"di Taman Kota pulaaaaa, lo mau nembak Gue yeee? Hahaha"
"Pokoknyaaaa PENTING, awas lo kalo gak dateng !!" Jawab Gita dengan ancaman.
"Iyaaa bawel, awas lo ngaret !" Galih kembali membalas ancaman Gita.
Saat itu waktu menunjukan pukul 16.00 WIB, galih menghentikan permainan PS nya, dan langsung menuju barbershop terdekat untuk cukur rambut. Maklum, Gita paling gak suka dengan rambut Galih yang sudah mulai gondrong.
"Cukur rambut udah, Mandi udah, Sholat juga Udah, Udah wangi jugaaa"
"Udah ganteng laaahhh gue pokoknya" Ucap Galih didepan cermin memuji dirinya sendiri, sambil merapihkan rambut dan menilai penampilannya saat itu yang sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Gita.
Setelah semua nya selesai Galih langsung meninggalkan kamar, dan menuju keluar rumah, di ruang tamu ada Ibu Galih sedang asik menonton Tv.
"Bu, Galih keluar dulu ya" Ucap Galih sambil menghampiri Ibu nya dan mencium tangan Ibu nya.
"Wangi banget, mau kemana emang?' Jawab ibu sambil mencium wangi tubuh anak laki-lakinya.
"Mau ketemu Gita bu, ditaman kota." Jawab galih sambil berlari kearah pintu rumah.
"Hati-hati gaaall" Jawab ibu dengan sedikit berteriak kearah Galih.
Pukul 20.00 WIB, Galih sudah tiba ditaman kota dan siap menunggu kedatangan Gita.
"Gue udah di taman kota, lo dimana?"
"Inget yaaa, Jangan ngareetttt" Galih langsung mengirimkan pesan singkat lewat watsapp ke Gita.
Sesekali gali merapihkan rambut, dan pakaian yang ia kenakan.
Pukul 21.00 WIB Gita belum juga datang, watsapp Galih pun tidak dijawab oleh Gita.
Galih mencoba menghubungi Gita, namun ternyata HP Gita tidak aktif.
Waktu terus berputar, Galih coba menghubungi Gita berkali-kali namun tak ada jawaban yang bisa Galih dapatkan. Pukul 23.00 WIB Gita menghubungi Galih.
"Hallo Gita !"
"Lo dimana sih, gue nunggu lo udah berjam-jam disini tapi lo gak dateng-dateng" Ucap Galih dengan penuh rasa kesal.
"Sorry Gal, tadi pas mau ke taman kota nyokap minta gue nemenin dia kerumah temennya"
"HP gue lobet juga, ini baru aja nyalah"
"Maaf yah Galih, gue gak bisa kesana deh kayaknya"
"Lo Pulang aja yah" Ucap Gita dengan nada menyesal sambil menahan gelak tawa.
Gita memang sengaja membuat Galih keluar rumah, agar bisa membuat kejutan ulang tahun untuk Galih.
Selama Galih menunggu Gita di taman kota, Gita menyiapkan segala sesuatu nya dirumah Galih, mulai dari kue ulan tahun, terompet ulang tahun, dan alat-alat surprise lainnya .
Bahkan Gita mengundang beberapa sahabat-sahabat Galih untuk membantunya membuat kejutan untuk ulangtahun Galih. Ibu Galih pun, turut membantu dalam rencana ini .
Di taman kota Galih terlihat sangat kesal, dia menendang botol pelastik yang ada dihadapannya, mengacak-acak rambutnya yang sudah ia tata rapi sejak tadi.
Galih langsung bergegas mengambil motornya dan pulang kerumahny, ditemani dengan rintikan gerimis yang membuat hatinya semakin serba salah .
Pukul 24.00 WIB Galih tiba dirumahnya, tak ada yang berbeda dari sebelumnya sehingga Galih tidak curiga mengenai rencana Gita. Suara motor Galih terdengar sampai ke kamar Galih, yang posisi nya langsung menghadap kearah teras rumah. Tidak ada rasa curiga dalam diri Galih, hanya perasaan kesal dengan Gita karena membatalkan pertemuannya.
Galih membuka pintu kamarnya dan terlihat sangat gelap, dan seketika Galih menghidupkan lampu kamarnya
"Surpriiiiiiseeeeeeee !!!!!!"
"Happy Birthday Galih, Happy Birthday Galih, Happy Birthday Happy Birthday, Happy Birthday Galih"
Semua orang yang ada dikamar Galih termasuk Gita kompak berteriak dan menyanyikan lagu Happy Birthday untuk nya .
Galih terlihat seperti orang yang bingung, beberapa saat lalu hatinya kecewa dan kesal karena Gita yang tiba-tiba membatalkan janjinya, dan tiba-tiba orang-orang terdekat saat itu ada didalam kamarnya memberikan kejutan ulangtahun untuknya.
Dan dari arah belakang Pintu, Gita datang menghampiri Galih dengan membawa sebuah Kue Ulangtahun lengkap dengan lilin angka 20 diatas tangannya.
"Happy Birthday Galaaaaahhhh" Ucap Gita ke Galih.
*Galaaah panggilan Gita ke Galih, karena postur tubuh Galih yang kurus dan Tinggi seperti galah.
"Ini pasti semua rencana lo kan Ta?" Ucap Galih dengan senyum mengembang, yang menggambarkan betapa Bahagianya dia saat itu.
Gita hanya menaikkan kedua alisnya dengan Senyum lebarnya .
"Ditiup dulu dong lilinya"
"Jangan lupa Beroda" Ucap Gita mengingatkan Galih sebelum meniup lilinnya, dan Galih langsung meniup lilin tersebut.
"Sorry yah Gal soal yang tadi" Ucap Gita sambil tersenyum dan mengacungkan dua jari nya ke arah Galih.
Rasa kesal Galih saat itu hilang seketika, dengan apa yang sudah dilakukan Gita malam itu .
Sebuah kejutan ulangtahun sederhana, yang sudah Gita siapkan matang-matang .
Galih dan Gita memang sudah bersahabat sejak mereka kecil, rumah mereka yang berdiri tegak bersebrangan, hingga sekolahan pun di 1 atap yang sama, tapi saat kuliah keduanya berpisah.
Karena Galih mengambil jurusan Design sedangkan Gita mengambil Jurusan Broadcasting.
------
Setiap hari libur, Galih dan Gita menghabiskan waktunya bersama-sama, mulai dari main PS, Main kartu, Monopoli, sampai sekedar jalan dan makan. Persahabatan mereka sudah seperti sepasang kekasih yang saling mengasihi. Sejak SMA perasaan Galih ke Gita yang awalnya hanya sebuah Persahabatan berubah menjadi perasaan yang lebih ke Gita.
Galih selalu ada untuk Gita, kapanpun Gita butuhkan, sekalipun cuma nemenin Gita ngeliat Bintang dimalam hari.
Malam itu saat mereka asik menikmati indahnya bintang dilangit dari depan teras rumah Galih dengan beralaskan tikar, Galih membuka sebuah perbincangan.
"Ta, kenapa sih lo suka Bintang?" Tanya galih sambil menunjuk bintang-bintang yang ada diatas langit.
"Karena, bintang itu setia" Jawab Gita sambil menatap bintang-bintang itu.
"Setia?" Tanya Galih bingung.
"Ia"
"Coba deh setiap malam datang, lo liat katas langit"
"Segelap apapun langit dimalam hari, Bintang gak akan pernah ninggalin langit"
"Walaupun sedikit, bintang selalu memberikan cahayanya ditengah-tengah gelapnya langit malam"
"Bahkan setelah hujan turun dimalam hari, langit gak pernah ngerasa sendiri"
"Bintang langsung menunjukan cahaya nya yang indah"
"Seolah memberikan pertanda bahwa setelah hujan, akan selalu ada keindahan" Jawab Gita dengan penuh senyuman.
"Kalo elo Ta, pernah gak ngerasa sendiri?" Tanya Galih sambil melihat kearah wajah Gita, yang sedang asik menikmati indahnya bintang-bintang diatas langit.
"Pernah"
"Pas waktu itu ada anak laki-laki manja sakit, terus harus dirawat dirumah sakit selama 1 minggu karena penyakitnya yang katanya kecapean gitu" Jawab Gita sambil menyindir Galih, yang waktu SMA pernah dirawat dirumah sakit.
"Gue inget banget, waktu itu hidung lo mimisan terus lo pingsan didepan muka gue"
"Gue panik, gue pikir lo bakal mati". Ucap Gita dengan nada sedikit kesal mengingat kejadian lampau itu.
Galih tertawa mendengar jawaban Gita.
"Berarti waktu itu ada yang merasa kehilangan dong yah"
"Cieeeee yang kesepian" Ledek Galih sambil menyolek pipi Gita.
"Kalo tiba-tiba gue pergi gimana Ta?" Tanya Galih dengan anda yang serius
"Gak mungkin lah"
"Lo lupa?"
"Lo kan selalu bilang ke gue kalo mau kemana-mana"
"Apa-apa laporan, kesana sini laporan"
"Berasa gue nyokap lo tau gak" Jawab Gita meledek Galih sambil merengutkan hidungnya kearah galih.
"Oia Gal, gue mau cerita deh" Ucap Gita yang kemudian langsung merubah posisinya yang sebelumnya berbaring, sekarang duduk untuk bersiap menceritakan sesuatu ke Galih.
"Mau cerita apa?" Tanya Galih, yang juga langsung duduk menghadap kearah Gita yang memberikan isyarat bahwa dia sudah siap mendengarkan cerita Gita.
"Gue lagi deket gitu sama cowok Gal, namanya Dimas"
"Anak Broadcst jugaa, dia semester akhir sekarang" Ucap Gita memulai cerita nya dengan penuh semangat.
Galih yang mendengar hal tersebut sedikit kehilangan mood nya, tapi Galih gak mau kalo Gita sampai tau mengenai perasaannya, Galih takut kalo Gita tau persahabatan mereka akan menjadi jauh, dan gak bisa sedekat ini lagi dengan Gita.
"Oia?"
"Gimana anaknya ?"
"Jangan cuma nilai dari penampilannya doang"
"Nanti lo ketipu lagi" Jawab Galih menanggapi cerita Gita dengan sedikit candaan.
"Dimas baik kok Gal"
"Dia anaknya asik banget buat diajak ngobrol"
"Udah beberapa kali sih gue jalan sama dia, dan gue ngerasa nyaman banget sih" Gita berlanjut menceritakan tentang Dimas ke Galih, yang saat itu memperhatikan wajah Gita.
Panjang kali lebar Gita menceritaka soal Dimas, Galih hanya memperhatikan wajah mungil sahabatnya.
Berharap Gita berhenti membicarakan Dimas diantara mereka. Jauh dilubuk hatinya, Galih sangat cemburu tetapi ia gak bisa untuk bilang jujur ke Gita, Galih memilih berusaha buat pura-pura bahagia denger kata demi kata yang dikeluarkan Gita tentang Dimas.
----------
Hari itu senja menunjukan keindahannya,
Didepan sebuah Universitas bercat biru, Galih dan motor ninja nya sudah menunggu Gita keluar dari kampusnya. Galih tau hari ini matakuliah Gita gak terlalu padat, dan kemungkinan bisa keluar kelas lebih awal. Galih sengaja tidak memberitahu Gita, kalau hari ini dia ingin menjemputnya dan ingin mengajaknya pergi.
Dari kejauhan Rambut ikal Gita yang dikuncir kuda, mudah sekali dikenali oleh Galih.
Senyuman manis yang mengembang dari wajah mungil Gita, membuat Galih semakin mengagumi sosok sahabat nya itu. Tiba-tiba sosok laki-laki dengan postur tubuh tinggi, bersih dan mempunyai wajah yang tampan menghampiri Gita. Laki-laki itu adalah Dimas yang sedang melakukan pendekatan dengan Gita.
Entah obrolan apa yang mereka perbincangkan saat itu, hingga mereka pergi bersama. Galih yang melihat hal tersebut, langsung terdiam dan memilih untuk segera meninggalkan kampus Gita.
Senja berganti malam, Galih duduk dijendela kamarnya menghadap kearah rumah Gita, sambil mengayunkan irama petikan Gitar sebagai curahan hatinya saat itu.
Dari kejauhan lampu mobil terlihat menyorot kearah rumah Gita.
Mobil sedan berwarna putih itu berhenti tepat didepan gerbang rumah Gita. Seketika itu Gita keluar dari dalam mobil tersebut, dengan senyum yang mengembang, melambaikan tangan ke seseorang yang ada didalam mobil tersebut. Siapa lagi orang itu, tidak lain adalah Dimas.
Galih memperhatikan Gita dari jendela itu, nampaknya Gita sedang bahagia dan benar-benar merasakan kasmaran saat itu. Galih sangat mengenal bagaimana sifat sahabatnya itu jika sedang bahagia, Galih bahkan hafal gerak gerik Gita ketika sedang kasmaran. Karena beberapa kali Gita pernah juga merasakan hal seperti ini, namun beberapa kali juga Gita gagal menjalani hubungannya, dan tetap berada disisi Galih.
"Galaaaaahhhhhhhh" Gita memanggil Galih sambil melompat dengan setengah teriak dan melambaikan kedua tangannya sambil tersenyum lebar.
Galih hanya membalas dengan lambaian tangan dan senyuman kecil. Sedangkan Gita langsung meninggalkan Galih dan masuk kedalam rumahnya. Bersamaan dengan itu Gita mengirimkan galih pesan singkat lewat Watsapp, dan langsung diterima oleh Galih.
"Woii Gal, gue udah jadian nih sama Dimas :)"
Entah apa yang Galih rasakan setelah membaca watsapp dari Gita, perasaannya campur aduk antara bahagia karena sahabatnya sudah menemukan tambatan hatinya, namun disisi lain sakit dirasakan Galih, yang tidak bisa menggapai apa yang dia rasakan selama ini.
"Oia?"
"Syukurlah, gue turut seneng"
"Semoga lo bahagia sama dia" Galih membalas watsapp Gita, lalu mematikan HP nya dan langsung membaringkan badannya keatas kasur dengan mata terpejam.
------
Sudah hampir 6 bulan, Gita menjalani hubungan dengan Dimas.
Waktu kebersamaan Gita dengan Galih menjadi semakin sedikit. Tidak ada lagi gelak tawa diruang tamu rumah Galih ataupun Gita. Gita semakin sering meghabiskan wakatunya dengan Dimas, bahkan diwaktu libur biasanya Gita meluangkan waktunya untuk melihat bintang bersama galih diteras depan rumah Galih.
Tanpa sepengetahuan Gita, Galih mulai menjaga Jarak dengan Gita agar tidak begitu merasakan sakit ketika melihat Gita bersama orang lain. Dan perkuliahan Dimas semakin padat dikarenakan saat ini ia sudah menginjak semester terakhir. Dimas mulai disibukkan dengan segala sesuatu menyangkut perkuliahan, dari mulai mengikuti semester pendek, pengajuan skripsi dan lain sebagainya, Gita pun mulai diabaikan sedikit demi sedikit.
Siang itu, Galih yang sedang asik mendengarkan musik dengan volume kencang sambil bermain PS, menghentikan permainannya karena melihat ada panggilan masuk di Hp, Galih langsung meraih Hp nya dan melihat panggilan di Hp nya. "Gita" Nama itu tiba-tiba muncul dilayar HP Galih, setelah sekian lama sibuk dengan hubungan barunya.
"Hallo Ta" Galih mengangkat tlp dari Gita lewat speaker Hp nya.
"Hallo gal, lo dimana?" Tanya Gita, yang menelpon Galih dari balik jendela kamar tidurnya sambil melihat kearah rumah Galih.
"Dirumah Ta" Jawab Galih yang sedang asik bermain PS.
"Apa? Gak kedengeran Gal" Jawab Gita setengah teriak, karena tidak mendengar jelas suara Galih yang kebanting dengan suara musik.
"Dirumah Ta, Gue dirumah kenapa?" Galih menjawab tlp nya dengan berteriak dengan wajah masih fokus dengan permainan PS nya.
"Jalan yuk Gal" Gita mengajak Galih untuk pergi .
"Gak bisa Ta"
"Gue udah ada janji sama orang" Galih menolak ajakan Gita.
"Loh, mau kemana?"
"Ada janji sama siapa?" Jawab Gita penasaran.
"Ada deh"
"Udah dulu yah Ta" Jawab Galih memutuskan sambungan tlp dari Gita.
Mendengar jawaban Galih, Gita langsung mematikan Tlp nya.
"Berisik banget sih" Gerutu Gita sambil memgang kuping nya setelah menelpon Gali
"Galih janjian sama orang?"
"Sama siapa?"
"Pacarnya?"
"Galih kan gak punya pacar"
"Sok sibuk banget" Gerutu Gita sambil menarik bangku untuk ia duduki yang ada dikamarnya.
Gita merasa ada yang berbeda dari Galih saat itu. Biasanya setiap Gita ajak jalan, Galih selalu Mau dan gak pernah nolak, dan setiap Galih ada janian sama orang Galih pasti info ke Gita sama siapa Galih janjian, sampai tempat buat ketemuannya pun Galih bakal info ke Gita.
Hari itu Gita benar-benar merasakan ada sesuatu yang aneh dengan Galih, dan yang paling dirinya rasakan adalah Gita benar-benar merasa sendirian . Dimas yang sibuk dengan perkulianannya dan Galih yang seakan menjaga jarak dengan dirinya.
--------
Hari ini, Galih merasakan sakit dibagian belakang kepalanya, Galih yang saat itu sedang berada dikampus, memutuskan untuk segera pulang.Dalam perjalanan Galih mulai merasakan matanya tidak terlalu jelas untuk melihat, Galih berhenti beberapa kali untuk memastikan penglihatannya, dan mengendari motornya dengan hati-hati hingga tiba dirumah.
"Assalamualaikum" Ucap Galih, sambil membuka pintu rumahnya.
"Waalaikumsalam"Jawab Ibu Galih, yang saat itu sedang berada diruang TV.
"Loh gal kok kamu sudah pulang?" Tanya Ibynya dengan nada heran.
Pendengaran Galih saat itu juga mulai terganggu, Galih hanya mendengar samar-samar kata-kata yang diucapkan oleh Ibu nya. Galih mencoba mengerti apa yang disamapaikan oleh Ibu nya.
"Ia bu" Galih menjawab pertanyaan Ibu nya.
"Muka kamu pucat sekali Gal, kamu sakit?" Tanya Ibu Galih sambil memegang tubuh Gali yang saat itu sangat dingin dan berkeringat.
"Gal, hidung kamu berdarah"
"Kamu mimisan lagi Gal?" Tanya Ibu Galih dengan nada yang sangat Khawatir,
Galih yang saat itu menahan sakit dikepalanya, tidak mendengar sama sekali yang diucapkan oleh Ibu nya, Galih mencoba mengerti apa yang disampaikan Ibunya, namun ia gagal. Pendengarannya benar-benar tidak berfungsi saat itu.
Galih yang berdiri tegak dihadapan Ibunya, seketika tumbang dengan darah yang keluar dari mulutnya.
Galih tidak sadarkan diri, Ibunya berkali kali memanggil nama Galih saat itu.
"Galih"
"Galih"
"Galih bangun Nak, Bangun"
"Gali kenapa Nak?"
"Ayo Bangun Galih?" Ucap Ibu nya dengan rasa khawatir diiringu air mata yang mengalir deras sambil menepuk pipi Galih yang sudah berlumuran darah, dan mengoyak-oyang tubuh Galih, berharap Galih sadar. Namun Galih tidak sadarkan diri sama sekali.
Ibunya langsung menelpon ambulance dan membawanya ke Rumah Sakit tempat Galih di Operasi saat SMA.
Setibanya dirumah sakit Ibu Galih yang terus menangis berlari mengantar Galih yang terbaring tak sadarkan diri dengan darah yang berlumur dimulut dan tubuhnya diatas ranjang pasien hingga ruang ICU. Ibu Galih hanya bisa mengantar Galih sampai depan Pintu ICU, dan menunggunya diluar.
Setelah beberapa lama menunggu, seorang perawat memanggil Ibu Galih untuk menemui dokter yang menangani Galih.
Tokk.. tok.. tokk...
Suara pintu terdengar dari luar ruangan dokter.
Ibu Galih membuka pintu tersebut dan masuk untuk menemui Dokter.
"Permisi Dokter, saya Ibu dari pasien atas nama Galih" Ucap Ibu Galih dengan raut wajah sedih dan mata yang sembab.
"Oh ia, Ibu nya Galih"
"Silahkan duduk Ibu" Jwab dokter sambil mempersilahkan Ibu Galih duduk di kursi yang sudah disiapkan.
Diruangan dokter, Ibu Galih duduk berhadapan dengan dokter yang membelakangi sebuah layar yang terdapat gambar hasil CT Scan Galih.
"Jadi begini"
"Ini adalah hasil CT Scan anak Ibu" Ucap dokter sambil berdiri menunjuk kearah layar.
Ibu Galih hanya mengangguk .
"Jadi akan saya jelaskan disini"
"Saya harap, Ibu bisa sabar mendengarnya" Dokter kembali mengucapkan kata-kata yang membuat Ibu Galih kembali cemas.
"Anak Ibu terkena Kanker Otak,dan sudah memasuki stadium 4" Ucap dokter secara perlahan, dan mengejutkan Ibu Galih.
Ibu Galih yang duduk dengan perasaan cemas, Tersentak seketika mendengar vonis yang diucapkan oleh dokter tentang anaknya. Air mata itu kembali mengalir, isak tangis terdengar meski sudah menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Stadium 4?" Tanya Ibu Galih sambil menahan tangisnya.
"Ini merupakan sel Kankernya dan sel ini sudah menyebar" Ucap dokter sambil menunjukkan sel kanker yang ada di hasil CT Scan milik Galih.
Ibu Galih bangkit dari tempat duduknya menghampiri dokter yang sedang berdiri memberikan penjelasan kepada Ibu Galih.
"Tapi dulu, di rumah sakit ini Galih sudah pernah dioperasi untuk pengangkatan sel kanker"
"Dan waktu itu juga Dokter kan yang mengoperasi anak saya"
"Dokter bilang Operasi nya berhasil, dan sel kanker itu sudah hilang"
"Tapi kenapa sekarang muncul lagi dan tiba-tiba sudah memasuki stadium akhir dok?"
"Kenapa dokter?" Tanya Ibu Galih dengan tangisan yang mengiringi nada bicaranya, sambil mendorong-dorong tubuh dokter tersebut dengan penuh emosi.
Dokter melepaskan tangan Ibu Galih, berjalan menuju jendela dan berdiri disana, sambil menceritakan apa yang sebenarnya terjadi saat operasi pertama itu.
"1 Hari sebelum saya operasi Galih, beberapa tahun lalu"
"Galih menemui saya, dan bertanya mengenai apa yang sebenarnya terjadi"
"Dan saya menjelaskan apa yang sedang terjadi dalam dirinya"
"ia bertanya kepada saya, apakah Kanker Otak yang dideritanya dapat disembuhkan?"
"Awalnya saya tidak menjawab, saya takut membuatnya patah semangat"
"Tetapi Galih terus memaksa saya untuk menjawabnya"
"Saya bilang, bahwa saat ini belum ada pengobatan yang bisa menyembuhkan penyakit Kanker"
"Kemungkinan hanya bisa menghambat perkembangannya"
"Saat itu Galih terdiam, lalu mengatakan hal yang membuat saya berfikir bahwa saya bukanlah dokter yang hebat, saya tersentak dengan kata-kata Galih saat itu"
"Dia bilang, Jika belum ada pengobatan yang bisa menyembuhkan Kanker, berarti Dokter juga tidak bisa menyembuhkan Saya, dan Operasi yang dilakukan besok itu hanya menghambat perkembangan Kanker bukan membunuhnya, berarti lewat dokter, Tuhan memberikan saya kesempatan hidup lebih panjang sedikit"
"Jika memang seperti itu, saya mohon kepada dokter"
"Saat Operasi selesai, tolong sampaikan kepada Ibu Saya, bahwa Operasi saat itu Berhasil"
"Dan sudah tidak ada lagi sel kaker yang tersisa dikepala saya"
"Saya ingin Ibu saya menjalani hidupnya seperti biasanya, saya ingin selalu melihat senyuman Ibu saya tanpa ada rasa Khawatir yang berlebihan kepada saya".
"Dan beberapa minggu yang lalu, Galih menemui saya kembali"
"Dia menceritakan, semua gejala yang sedang ia rasakan belakangan ini"
"Saya sudah mengetahui, bahwa cepat atau lambat hal ini akan terjadi"
"Saya sudah katakan berulang kali, bahwa Galih harus dirawat secara Intensif"
"Tetapi Galih menolaknya, alasannya masih sama"
"Itu semua karena dia tidak ingin Ibu hawatir dengannya"
Ibu Galih menangis mendengarkan setiap hal yang diceritakan oleh dokter tersebut.
"Lalu apakah Galih, masih punya harapan untuk hidup dok?" Tanya Ibu Galih dengan nada yang sangat sendu
"Galih selalu mempunyai harapan untuk hidup"
"Galih memiliki banyak sekali kekuatan dalam hidupnya"
"Tidak banyak pasien penderita Kanker yang kuat bertahan melawan rasa sakitnya selama ini"
"Tetapi Galih berbeda"
"Dia masih memiliki keinginan untuk hidup" Jawab Dokter sambil meyakinkan Ibu Galih kalau Galih bisa bertahan.
"Berapa lama Galih bisa bertahan Dok?" Tanya Ibu Galih
"Untuk pasien penderita kanker dengan tingkat yang sudah masuk dalam tingkatan akhir"
"Kemungkinan sisa hidupnya tidak akan lebih dari 12 Bulan"
"Itu pun jika Galih benar-benar kuat berjuang melawan penyakitnya"
"Tapi saya bukan Tuhan, saya hanya bisa memberikan kemungkinan"
"Tapi selebihnya, Tuhan lah yang berhak menentukan" Jawab dokter yang saat itu juga merasakan kepedihan yang dialami oleh Ibu Galih.
"Dukungan keluarga serta orang-orang terkasihnya sangat membantu semangatnya untuk bertahan Hidup"
Ucap dokter memberikan pengertian kepada Ibu Galih, untuk tetap tegar.
Ibu Galih hanya bisa menangis dan mengagguk mendengar ucapan dokter itu.
"Galih sudah dipindahkan keruang perawatan intensif, Ibu bisa menjenguknya sekarang" Ucap dokter sambil tersenyum.
Ibu Galih mengangguk, dan meninggalkan ruangan Dokter untuk menuju ruang perawatan intensif untuk melihat Galih.
Diruang perawatan banyak sekali selang perawatan yang menempel ditubuhnya serta bunyi mesin yang membantu Galih untuk bertahan. Ibunya yang kala itu berdiri didepan kaca tempat galih dirawat hanya bisa menangis melihat kondisi Galih yang terbaring lemah. Setelah menghapus air matanya Ibu Galih masuk kedalam dan menggenggam tangan Galih. Sepertinya Galih merespon genggaman tangan Ibunya.
Ibunya tersentak merasakan respon tersebut, dan melihat sedikit demi sedikit mata Galih mulai terbuka.
"Galih, galih udah sadar Nak"
"Ini Ibu, Sayang"
"Ibu disini Nak" Ucap Ibu sambil meneteskan airmata kembali.
Oksigen yang terpasang di bagian hidung dan mulut Galih, membuat Ibu Galih sedikit kesulitan mendengar kata demi kata dari mulut Galih, tetapi masih bisa mengerti.
"Galih dimana Bu?" Tanya Galih dengan nada suara yang lemah.
" Galih dirumah sakit sekarang"
"Galih jangan banyak gerak dulu yaaah"
"Galih istirahat ajah" Jawab Ibu Galih menahan tangisnya yang ingin sekali pecah saat itu.
"Gita mana bu?" Tanya Galih kembali
"Gita belum tau kalo Galih dirawat, Ibu belum sempet kabarin Gita"
"Nanti Ibu kabarin Gita yaa"
"Ibu suruh Gita kesini, temenin Galih" Jawab Ibu Galih.
Galih menggelengkan kepalanya,
"Jangan Bu"
"Gita gak boleh tau" Ucap Galih yang dengan erat menggenggam tangan Ibu nya.
-------
Matahari hari itu bersinar begitu terik, membuat Gita malas sekali melakukan apapun.
Sudah beberapa hari Galih tidak terlihat dirumahnya, dan rumahnya pun terlihat begitu sepi.
Gita menjadi rindu dengan sahabatnya itu, dan membuat Gita mendatangi Rumah Galih.
Tokkk- tokk-- tokk--
"Assalamualaikum, Galaaahhh"
Tokkk- tokk-- tokk--
"Assalamualaikum"
"Gallll"
"Galihhh"
Gita berteriak berkali kali mengucapkan salam dan memanggil Galih, namun tidak ada jawaban dari dalam rumah.
"Kok gak ada yang nyaut"
"Tapi Motor nya Galih ada"
"Gerbang juga gak di gembok" Gerutu Gita sambil merengutkan jidatnya.
Gita langsung mengambil HP dikantong celananya, dan menghubungi nomor Galih, dan ternyata nomor HP nya pun tidak aktif.
"Ihhh, kemana sih nih anak"
"Tumben banget, susah dicarinya" Gerutu Gita dengan wajahnya yang cemberut dan beranjak meninggalkan rumah Galih menuju rumahnya.
Tak lama kemudian HP Gita berbunyi, Gita senang, berharap Tlp itu dari Galih .
Pada saat dilihat, ternyata bukan Galih melainkan Dimas.
"Halo Ta"
"Kamu lagi dirumah gak?" Tanya Dimas
"Ia Aku lagi dirumah nih, kenapa dim?" Jawab Gita dengan nada sedikit kecewa
"Aku lagi menuju rumah kamu nih Ta"
"Kamu siap-siap yah, aku mau ajak kamu pergi"
"Okee, bye" Ucap Dimas yang langsung memutuskan panggilan tlp nya.
"Tapi Dim, Halo, Dimas, Halo?"Belum sempat Gita jawab, Dimas sudah memutuskan sambungan tlp nya.
"Kok dimatiin sih, ishhh nyebelin banget" Gerutu Gita, yang langsung menuju kamar nya.
Beberapa menit kemudian, mobil dimas sudah berada tepat didepan rumah Gita.
Tinn-- tinn ---
Dimas membunyikan klakson mobilnya, memberikan isyarat ke Gita, kalau dia sudah tiba dirumah Gita.
Gita bergegas keluar rumah untuk menemuinya dan langsung masuk kedalam mobil Dimas, sambil menengok kearah rumah Galih yang masih terlihat sepi.
"Hay" Sapa Dimas dengan senyuman lebarnya.
"Hay" Gita membalas sapaan dimas, dengan senyum kecil yang dipaksakan.
"Udah siap tuan putri?" Tanya Dimas kembali.
Gita hanya mengangguk dan tersenyum .
"Okeee kita berangkat" Ucap Dimas, sambil memperhatikan jalan didepannya.
Selama jalan bersama Dimas, fikiran Gita melayang-layang jauuhhh memikirkan Galih.
Gita bertanya-tanya dalam hatinya,
"Galih kemana yah?" "Galih, kenapa yah?" "Kok Gak ada kabarnya?"
"Apa sibuk sama pacar barunya?" "Apa ia waktu itu galih janjian ketemuan sama orang, dan itu pacarnya?"
"Kok dia gak cerita sama gue?" "Kok gue kesel yah?" "Kenapa juga dia gak cerita ke gue?" "Kan gue sahabatnya" "Kalo ada apa-apa biasanya dia yang paling update ngasih info ke gue" "Apa dia marah yah sama gue?" "Tapi Kenapa marah?" "Emangnya gue punya salah apa?" "Apa karena gue pacaran sama Dimas?" "Ah gak mungkin ah" "Masa ia Galih cemburu" "ah gue mikir apa sih?" "Gak lah gak mungkin Galih cemburu sama gue" "Bertahun-tahun Gue sahabatan sama dia, Gak mungkin dia jatuh cinta sama Gue" "Pasti bukan itu alasannya" "Pasti ada alasan lain."
"Hellooooooo" Ucap dimas sambil melambaikan tangan didepan wajah Gitadan membuyarkan pikiran-pikiran Gita saat itu
"Eh ia Dim, Sorry sorry"
"Kenapa, kenapa?" Tanya Gita spontan.
"Kok kamu melamun gitu sih, lagi mikirin apa?"
"Aku perhatiin dari tadi kamu gak dengerin aku ngomong"
"Kamu lagi ada masalah?" Tanya Dimas mencoba mencaritahu apa yang difikirkan kekasihnya itu.
"Enggak kok, enggak ada apa-apa"
"Oia, tadi kamu bilang apa?" Tanya Gita sambil tersenyum, dan mencoba fokus mendengarkan omongan Dimas.
"Ia, pengajuan skripsi aku sudah disetujui, dan 2 bulan lagi aku bisa sidang bareng sama anak-anak yang lain" Ucap Dimas
"Wahh, selamat yah Dim"
"Aku yakin sidang kamu pasti berjalan dengan lancar"
"Kamu pasti lulus deh" Jawab Gita dengan nada senang.
"Nanti, pas aku sidang kamu dateng yah" Ucap dimas sambil memgang kedua tangan Gita.
Gita mengangguk dan tersenyum, memberikan tanda bahwa dirinya akan menghadiri sidang Dimas.
---------
Tiga minggu sudah Galih terbaring dirumah sakit, masa kritisnya sudah lewat, namun sel kanker itu sudah menyebar kearah telinganya, yang mengakibatkan semakin hari Galih semakin sulit untuk mendengar.
Dokter menyarankan untuk segera dilakukan Operasi untuk pengangakatan sel kanker yang sudah mulai menyebar, dan memberikan surat persetujuan Operasi ke Ibu Galih untuk ditandatangani. Ibu Galih menyetujui Operasi tersebut. Penjadwalan Operasi akan dilakukan 2 hari setelah penandatanganan persetujuan operasi.
"Bu,liat HP Galih?" Tanya Galih dengan oksigen yang sudah tidak membungkus hidungnya.
"Nih, HP nya gak Ibu Aktifin"
"Takut Gita tlp kamu"
"Nanti Ibu bingung jawabnya" Jawab Ibu Galih yang menjawab ditelinga Galih sambil memberikan HP milik Galih.
Galih hanya tersenyum ,dan menerima HP nya dari tangan Ibu nya, dan menyalahkannya.
Saat dinyalahkan, puluhan SMS serta panggilan yang tidak terjawab masuk ke HP Galih, semua bernama GITA.
"Galaaaah, jalan yu"
"Gal, Lo dimana?"
"Susah amat hubungin lo yaa"
"Lo udah punya pacar gal?"
"Kok lo gak cerita ke Gue?"
"Tadi gue kerumah Lo, gue ketok-ketok pintu rumah lo"
"gue teriaak manggil nama lo, tapi gak ada yang nyaut"
"Tapi motor lo ada, Pager juga gak digembok"
"Lo dimna sih?"
"Galaaah Gue kangen :("
"Lo marah sama gue?"
"HP Lo kenapa gak aktif mulu siiihhhhh?"
Galih tersenyum membaca setiap pesan yang masuk ke hp nya.
"Hay cerewet" Galih emngirimkan pesan singkat ke Gita, agar Gita tidak lagi hawatir dengannya.
Gita yang sedang mengikuti kelas dikampusnya, tidak menyangka jika orang yang sedang ada difikirannya belakangan ini, mengirimkan ia pesan singkat.
"Galih?" Ucap Gita pelan dengan senyman yang mengembang Indah melihat layar HP nya.
"Galaaaaaahhhhhhhhhhhhh"
"Ahhhhh gilaaa, lo kemana ajaaaaaaa?"
"Hilang gitu aja" Gita langsung membalas cepat pesan singkat dari Galih.
"Ia sorry, sorry"
"Gue lagi di luar kota sekarang, kemarin HP gue rusak"
"Ini baru bisa nyalah lagi" Galih membalas watsapp Gita, dan terpaksa berbohong agar Gita tidak semakin hawatir terhadapnya.
"Luar kota?"
"Dimana?"
"Kok tumben, ada urusan apa emang?"
"Kapan pulaaaaang?"
"Gue kangeeeeen hikss hiksss" Balas Gita, sambil cengar cengir sendirian.
"Sabar yah, gue lagi berjuang nih"
"Sedikit lagi gue pasti pulang"
"Jangan manja, selama gak ada gue, lo harus bisa mandiri"
"Jangan ngelakuin hal yang aneh-aneh"
"Makan teratur, tidur cukup, kuliah harus bener"
"Jangan Pacaran ajaa lo pikirin"
"Pokokknya, pas gue pulang nanti, lo harus Bahagia"
"Okeeeeee nona cerewet?" Jawab Galih
"Aelaah, panjang banget wasiatnya haha"
"Gak ada partner yang asik buat nemenin gue liat bintang kalo malem nih"
"Jangan lama-lamaa doong"
"Gak kangen lo sama gue?"
"Apa perlu gue susul nih, biar lo pulang?" Jawab Gita
"Hahaa, gak usah bawel"
"Nanti juga gue pulang sendiri, udah ada arahnya kok"
"Kangeeen kokk, kangeeeeeeen banget"
"Nanti pas gue pulang jangan nagis yaaaaaa"
"Biar gue nya gak ngerasa bersalah karena udah ninggalin lu tanpa kabar hahahaa" Jawab Galih
"Yailaahh, sayang banget air mata gue, buat nangisin lo Gal"
"Gue fikir lo gak ada kabarnya, karena udah punya kekasih hati"
"terus lagi sibuk sama kekasih lo, sampe gue gak dianggap lagi huhu" Jawab Gita
"Hahaaa, enggak lah"
"Emang nya elo, mentang-mentang udah punya pacar"
"Waktu main sama gue, lo korbanin hmmm" Jawab Galih
"Hahaha, namanya juga lagi kasmaran Pak"
"Makanya punya kekasih, biar ngerti kalo setiap detik itu selalu punya arti buat dilewatin bareng-bareng"
"weeeeee" Jawab Gita meledek
"Udah punya kekasih kali gue Ta weeeee"
"Duluan gue malah ketemunya, daripada Lo sama Dimas"
"Tapi gue belom cerita aja ke elo hahaha" Jawab Galih
"Ih Paraaahhh"
"Asli, kesel loh gue dengernya"
"Lo gak pernah cerita yaaaa, ke guee"
"Ihh Paraaahh, males gue sama lo" Jawab Gita, dengan raut wajah cemberut
"Hehehee"
"Nanti yaa pas gue pulang, gue kenalin sama kekasih gueee"
"Cantik Ta, Rambutnya suka dikuncir kuda juga kayak lo, yaaa 11-12 lah sama Lo" Jawab Galih
"Gak usah banyak cerita di watsapp yaaa"
"Gue gak perduli mau lo kenalin atau enggak"
"Pokokknyaaa lo cepet pulaaaaaaaaaaaang hikssss" Jawab Gita
"Ia bawel"
"Nanti, kalo bukan gue yang ngabarin, palingan nyokap yang bakal kasih kabar ke Elu pas gue pulang"
"Takutnya nanti Hp gue rusak lagi"
"Gak boleh banyak ngambek, Jeleeeeekkkkk" Jawab Galih.
"Dikit lagi, gue ulantahuuuuunnn"
"Pokokknyaaa pas gue ulangtahun lo udah harus ada dirumah"
"Kita rayain bareng-bareng" Jawab Gita
"Iaaa, mana lah gue lupa tanggal ulangtahun lo"
"Gue uda nyiapin Kado juga buat lo"
"Biar, lo bisa inget gue terusss #Tsaelaaah" Jawab Galih
"Isshhhh,Au Amat"
"Yaudah gue mau pulang, Matakuliah gue ude kelar hari ini"
"Bye Galaaaaaahh" Jawab Gita
"Hati-hati cintaaaaa :p " Jawab Galih meledek Gita
Gita hanya tersenyum membaca balasan dari Galih, dan bergegas pulang meninggalkan kampusnya.
-----------
Hari ini, jadwal Galih melakukan operasi.
Diruangan operasi yang tertutup itu, terdapat beberapa dokter yang bekerja keras untuk mengangkat sel-sel kanker yang ada di kepala Galih. Dokter dan satu Tim pun sudah siap untuk melakukan operasi hari ini.
Dokter mulai membedah kepala Galih, dan memulai melakukan operasi pengangkatan sel kanker.
Namun sangat disayangkan, ternyata sel-sel kanker tersebut sudah menyebar terlalu cepat kedaerah yang sangat berbahaya, oleh karena itu operasi tidak dilanjutkan, dikarenakan khawatir terlalu beresiko diri pasien.
Setelah selesai, Dokter keluar dari dalam ruangan dan hanya menunduk lesu.
Menjadi isyarat buruk untuk Ibu Galih yang saat itu sudah menunggu didepan ruang operasi.
"Bagaimana Dok?"
"Apakah operasinya berjalan dengan lancar?" Tanya Ibu Galih dengan penuh ketegangan.
"Kami mohon maaf"
"Kami tidak bisa melanjutkan operasi, karena ternyata sel kanker sudah terlalu luas penyebarannya"
"Jika kami lanjutkan, kami hawatir akan terjadi resiko yang fatal untuk pasien" Ucap dokter dengan wajah penuh kegagalan, dan beranjak meninggalkan Ibu Galih.
Ibu Galih hanya terdiam mendengar ucapan dokter tadi, dan terduduk lemas mendengarnya. Tak lama kemudian Galih keluar dari ruang operasi, dan langsung dipindahkan keruang rawatnya. Hari itu terasa sangat berat sekali untuk Ibu Galih, dia sudah pasrah dengan apa yang terjadi kepada Galih.
Malam itu, tubuh Gali tidak stabil, tiba-tiba Galih kejang.
Ibunya yang sedang membaca ayat-ayat alquran, mendadak kaget melihat kondisi anaknya, dan langsung memanggil Dokter, dokter pun langsung memberikan penanganan pertamanya hingga tubuh Galih bisa stabil kembali.
"Dokter, apa tidak ada jalan lain selain operasi, yang bisa menyembuhkan Galih?" Tanya Ibu Galih dengan penuh harapan.
"Ada cara lain selain operasi"
"Yaitu kemoterapi"
"Tapi, kemoterapi juga bukan sebagai penyembuh"
"Melainkan penghambat pertumbuhan sel kanker"
"Dan mempunyai efek samping yang sangat menyakitkan" Ucap Dokter kepada Ibu Galih
Ibu Galih menyetujui menggunakan kemoterapi sebagai usaha lain selain operasi untuk menghambat pertumbuhan sel kanker, dan memberikan harapan hidup lebih lama untuk Galih.
Pagi ini, Galih yang sempat mengalami kejang perlahan membuka kedua matanya, dan menggenggam tangan Ibu nya yang memegangi tangannya.
"Galih?" Ucap Ibu nya
"Bu, gimana operasinya?" Tanya Galih dengan nada lemah
"Alhamdulillah lancar Nak"
"Setelah operasi, kamu harus melakukan Kemoterapi" Jawab Ibu Galih dikuping Galih, dengan berpura-pura semuanya berjalan dengan lancar dan menahan tangisnya.
"Galih mau pulang kerumah Bu" Ucap Galih ke Ibu nya
"Ia Nak, nanti Ibu coba bilang ke Dokter supaya Galih dirawat dirumah saja" Jawab Ibu Galih.
Galih hanya mengangguk dan tersenyum kearah Ibu nya.
Ibu Galih mencoba meminta persetujuan rumah sakit, agar Galih bisa dirawat dirumah saja.
Pihak rumah sakit menyetujuinya, dan untuk proses kemoterapi bisa dilakukan dirumah yang akan dimulai saat keadaan Galih membaik.
-----------
Pagi itu, cahaya memantulkan kehangatan diruang kamar inap Galih.
Hari ini Galih diizinkan meninggalkan rumah sakit, untuk dirawat dirumah.
Tubuh Galih yang sudah sangat rapuh untuk berjalan dan juga berdiri lama, mengharuskannya menggunakan kursi roda.
Karena posisi kamar Galih diatas, Ibu Galih membantu Galih berjalan sedikit demi sedikit kelantai atas kamar Galih, dan membaringkan Galih diatas tempat tidur.
Gita yang baru kembali dari kampus, melihat kearah rumah Galih yang melihat ada mobil Ibu Galih terparkir di teras rumah Galih.
"Loh, itu bukannya mobil Ibu nya Galih?" Ucap Gita sambil menunjuk kearah rumah Galih.
Gita mengambil Hp yang ada dikantongnya, dan coba menghubungi HP Galih.
Dikamar, Hp Galih berbunyi .
Galih meraih Hp nya, terlihat nama "Gita" dilayar hp nya, namun diabaikan oleh Galih, karena Galih tidak ingin Gita mendengar suaranya yang lemah.
"Kok gak diangkat sih" Gerutu Gita cambil cemberut, dan beranjak masuk kedalam rumahnya.
Dari dalam kamar, Gita memperhatikan rumah Galih, dan memperhatikan kamar Galih.
Malam itu, hujan turun begitu deras.
Galih sudah merasakan tubuhnya semakin lemah, Ia berusaha mengambil kertas dan pulpen dari meja sebelah tempat tidurnya.
Menuliskan sebuah surat, isi hati yang telah lama ia pendam untuk Gita, dengan air mata yang berderai sambil mengingat segala kenangan-kenangan mereka bersama selama 20 Tahun ini.
-----
Hari ini, kemoterapi pertama Galih.
Dokter memasukkan obat kemoterapi kedalam suntikan yang langsung ke aliran darah dan akan dialirkan keseluruh bagian tubuh. Setelah beberapa lama pemberian obat itu Galih merasakan efeksampingnya yaitu merasakan mual dan muntah-muntah, Galih merasakan sakit diseluruh tubuhnya, yang sesekali teriak sambil menangis.
"Bu, sakit bu" Ucap Galih dengan nada lemah
Gita yang saat itu sedang berdiam diri dikamar, tersentak kaget mendengar teriakan Galih dari kamarnya.
"Galih?"
"Itu kayak suara Galih" Ucap Gita sambil melihat dari jendela kamarnya kearah rumah Galih, terlihat mobil ambulance rumah sakit terparkir di teras rumah galih, Gita langsung melihat kearah jendela kamar galih, terlihat seperti ada bayangan-bayangan disana.
Gita langsung berlari keluar rumah dan menuju rumah Galih .
Dugg-dug--dugg
Gita memukul pintu rumah Galih dengan keras sambil berteriak-teriak memanggil nama Galih.
"Gallll, Galiihhh"
"Buka Pintunya Gall"
"Gue tau lo didalem Galiihhh"
"Lo Kenapa Gal"
"Galiiiihhhhh"
Duggg-dugg--dugggg kembali Gita memukul pintu rumah Galih dengan keras.
Seseorang membuka pintu tersebut, dan ketika pintu itu terbuka Gita menerobos untuk masuk, dan langsung lari kearah kamar Galih yang saat itu tidak terkunci, Gita langsung membuka pintu dan menerobos masuk.
Saat masuk Gita melihat Dokter dan juga beberapa perawat dikamar Galih.
Dan betapa terkejutnya Gita, ketika melihat.kondisi Galih yang sudah tidak berdaya, terlentang lemah diatas tempat tidur sambil memegangi tangan Ibu nya, dan merintih kesakitan.
Gita langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Selangkah demi selangkah, Gita menghampiri tempat tidur Galih dan duduk disamping tempat tidurnya dengan air mata yang mulai membasahi pipi nya.
"Galll"
"Lo kenaapa Gal?" Tanya Gita sambil memegang tangan sahabatnya itu.
"Bu, suruh Gita pulang" Ucap Galih dengan nada lemah.
Ibu Galih perlahan melepaskan genggaman tangan Galih, dan mennghampiri Gita yang saat itu duduk disebelah tempat tidur Galih.
"Nak Gita, bisa kita bicara diluar?" Tanya Ibu Galih
Gita mengangguk dan menghapus airmatanya, mereka berdua menuju keluar kamar Galih.
"Nak Gita, Ibu minta maaf"
"Bukan Ibu mengusir Nak Gita"
"Tetapi ada baiknya, Nak Gita pulang saja"
"Jangan ganggu Galih dulu untuk sementara waktu" Ucap Ibu Galih dengan senyum terpaksa.
"Galih kenapa Bu?" Tanya Gita dengan nada sendu
"Sudah, sebaiknya Nak Gita pulang saja dulu" Ucap Ibu Galih menahan tangis.
"Gak mau bu"
"Gita gak mau pulang"
"Gita harus tau, Galih kenapa bu?" Ucap Gita penuh kebingungan.
"Kanker Otak stadium 4"
"Galih divonis dokter mengidap kanker Otak stadium 4 Gita" Jawab Ibu Galih sambil menangis dan memeluk Gita.
Gita yang saat itu berdiri dihadapan Ibu Galih, sontak Kaget dengan jawaban yang diberikan oleh Ibu Galih.
Ibu galih yang memeluknya, langsung ia lepaskan pelukannya.
"Gak bu, Gak mungkin"
"Ibu Pasti bohong kan?"
"Ibu pasti disuruh Galih buat bohong kan?"
"Galih gak sakit kan bu?"
"Galih baik-baik aja kan bu?"
"Ia kan Bu?" Ucap Gita sambil setengah tertawa dan menangis berharap semua yang dibilang Ibunya Galih adalah Bohong.
Gita kembali masuk kedalam kamar Galih sambil menangis, dan menuju kearah Galih, dan berlutut tepat disamping tempat tidur Galih.
"Lo bilang, lo keluar kota Gal"
"Lo bilang, lo ada urusan diluar kota?"
"Ini Gal?"
"Ini yang lo bilang urusan ?"
"Kenapa Galih?"
"Kenapa lo gak pernah cerita ke Gue?"
"Kenapa gue harus tau sendiri kenyataannya?" Ucap Gitaaa dihadapan Galih sambil menangis terisak.
"Ta" Galih berbicara dengan nada yang lemah sambil mengelus pelan rambut Gita.
"Maafin Gue"
"Lo Jangan nagis"
"Gue pasti sembuh kok" Ucap Galih dengan perlahan sambil tersenyum kearah Gita.
Sebenarnya alasan Galih bisa bertahan dari Kanker selama itu selain Ibunya adalah GITA, Gita lah yang membuat Galih menjadi punya banyak harapan untuk hidup, punya banyak energi untuk terus bangkit dari sakitnya.
Pada kemoterapi berikutnya Gita hadir, memberikan semangat untuk Galih. Menggenggam erat tangan Galih saat Galih merasakan kesakitan, saat Galih merintih kesakitan. Sesekali Gita berlari kekamar mandi sambil menangis, mengeluarkan tangisannya karena terlalu menyakitkan melihat apa yang Galih lalui saat ini.
Hampir setiap hari Gita datang menjenguk Galih, membawakan makanan kesukaannya.
Menghibur Galih dengan tingkah konyolnya, membuat Galih melupakan sedikit rasa sakitnya.
Rambut Galih yang mulai rontok akibat kemo, membuat kepalanya menjadi botak.
"Ta, besok ajak Dimas kesini yah" Ucap Galih ke Gita yang saat itu sedang mengusap usap jidat Galih.
"Dimas?" Tanya Gita curiga
"Ia, elo kan belum pernah ngenalin Dimas langsung ke Gue" Jawab Galih dengan suara yang lemah
Gita mengangguk sambil tersenyum menyetujui permintaan Galih.
Esoknya, Gita datang kerumah Galih membawa Dimas.
Sesuai permintaan Galih, untuk memperkenalkan Dimas langsung.
"Galaaaaahhh" Teriak Gita dengan nada gembira menghampiri Galih, sambil membawa bunga lili putih.
"Ini bunga nya gue taro sini yah Gal" Ucap Gita dengan tutur kata yang sangat jelas.
Galih tersenyum dan mengangguk .
"Oia Gal, kenalin ini Dimas"
"Dimas ini Galih sahabat terbaik yang aku punya" Ucap Gita dengan Ceria.
"Gimana keadaan lo Gal?" Tanya Dimas yang saat itu berdiri disamping Gita.
Galih tidak mendengar dengan baik pertanyaan Dimas, karena pendengarannya sudah mulai berkurang.
"Gal, Dimas tanya keadaannya Galih"
"Gimana?" Gita mencoba membantu Dimas untuk menyampaikan pertanyaannya dengan cara menuliskannya di kertas selembar.
"Baik Dim" Jawab Galih
"Ta, tolong ambilin gue air putih"
"Gue haus" Ucap Galih perlahan kearah Gita, Gita mengangguk dan langsung bergegas mengambilkan Galih Air putih didapur.
"Dim, duduk disini" Ucap Galih sambil menepuk tempat tidur sebelah kanannya.
Dimas mengikuti kemauan Galih, dan duduk tepat disebelahny.
"Dim, gue titip Gita yah sama lo"
"Jangan sakitin Gita"
"Bikin Gita Bahagia"
"Gue udah gak bisa jagain dia lagi"
"Sekarang tugas gue udah selesai buat jagain Gita"
"Tolong jangan bikin dia sedih apapun keadaanya"
"Gue percayakan Gita sepenuhnya sama lo"
"Sesekali tolong ajak Gita buat nengokin nyokap Gue"
"Mimpinya Gita, mau jadi pengantin tercantik dan hidup bahagia dengan pendampingnya"
Ucap Galih dengan nada dan nafas yang lemah secara perlahan-lahan.
"Ia gal, gue pasti bakal jagain Gita"
"Gue bakal buat Gita Bahagia" Ucap Dimas mengatakannya ditelinga Galih dengan penuh keyakinan.
Galih mengangguk mengerti dan tersenyum lega mendengar jawaban Dimas saat itu.
"Taraaa, Gita come back" Ucap Gita dengan nada ceria.
Dimas yang saat itu mulai meneteskan air mata, secepatnya langsung menghapus airmatanya itu.
Galih hanya tersenyum melihat tingkah laku Gita.
Mereka bertiga menghabiskan waktu bersama-sama saat itu, tanpa ada firasat sedikitpun kalau itu adalah hari pertama dan terakhir mereka berkumpul bersama seperti itu.
-----
Jam dinding dikamar Gita menunjukan jam 2 dini hari.
Hp Gita tak henti-hentinya berdering .
Gita neraih Hp nya dengan mata tertutup dan mengangkatnya.
"Hallo" Ucap Gita sambil dengan mata yang masih terpejam.
"Taaaaa, Galih Ta" Ucap seorang perempuan diujung saluran tlp,
Gita langsung terbangun ketika mendengar nama Galih disebut,
"Galih?" Ucap Gita kaget .
Gita langsung memastikan siapa yang menelponnya saat itu, dan ternyata itu adalah Ibu nya Galih.
"Ia Ta, Galih" Ibu nya menangis terisak isak .
"Galih, Galih kenapa Bu?" Jawab Gita ketakutan, yang saat itu masih menggunakan baju tidur langsung menuju rumah Galih.
Rumah galih tidak terkunci, mobil ambulance sudah terparkir didepan rumah Galih.
Perasan buruk pun mulai memenuhi fikiran Gita, Gita terus berlari kearah kamar Galih.
Ibu Galih sudah menangis teisak-isak disebelah Galih sambil memegangi tangan Galih yang saat itu sedang kejang. Lagi-lagi gita tak kuat melihat semua ini, gita berjalan pelan menuju Galih, dan duduk disebelah Galih.
"Gal, ini gue Gita Gal" Ucap Gita sambil menangis, Air mata gita saat itu tak dapat ia tahan lagi.
"Lo harus kuat ya Gal"
"Biar kita bisa sama-sama lagi"
"Kita liat bintang bareng lagi" Ucap Gita dengan nada terisak karena sambil menangis
"Bu"
"Maafin Galih ya kalo Galih punya salah"
"Maaf Galih belum bisa Bahagiain Ibu" Ucap Galih saat itu dengan air mata yang keluar mengalir dari matanya.
"Ia nak, ia"
"Ibu sudah maafin semua kesalahannya Galih" Ucap Ibunya sambil menangis
"Ta"
"Maafin Gue yah, kalo selama jadi sahabat lo, Gue kurang Baik"
"Jangan sedih lama-lama yah"
"Gue udah titip elo ke Dimas"
"Gue titip Ibu ke Elo yah Ta"
"Selamat Ulang Tahun ya Ta"
"Gue sayang sama lo Ta" Ucap Galih dengan nada dan nafas yang semakin melemah.
"Engga gal, Elo itu Sahabat paling Baik, yang Tuhan ciptain"
"Lo gak kurang apapun jadi sahabat gue selama ini"
"Lo harus sembul Gal"
"Jangan tinggalin Gue sendirian" Ucap Gita sambil menangis terisak isak .
"Tolong tuntun Galih Bu"
"Galih udah dijemput" Ucap Galih dengan suara yang mulai terbata bata.
"Laa ilaa haillallah" Ucap Ibu Galih sambil menangis, yang menuntun kalimat tersebut dikuping Galih dan diikuti oleh Galih.
Dan seketika lafal itu disebut, Galih langsung menutup matanya perlahan .
Gita yang duduk disebelah Galih tak henti-hentinya menangis.
"Enggak Gal"
"Galih bangun"
"Galihhhhhhhhhhhh" Gita berteriak sambil menggoyangkan badan Galih yang sudah menutup matanya.
Hari itu, adalah hari terakhir Galih melihat Gita.
Galih tersenyum bahagia, karena perjuangannya selama ini melawan sakit nya tidak sia-sia.
Galih bisa melihat Gita dan mengucapkan selamat ulang tahun untuk Gita, tepat dihari lahir Gita.
Dan sekaligus kado ulangtahun untuk Gita yang tepat menginjak usia 20 Tahun.
Dihari ulangtahunnya Gita harus Ikhlas melepas Sahabat terbaik yang dia sayang itu untuk selama-lama nya.
Usai pemakaman Galih berlangsung, Ibu Galih mengahampiri Gita yang sedang duduk memandangi batu nisan bertuliskan nama Galih, sambil menangis terisak.
"Yang Ikhlass ya Nak"
"Galih sudah tidak merasakan sakit lagi"
"Galih sudah bahagia sekarang" Ucap Ibu Galih sambil mengelus kepala Gita dan tersenyum.
"Ia Bu" Jawab Gita yang langsung memeluk Ibu Galih,dan kembali menitikan air matanya.
Ibu Galih mengelus punggungnya, untuk memberikan kekuatan kepada Gita.
Dimas yang saat itu tepat duduk dihadapan mereka, tanpa sengaja meneteskan air matanya.
"Oia, ini ada titipan untuk Gita, dari Galih, sebelum Galih pergi" Ucap Ibu Galih sambil memberikan sebuah amplop putih yang berisikan surat ungkapan hati Galih.
"Ibu pulang duluan yah Ta" Pamit Ibu Galih kepada Gita yang saat itu masih duduk disamping Batu nisannya.
Gita hanya mengangguk, yeng merasakan air matanya terus keluar membasahi pipinya.
Didepan makam Galih, Gita langsung membaca surat dari Galih.
"Dear Gita,
Banyak hal yang kita lewati bersama, sejak kecil lo udah buat hidup gue menjadi berarti.
Dulu saat Orangtua gue masih lengkap, gue merasa punya keluarga yang sempurna, karena ada elo sebagai pelengkap dihidup gue. Dan saat Tuhan panggil Bokap gue untuk pulang, Lo ada disamping gue, lo nguatin hidup gue. Gak tau harus dengan cara apa gue bersyukur sama Tuhan, karena menciptakan sosok sahabat seperti lo. Gita yang Bawel, Gita yang penuh dengan kejutan, Gita yang manja, Gita yang Ribet, Gita yang nyebelin, Gita yang selalu kasih gue arti dalam hidup.
Lo inget gak Ta, dulu pas SD kalo pulang sekolah, kita selalu balapan sepedah.
Kita balapan sepedah dari sekolah sampe rumah, gue gak pernah menang balapan sepeda sama lo, karena gue selalu ngalah, dan gara-gara itu lo marah sama gue, lo bilang lo gak mau dibilang anak cewek yang lemah, lo gak mau menang karena gue nya ngalah. Terus lo musuhin gue selama seminggu, sampe nyokap gue kerumah lu, cuma buat bikin lo baik lagi sama gue.
Waktu SMP setiap jam istirahat kita kekantin bareng, pas lagi rame-rame nya kita ngambilin bakwan nya pemilik kantin, tapi gak bayar, kita langsung lari, terus makan bakwan diem-diem didepan lapangan sekolah, sambil ketawa-ketawa. Terus pernah mau bolos gara-gara lo gak suka sama pelajaran matematika waktu itu. Pas kita lagi serius-seriusnya manjat tembok sekolah, tiba-tiba Bu Nur wakil kepala sekolah ngeliat kita lagi manjat diatas tembok sekolah, terus kita diteriakin disuruh turun dan di tunjuk- tunjuk pake pegangan pengki serokan sampah, besoknya kita disuruh lari ngiterin lapangan panas-panasan, terus disuruh hormat didepan tiang bendera.
Sejak dari situ, gue berusaha semampu gue buat belajar matematika, biar gue bisa ngajarin lo, dan elo gak perlu bolos lagi kalo ada pelajaran matematika. tapi berkat itu juga gue bisa ngabisin 1 harian bareng lo, cuma buat ngajarin lo matematika.
Pas SMA kita beda kelas, lo IPA 1 gue IPA 3.
Lo pacaran sama Bimar, cowok berengsek yang buat lo nangis-nangis ke gue, karena lo diputusin sama dia. Gak cuma Bimar, lo juga pacaran sama Dandi, sama tragisnya lo bahkan diselingkuhin terus lo cerita nangis-nangis lagi ke gue. Sejak dari situ gue berusaha menjadi yang terbaik buat lo.
Gue gak mau ada orang lain lagi yang dengan mudahnya nyakitin lo, bikin lo nangis, bikin lo sakit hati.
Tapi Tuhan berkata lain, waktu itu gue divonis kena kanker stadium lanjut, waktu SMA gue dirawat dirumah sakit, itu bukan karena kecapean. Tapi karena harus operasi pengangkatan sel kanker, kanker itu memang berhasil diangkat, tapi bukan menyembuhkan, melainkan menghambat perkembangan sel baru.
Semua cara gue lakuin buat lo Ta, Apapun yang lo mau dari gue, sebisa mungkin gue turutin.
Lo gak suka rambut gue gondrong, lo gak suka kalo gue gak ngabarin lo apapun situasinya, lo marah kalo gue gak ada waktu buat lo. Hampir setiap hari libur gue habisin bareng lo, walaupun sekedar main PS diruang tamu, nyanyi - nyanyi kayak orang gila, main monopoli yang kalah dicoret lipstik, ngeliat bintang dimalam hari sampe ketiduran, atau sekedar jalan dan makan.
Gue gak punya keberanian buat ungkapin isi hati gue, kalo gue sebenrnya SAYAAANG banget sama lo, Gue mau kita lebih dari sekedar sahabat. Tapi sepertinya sedikit pun lo gak pernah liat gue sebagai laki-laki yang lebih dari sekedar sahabat Ta, walaupun sebenernya gue yakin, lo pasti tau apa yang gue rasain tanpa gue harus bilang.
Sampai akhirnya Tuhan ngasih gue kejutan demi kejutan diujung perjalanan hidup gue.
Tuhan menghadirkan Dimas buat lo, awalnya gue cemburu, gue sakit hati tiap kali gue liat lo pergi sama Dimas.
Gue benci sama Lo Ta, kenapa lo gak pernah sadar sama perasaan gue.
Setelah Tuhan hadirkan Dimas buat lo, Tuhan kasih gue kejutan lainnya.
Kanker Otak stadium akhir yang tiba-tiba semakin ganas, kanker itu menggerogoti semua tubuh gue Ta. Dari mulai pendengaran Gue yang udah mulai gak berfungsi , Kaki gue yang semakin hari gak bisa gue gerakin, dan tubuh gue yang semakin hari, gak bisa gue angkat, tenaga gue mulai habis, makanya gue buru-buru tulis surat ini buat lo. Karena gue takut Mata gue juga akan gak berfungsi, dan tangan gue gak punya tenaga untuk menulis.
Tapi dengan adanya Dimas, gue bersyukur.
Mungkin itu cara Tuhan, untuk menggantikan gue sebagai pelindung lo.
mungkin itu cara Tuhan, untuk menggantikan gue sebagai laki-laki yang akan ngebahagiain hidup lo.
Jangan nangis Ta.
Seperti yang pernah gue bilang sebelumnya, saat gue pulang lo gak boleh nangis.
Jangan buat gue berat untuk ninggalin lo.
Lo harus jadi cewek yang kuat.
Gak boleh manja, gak boleh cengeng.
Kuliah yang bener, hidup dengan baik.
Orangtua lo pasti bangga, punyaa anak perempuan seperti lo.
Gue yakin kerja keras mereka selama ini diluar negri nyari uang buat lo, gak akan sia-sia.
Jangan pernah marah sama orangtua lo yang terlalu sibuk dengan karirnya, karena mereka seperti itu hanya untuk kebahagiaan lo, untuk mencukupi kehidupan lo, lo harus banyak bersyukur karena orangrtua lo .
Jangan tinggalin Sholat yah ta, kirim doa buat gue terus ya Ta.
Kalo lo kangen sama gue, lo keluar rumah terus lihat bintang diteras seperti yang biasa kita berdua Lakuin, Bintang yang paling terang itu adalaga Gue.
Gue akan menjadi bintang mulai sekarang, karena bintang gak akan ngebiarin langitnya sendirian.
Inget terus sama gue, walaupun kita udah gak akan ketemu lagi.
Titip Nyokap Gue ya Ta, Setelah Bokap meninggal, sekarang Gue yang harus nyusul Bokap duluan.
Terimakasih untuk 20 tahun ini, atas suka duka, manis dan getirnya kenyataan hidup yang kita lewatin sama-sama.
Terimakasih untuk 20 tahun ini, lo udah buat gue bersyukur atas apa yang Tuhan kasih dalam hidup gue.
Terimakasih untuk 20 tahun ini, lo udah menjadi sahabat buat gue.
dan Terimakasih sudah pernah menjadi Kekasih untuk Gue, walaupun hanya sebatas kekasih bayangan. Terimakasih untuk semuanya Ta.
Dan Selamat ulang tahun "Hanindya Gita Wiryasti" semoga Tuhan selalu melimpahkan kebahagiaan untuk mu. Mewujudkan Mimpimu untuk menjadi pengantin tercantik yang bersanding dengan seorang pangeran tampan yang mencintaimu. Tersenyumlah, Sambut hari baru mu bersama kehidupanmu yang baru.
Aku yang selalu dan akan selalu menyayangi dan mencintai Mu
- GALIH-
Tanpa sadar air mata Gita sudah membasahi pipinya,
Dimas yang saat itu melihat Gita menangis, langsung menghampiri dan memeluknya.
-The End-
Penulis : Destiara Karini
Pesan Singkat:
Pengorbanan bukan hanya sebuah Kata-kata
Tetapi perbuatan yang selalu kita lakukan,
tanpa harus diketahui atau dimengerti oleh orang lain.
Syukuri apapun yang ada disekitar kita,
Bahkan sahabat sekalipun Anugerah terindah
Yang Tuhan ciptakan dalam hidup kita
- Destiara Karini
Comments
Post a Comment